Bappenas dan PT PAL Segera Susun Peta Jalan Industri Maritim Nasional

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:51 WIB
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod saat berjumpa Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy di Gedung Bappenas, Jakarta. (ANTARA/HO- (Bappenas)
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod saat berjumpa Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy di Gedung Bappenas, Jakarta. (ANTARA/HO- (Bappenas)

PONTIANAK POST - Pemerintah bersama PT PAL Indonesia segera menyusun peta jalan industri maritim nasional untuk mengatur pembagian fokus antar-galangan serta memperkuat industri maritim dalam negeri.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan peta jalan tersebut akan mencakup penguatan PT PAL pada sektor militer dan pertahanan serta peningkatan keterlibatan galangan lain dalam sektor sipil.

“Segera kita bentuk tim bersama untuk penyusunan roadmap industri maritim,” ucap Rachmat saat bertemu Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod, seperti dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Menurut Rachmat, pengembangan industri maritim perlu dilakukan secara terintegrasi karena sektor tersebut menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong penguasaan teknologi tinggi.

Bappenas juga akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk merencanakan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan penguatan industri maritim nasional.

Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat konsolidasi industri maritim nasional dengan memperkuat posisi PT PAL Indonesia sebagai National Consolidator dan Lead Integrator.

Konsolidasi Galangan Nasional

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan konsolidasi industri maritim perlu dilakukan secara menyeluruh karena pembangunan kapal memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor pendukung, seperti dermaga, infrastruktur maritim, logistik, dan industri komponen.

“Industri maritim merupakan salah satu industri induk yang mendorong berbagai sektor industri lainnya,” ujar Kaharuddin.

Salah satu skenario yang didorong adalah pemesanan kapal melalui PT PAL yang kemudian pengerjaannya dapat dibagikan kepada galangan-galangan lain di dalam negeri. Skema tersebut dapat dilakukan melalui bundling dengan memanfaatkan produk, desain, dan teknologi PT PAL.

Skema itu dinilai sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mempercepat konsolidasi industri maritim nasional sekaligus mengembangkan pasar.

Dalam skema tersebut, PT PAL berperan sebagai integrator kebutuhan, desain, teknologi, dan kapasitas produksi, sementara pengerjaan kapal dapat melibatkan galangan nasional lainnya.

Kaharuddin mengatakan PT PAL telah melakukan transformasi selama lima tahun terakhir untuk mendukung peran tersebut. Salah satu hasilnya adalah peningkatan kapasitas produksi, dengan docktime Frigate Merah Putih yang berhasil dipangkas dari 22 bulan menjadi 8 bulan.

Sementara itu, Landing Dock Filipina dapat mencapai tahap peluncuran dalam waktu enam bulan.

Selain kapasitas produksi, PT PAL juga mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk unmanned submarine berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikenal sebagai Kapal Selam Otonom (KSOT).

“Pengembangan industri maritim tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi kapal, tetapi juga penguatan ekosistem dan penguasaan teknologi tinggi,” kata Kaharuddin. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
galangan Industri Maritim pt pal Peta Jalan