PONTIANAK POST – Keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah 2.957 porsi makanan ditarik dan dimusnahkan di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026). Makanan tersebut ditarik sebelum dikonsumsi penerima manfaat setelah ditemukan olahan ayam yang dinilai tidak layak konsumsi.
Menu yang disiapkan terdiri atas nasi putih, ayam rempah, tempe mendoan, sayur sawi dan wortel, serta buah anggur. Seluruh porsi dari distribusi terkait kemudian ditarik untuk mencegah risiko gangguan kesehatan.
Aroma dan Rasa Ayam Dinilai Tidak Normal
Kepala SPPG Insan Berlian Sejahtera Abra Yoda Raya mengatakan temuan bermula saat chef dan ahli gizi menyiapkan sekitar 2.000 porsi untuk batch kedua. Mereka melaporkan aroma dan rasa olahan ayam berbeda dari kondisi normal.
Menu tersebut kemudian dicicipi Abra. Tidak lama setelah mencicipinya, dia mengalami mual dan muntah sebanyak tiga kali.
“Dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua porsi kami tarik dan musnahkan. Indikasi masalah hanya ada pada olahan ayam, sementara bahan lain aman,” kata Abra.
Di SDN 2 Jati, kendaraan pengangkut MBG sempat tiba sekitar pukul 08.00. Namun, makanan tidak diturunkan dan armada kembali ke dapur SPPG setelah pengelola memutuskan distribusi dibatalkan.
549 Orang di Trenggalek Mengalami Keluhan
Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, persoalan MBG muncul setelah 549 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Mereka tersebar di tiga lokasi, yakni SMPN 1 Trenggalek, SDI Luqman Al Hakim, dan sejumlah posyandu di Kelurahan Tamanan.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek dr Sunarto merinci, 493 orang di SMPN 1 Trenggalek mengalami keluhan. Mereka terdiri atas 474 siswa dan 19 guru.
Dari jumlah tersebut, 78 orang masih mengeluhkan sakit hingga Kamis (13/8). Sebanyak 41 siswa juga tercatat tidak masuk sekolah.
Keluhan yang muncul antara lain nyeri atau mulas pada perut, mual, dan diare. Sebagian besar gejala disebut masih ringan dan tidak memerlukan perawatan inap.
“Gejalanya biasanya tidak berat, hanya kadang ada yang sedikit nyeri perut, kemudian mual, ada sedikit yang diare,” jelas Sunarto.
Keluhan Juga Dialami Siswa dan Kelompok Rentan
Di SDI Luqman Al Hakim, terdapat 30 orang yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG. Mereka terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik.
Sementara itu, 26 orang mendapat penanganan di lima posyandu. Mereka terdiri atas sembilan balita, tiga ibu hamil, empat ibu menyusui, dua kader, dan delapan anggota masyarakat lainnya.
Dugaan Keracunan Terjadi di Dua Daerah Lain
Insiden dugaan keracunan MBG juga dilaporkan di Banyumas, Jawa Tengah, dan Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Di Banyumas, sebanyak 165 siswa MAN 2 Banyumas dilaporkan mengalami sakit perut dan diare setelah mengonsumsi menu MBG pada Senin (10/8). Menu tersebut antara lain nasi putih, ayam dadu bumbu woku, tumis pokcoy jagung, orek tempe, dan buah anggur merah.
Di Kabupaten Karo, puluhan siswa SMAN 1 Berastagi juga diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Mereka dievakuasi untuk mendapatkan penanganan di RSU Efarina Etaham dan Puskesmas Berastagi.
Keamanan Pangan Jadi Perhatian Utama
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam setiap tahap penyediaan MBG. Penarikan 2.957 porsi di Karanganyar menjadi contoh tindakan pencegahan sebelum makanan dikonsumsi penerima manfaat.
Di sisi lain, keluhan kesehatan di Trenggalek, Banyumas, dan Karo masih memerlukan pemeriksaan untuk memastikan hubungan dengan menu MBG. Penyebab gangguan kesehatan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan munculnya keluhan setelah makan sebelum hasil investigasi dan pemeriksaan medis tersedia.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro