Jangan Heran, Nyamuk Makin Banyak di Rumah Saat Musim Kemarau

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:27 WIB
PANTAU JENTIK: Ilustrasi pemantauan jentik-jentik nyamuk. Pemantauan jentik–jentik secara berkala menjadi salah satu upaya dalam pemberantasan nyamuk Aedes aegypti.
PANTAU JENTIK: Ilustrasi pemantauan jentik-jentik nyamuk. Pemantauan jentik–jentik secara berkala menjadi salah satu upaya dalam pemberantasan nyamuk Aedes aegypti.

 

PONTIANAK POST – Fenomena El Nino yang memicu kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air. Kebiasaan masyarakat menampung air di berbagai wadah selama periode kekeringan juga dapat menciptakan tempat berkembang biak nyamuk pembawa penyakit.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi dapat menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit menular. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak tersebut.

Peneliti Pusat Riset Komputasi (PRK) BRIN Arief Rahman Hakim mengatakan bencana dan perubahan iklim tidak selalu menyebabkan penyakit secara langsung. Namun, kondisi lingkungan yang muncul setelah bencana dapat meningkatkan risiko penularan.

“Bencana alam dan perubahan iklim mungkin tidak secara langsung berdampak ke penyebaran penyakit, tetapi kondisi yang ditimbulkannya dapat memperbesar risiko penularan,” ujar Arief saat memaparkan hasil riset kepada mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) di BRIN KST Samaun Samadikun, Bandung, Selasa (13/1) dilansir dari web BRIN.

Saat Kekeringan, Air Tampungan Bisa Jadi Masalah

Kekeringan membuat masyarakat mencari cara untuk memastikan kebutuhan air tetap tersedia. Salah satunya dengan menyimpan air dalam ember, bak, drum, atau wadah lainnya.

Menurut Arief, wadah-wadah tersebut dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk apabila tidak dikelola dengan baik. Kondisi itu meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk dengue dan malaria.

Risiko semakin besar ketika air dibiarkan dalam kondisi terbuka. Telur dan larva nyamuk dapat berkembang di genangan air yang tersedia di sekitar permukiman.

Iklim Bukan Satu-satunya Faktor

Arief menekankan bahwa perubahan iklim dan bencana tidak serta-merta menyebabkan seseorang terinfeksi penyakit. Ada rangkaian kondisi lingkungan yang membuat peluang penularan menjadi lebih tinggi.

Selain ketersediaan genangan, peningkatan suhu dan kelembapan udara dapat memengaruhi perkembangan patogen maupun vektor penyakit. Karena itu, perubahan kondisi lingkungan perlu diperhitungkan dalam upaya pencegahan penyakit.

Risiko juga muncul setelah bencana lain. Gempa bumi dan tanah longsor, misalnya, dapat mengganggu sistem sanitasi serta kualitas air bersih sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.

Anak-anak Jadi Kelompok yang Lebih Rentan

Dampak perubahan lingkungan menjadi perhatian khusus karena anak-anak memiliki sistem imun yang masih berkembang. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit menular.

“Anak-anak menjadi fokus kajian karena sistem imun mereka masih berkembang, sehingga lebih mudah terpapar penyakit menular,” jelas Arief.

Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus penyakit sudah meningkat. Lingkungan tempat tinggal, terutama sumber air dan wadah penampungan, perlu mendapat perhatian sejak kondisi kekeringan mulai terjadi.

Riset BRIN Cari Pola Kenaikan Kasus

Arief mengembangkan pemodelan untuk memprediksi jumlah kasus penyakit menular pada anak dengan memasukkan faktor bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Penelitian menggunakan data kasus diare, dengue haemorrhagic fever (DHF), dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak di Jakarta. Kelompok usia yang diteliti mencakup bayi hingga 19 tahun.

Data kesehatan tersebut kemudian dianalisis bersama data bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Peneliti menggunakan pendekatan statistik deret waktu (time series) untuk melihat pola dan tren kasus dari waktu ke waktu.

Hasil pemodelan menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kasus penyakit menular pada masa mendatang. Temuan itu kemudian diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem peringatan dini (early warning system).

Peringatan Dini untuk Hadapi Perubahan Iklim

Menurut Arief, pemodelan matematika dan statistika dapat membantu memetakan potensi peningkatan penyakit sebelum lonjakan kasus terjadi.

Sistem peringatan dini dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu pemerintah dan sektor kesehatan melakukan antisipasi. Informasi mengenai potensi kenaikan kasus dapat digunakan untuk memperkuat pengawasan dan langkah pencegahan.

“Riset ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan model matematika dan statistika dalam menjawab persoalan tentang kesehatan masyarakat,” kata Arief.

Yang Bisa Dilakukan Saat Kekeringan

Ketika harus menampung air selama kekeringan, masyarakat perlu memastikan wadah penyimpanan tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Wadah air sebaiknya ditutup rapat dan diperiksa secara berkala. Bagian rumah dan lingkungan yang memungkinkan menampung air juga perlu dikuras atau dibersihkan secara rutin.

Langkah sederhana tersebut penting karena pengendalian tempat berkembang biak nyamuk dapat dilakukan sejak tingkat rumah tangga.

FAQ

Bagaimana El Nino dapat meningkatkan risiko penyakit?

El Nino dapat memicu kekeringan. Ketika masyarakat menampung air, wadah yang tidak tertutup atau tidak dibersihkan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa penyakit.

Apakah El Nino langsung menyebabkan dengue atau malaria?

Tidak secara langsung. Menurut peneliti BRIN, perubahan kondisi lingkungan akibat bencana dan perubahan iklim dapat meningkatkan kondisi yang mendukung penularan penyakit.

Mengapa anak-anak lebih rentan?

Anak-anak menjadi kelompok perhatian karena sistem imun mereka masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap penyakit menular.

Apa yang perlu dilakukan saat menampung air?

Wadah air perlu ditutup dan dibersihkan secara rutin. Lingkungan sekitar rumah juga harus diperiksa agar tidak terdapat genangan yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
tampung air dengue malaria kekeringan penyakit menular