Istana Angkat Bicara soal Rencana Pembangunan PLTN

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 23:08 WIB
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji sejumlah negara untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji diterapkan di Indonesia untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI

 

PONTIANAK POST – Istana Kepresidenan angkat bicara mengenai pengembangan riset nuklir yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan riset nuklir pemerintah diarahkan terutama untuk kebutuhan energi dan kesehatan, termasuk kemungkinan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.

Prasetyo mengatakan pengembangan teknologi nuklir menjadi salah satu bagian dari riset yang mendapat perhatian pemerintah. Menurut dia, teknologi tersebut perlu diarahkan pada kebutuhan yang memberikan manfaat strategis bagi Indonesia.

“Kalau berkenaan dengan masalah nuklir, lebih fokus ke penelitian untuk kepentingan energi dan kesehatan. Misalnya, mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir dibangun di Indonesia atau peralatan alutsista berbahan nuklir, serta untuk kepentingan kesehatan, terutama medis,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto melihat langsung hasil riset dan inovasi BRIN dalam pameran di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8). Peneliti BRIN turut menjelaskan kesiapan teknologi untuk mendukung rencana pembangunan PLTN.

Prasetyo yang juga Juru Bicara Presiden mengatakan riset nuklir bukan satu-satunya bidang yang dipamerkan BRIN. Pemerintah juga melihat hasil penelitian di sektor kedirgantaraan, energi dan mineral, kesehatan, pangan, pertanian, transportasi, hingga kebencanaan.

Dalam pemaparan mengenai nuklir, peneliti BRIN menyebut Indonesia memiliki potensi uranium hingga 89.000 ton dan thorium sekitar 143.000 ton. Peneliti juga menyampaikan telah berhasil memurnikan uranium hingga tingkat 60 persen.

Potensi tersebut menjadi salah satu modal riset untuk mengembangkan teknologi nuklir di dalam negeri. Namun, pemanfaatannya untuk pembangkit listrik tetap membutuhkan kajian lebih lanjut terkait teknologi, keselamatan, ekonomi, lingkungan, dan regulasi.

Prasetyo mengatakan Presiden Prabowo ingin sumber daya riset nasional dikonsolidasikan agar tidak berhenti pada penelitian. Riset yang dikembangkan diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan negara.

“Tujuannya hanya satu, yaitu mengonsolidasikan dan menajamkan riset kita dengan tujuan untuk menghasilkan riset-riset yang langsung berdampak dan bisa menyelesaikan problem-problem yang dihadapi bangsa kita,” ujar Prasetyo.

Pertemuan Presiden dengan sekitar 150 peneliti BRIN tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat arah riset nasional. Salah satu bidang yang kini mendapat perhatian adalah teknologi nuklir untuk mendukung kebutuhan energi dan kesehatan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
energi nuklir Indonesia riset nuklir BRIN istana Prasetyo Hadi pembangunan PLTN