PONTIANAK POST – Jejak kebakaran hutan purba yang terjadi jutaan tahun lalu ditemukan dalam sedimen dasar Laut Mediterania. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan indikasi meningkatnya intensitas kebakaran hutan pada periode Miosen Akhir hingga Pliosen, sekitar 4–7 juta tahun lalu.
Temuan tersebut menunjukkan sedimen dasar laut dapat menjadi arsip alami untuk membaca perubahan iklim purba dan kondisi lingkungan Bumi pada masa lampau. Rekaman itu juga memperlihatkan hubungan antara perubahan iklim, vegetasi daratan, dan kebakaran hutan yang terjadi jutaan tahun lalu.
Sedimen Laut Jadi Arsip Perubahan Iklim
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Ita Wulandari memaparkan temuan tersebut dalam Oseanologi Talk Series ke-7 bertema Unraveling Ocean Variability: Past and Present Environment to Future Climate Dynamics, Kamis (6/8), di Jakarta.
Dalam presentasi bertajuk Reading Earth Environmental Story from the Mediterranean Sea Floor, Ita menjelaskan dasar laut menyimpan rekaman perubahan lingkungan selama jutaan tahun.
"Laut Mediterania menyimpan rekaman sejarah lingkungan Bumi yang sangat unik dan krusial. Melalui analisis biomarker geokimia organik pada sampel sediment core Laut Alboran hasil Ekspedisi IODP 401, kita dapat membaca kembali bagaimana iklim hangat purba, perubahan dinamika air dasar laut, hingga lonjakan kebakaran hutan di daratan terekam dalam molekul-molekul organik," ujar Ita.
Kebakaran Hutan Terekam dari Senyawa Kimia
Salah satu periode yang menjadi perhatian penelitian adalah Messinian Salinity Crisis (MSC), sekitar lima juta tahun lalu. Pada masa tersebut, Laut Mediterania mengalami pengeringan besar-besaran dan menghasilkan endapan garam halite yang ketebalannya hampir 1,5 kilometer.
Untuk merekonstruksi kondisi lingkungan saat itu, tim peneliti mengekstraksi dan memurnikan sampel sedimen. Sampel kemudian dipisahkan menjadi fraksi alifatik dan aromatik sebelum dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan GC-MS/MS.
Hasil analisis menunjukkan materi organik dalam sedimen masih belum matang secara termal (immature). Kondisi tersebut memungkinkan biomarker purba tetap terawetkan sehingga dapat digunakan untuk membaca perubahan lingkungan jutaan tahun lalu.
Lima Senyawa Jadi Indikator Kebakaran
Analisis GC-MS mengidentifikasi sekitar 100 senyawa aromatik pada setiap sampel sedimen. Peneliti menemukan peningkatan konsentrasi lima proksi Pyrogenic Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) sebagai penanda utama:
-
Coronene
-
Benzo(a)pyrene
-
Triperylene
-
Chrysene
-
Benzo(bjk)fluoranthene
Peningkatan kelima senyawa tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya frekuensi kebakaran hutan purba pada fase ketiga Messinian Salinity Crisis.
Vegetasi Daratan Ikut Terekam
Selain jejak kebakaran, penelitian menemukan tingginya kandungan biomarker retene dan cadalene. Senyawa tersebut menunjukkan dominasi material organik yang berasal dari vegetasi daratan.
Ita mengatakan material tersebut terutama berkaitan dengan kelompok gymnospermae, termasuk tumbuhan berkayu seperti konifer. Material vegetasi tersebut terbawa ke laut ketika kondisi iklim pada masa itu hangat dan lembap.
"Tingginya kelimpahan biomarker seperti retene dan cadalene mengonfirmasi dominasi masukan vegetasi darat tingkat tinggi, khususnya gymnospermae, yang terbawa ke laut pada kondisi iklim hangat dan lembap saat itu," jelas Ita.
Dasar Laut Berubah dari Minim Oksigen
Penelitian juga menemukan perubahan kondisi lingkungan di dasar Laut Mediterania. Berdasarkan rasio pristane/phytane, lingkungan dasar laut bertransisi dari kondisi anoksik (minim oksigen) pada periode Messinian menjadi lebih kaya oksigen (oksik) pada kala Pliosen.
Perubahan tersebut menambah informasi mengenai dinamika lingkungan laut yang terjadi bersamaan dengan perubahan iklim dan kondisi daratan. Dengan demikian, sedimen tidak hanya merekam perubahan laut, tetapi juga peristiwa yang terjadi di daratan sekitarnya.
Penelitian Dilanjutkan di Australia
Untuk memperdalam temuan tersebut, Ita memperoleh hibah riset internasional dari Elsevier. Pada November 2026, ia bersama tim akan melakukan analisis isotop karbon stabil menggunakan metode Compound-Specific Isotope Analysis (CSIA) di Curtin University, Australia.
Analisis tersebut akan digunakan untuk memastikan sumber senyawa perylene. Peneliti ingin mengetahui apakah senyawa tersebut berasal dari aktivitas jamur pengurai kayu (wood-degraded fungi) atau turut dipengaruhi kontribusi alga laut.
"Analisis CSIA ini penting untuk memastikan sumber senyawa perylene, apakah berasal dari aktivitas jamur pengurai kayu atau juga dipengaruhi oleh kontribusi alga laut," pungkas Ita.
Pelajaran dari Kebakaran Hutan Jutaan Tahun Lalu
Temuan BRIN memperlihatkan bahwa kebakaran hutan bukan peristiwa yang berdiri sendiri dalam sistem lingkungan. Jejaknya dapat tersimpan dalam sedimen laut dan menjadi bagian dari rekaman hubungan antara iklim, vegetasi, daratan, dan lautan.
Rekaman lingkungan jutaan tahun lalu tersebut menjadi bahan penting untuk memahami dinamika sistem iklim Bumi. Data masa lalu juga dapat membantu peneliti melihat bagaimana lingkungan merespons perubahan iklim dalam skala geologi.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro