Kabut Asap Selalu Berulang, 2015 Jadi Tahun Terparah dalam Sejarah

Silvina • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 12:55 WIB
Pemandangan kabut asap yang sangat pekat. (DOK ANTARA)
Pemandangan kabut asap yang sangat pekat. (DOK ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Kabut asap bukan cerita baru bagi masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar). Setiap musim kemarau datang dengan kondisi kering, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui. Asap pekat, kualitas udara yang memburuk hingga terganggunya aktivitas warga menjadi potret yang berulang dari tahun ke tahun.

Sejarah mencatat, kabut asap di Kalbar tidak muncul secara tiba-tiba. Fenomena ini berkaitan erat dengan karhutla yang berulang, terutama ketika musim kemarau diperparah kondisi cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño. Pembukaan lahan secara masif, termasuk di kawasan ekosistem gambut, turut memperbesar risiko kebakaran.

Lantas, seberapa panjang sebenarnya jejak kabut asap yang pernah melanda Kalbar?

Baca Juga: Kabut Asap Mengancam Kesehatan, Ini 7 Langkah Penting untuk Melindungi Diri

Berikut informasi mengenai sejarah dan kejadian karhutla serta kabut asap yang dirangkum dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

1997–1998, Ketika Krisis Kabut Asap Menjadi Sorotan Dunia

Salah satu titik balik terbesar dalam sejarah karhutla dan kabut asap terjadi pada 1997–1998.

Baca Juga: Waspada ! Kabut Asap Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung, Ini Penjelasannya

Saat itu, fenomena El Niño yang sangat kuat membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami kondisi kering berkepanjangan. Kebakaran hebat melanda jutaan hektare lahan di Kalimantan dan Sumatra.

Asap dari kebakaran tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah terdampak. Kabut asap bahkan meluas hingga menjadi persoalan lintas batas di Asia Tenggara.

Peristiwa 1997–1998 kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah krisis kabut asap di kawasan tersebut.

Baca Juga: Terpapar Kabut Asap? Waspadai 4 Gejala Ini dan Segera  Cari Pertolongan

2006 dan 2013, Kabut Asap Kembali Menyeruak

Bencana kabut asap ternyata tidak berhenti pada krisis besar 1997–1998. Pada 2006 dan 2013, kondisi kemarau panjang kembali memicu peningkatan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Kebakaran yang terjadi menyebabkan asap menyelimuti sejumlah kawasan. Aktivitas masyarakat pun ikut terdampak, sementara gangguan terhadap penerbangan menjadi salah satu persoalan yang muncul ketika jarak pandang menurun akibat kabut asap.

Baca Juga: Kabut Asap Memburuk di Sarawak, Orang Tua Diminta Batasi Aktivitas Anak di Luar

Dua periode tersebut menunjukkan bahwa setelah mengalami kebakaran besar, ancaman karhutla tetap dapat kembali muncul ketika kondisi lingkungan mendukung terjadinya kebakaran.

2015, Tahun Ketika Kabut Asap Mencapai Titik Parah

Jika ada satu tahun yang masih kuat dalam ingatan masyarakat ketika membicarakan kabut asap, 2015 menjadi salah satunya.

Pada tahun tersebut, kebakaran hutan dan lahan terjadi dalam skala sangat luas. Secara nasional, sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Pelayaran, KSOP Sampit Minta Nakhoda Tunda Keberangkatan

Kalbar menjadi salah satu wilayah yang ikut menghadapi dampak karhutla. Kabut asap membuat kualitas udara memburuk secara drastis dan menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat.

Situasi saat itu bahkan berkembang menjadi persoalan darurat yang membutuhkan penanganan serius dari pemerintah dan berbagai pihak.

2019 dan 2023, Ancaman Itu Kembali

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Pelayaran, KSOP Sampit Minta Nakhoda Tunda Keberangkatan

Setelah 2015, kabut asap kembali menunjukkan bahwa persoalan karhutla belum benar-benar selesai.

Pada 2019, tahun yang kering kembali diikuti peningkatan ancaman karhutla dan kabut asap di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalbar.

Fenomena serupa kembali menjadi perhatian pada 2023. Ketika musim kemarau berlangsung dan kondisi lahan semakin kering, potensi kebakaran kembali meningkat.

Baca Juga: Kasus ISPA di Kubu Raya Mulai Naik akibat Kabut Asap Karhutla, Dinkes Prediksi Lonjakan Terjadi Pekan Depan

Patroli, pemantauan titik panas, pemadaman serta berbagai upaya penanganan darurat pun kembali diperketat.

Mengapa Kabut Asap Terus Berulang?

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan satu pola yang terus berulang. Ketika musim kemarau menjadi lebih kering, risiko karhutla meningkat. Kondisi tersebut dapat semakin parah ketika dipengaruhi fenomena El Niño.

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Kubu Raya, Polres Kubu Raya Bagikan 750 Masker

Ekosistem lahan gambut juga menjadi perhatian penting. Ketika gambut mengalami kekeringan, potensi terjadinya kebakaran menjadi lebih besar dan proses pemadamannya dapat menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, aktivitas pembukaan lahan juga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, penanganan kabut asap tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul.

Kabut Asap Bukan Sekadar Cerita Musim Kemarau

Baca Juga: Polres Kubu Raya Bersihkan Saluran Air ke Embung, Antisipasi Karhutla Saat Musim Kemarau 2026

Kilas balik perjalanan kabut asap di Kalbar menunjukkan bahwa persoalan ini telah berlangsung selama puluhan tahun.

Dari krisis besar 1997–1998, kebakaran berkala pada 2006 dan 2013, bencana besar 2015, hingga ancaman yang kembali muncul pada 2019 dan 2023, kabut asap seperti mengulang cerita yang sama setiap kali musim kering datang.

Pertanyaannya kini bukan sekadar kapan kabut asap kembali muncul, tetapi mengapa persoalan yang sama terus berulang dan apa yang bisa dilakukan agar sejarah tersebut tidak kembali terulang?

Baca Juga: Koramil Sungai Pinyuh Salurkan Air Bersih bagi Warga Terdampak Kemarau di Mempawah

Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masyarakat, pemerintah, dunia usaha hingga seluruh pemangku kepentingan memiliki peran untuk menjaga hutan dan lahan agar tidak kembali menjadi sumber bencana kabut asap.

Sebab, ketika asap sudah memenuhi udara, dampaknya tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, transportasi hingga kehidupan sehari-hari ikut menjadi taruhannya.

 

Editor : Silvina
jejak panjang kabut asap tahun 2015 asap terparah sejarah panjang kabut asap kabut asap