PONTIANAK POST – Pilihan anak muda dalam menjalani hidup kini tidak sepenuhnya lahir dari keinginan pribadi. Algoritma media sosial, tekanan ekonomi, perubahan nilai, dan perkembangan teknologi ikut membentuk cara generasi muda memilih gaya hidup, pekerjaan, hubungan, hingga masa depan.
Pengaruh tersebut membuat keputusan seperti menunda pernikahan, bekerja di sektor informal, mengejar pengalaman, atau memilih menyewa rumah dibanding membeli properti tidak bisa selalu dilihat sebagai persoalan preferensi individu.
Persoalan itu dibahas dalam Diseminasi dan Bedah Buku Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah: Kompleksitas, Kerentanan, dan Upaya Menemukan Arah yang digelar Pusat Riset Kependudukan (PRK) BRIN di Jakarta, Kamis (13/8).
Algoritma Membentuk Cara Anak Muda Melihat Dunia
Periset PRK BRIN Sari Kistiana mengatakan keterbukaan informasi telah memperluas pilihan anak muda sekaligus mengubah cara mereka memandang hubungan, keluarga, dan masa depan.
“Dengan keterbukaan informasi ini ada pertukaran ide, pertukaran nilai, dan juga pertukaran gaya hidup,” ujarnya.
Arus informasi tersebut semakin kuat melalui media sosial. Konten yang muncul berulang kali dapat memperkenalkan standar tertentu mengenai kecantikan, kesuksesan, hubungan, pekerjaan, hingga cara menikmati hidup.
“Era digital itu sebenarnya membentuk pilihan generasi muda, bagaimana mereka mencintai, bagaimana mereka berbelanja, dan bagaimana mereka memaknai masa depan,” kata Sari.
Sebagai informasi, intensitas penggunaan media sosial di Indonesia tergolong tinggi. Laporan Digital 2025 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater mencatat terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Februari 2025, sementara pengguna internet usia 16–64 tahun menghabiskan rata-rata 3 jam 8 menit per hari di media sosial.
Tingginya intensitas tersebut menjadi konteks penting ketika media sosial semakin berperan dalam membentuk cara anak muda melihat gaya hidup, konsumsi, hubungan, dan masa depan. Data GWI yang dikutip DataReportal juga menunjukkan kelompok usia 16–24 tahun termasuk pengguna media sosial dengan durasi tinggi; perempuan pada kelompok usia tersebut menghabiskan hampir tiga jam sehari di platform sosial secara global.
Dari Cara Berbelanja hingga Memilih Pasangan
Pengaruh digital tidak berhenti pada konsumsi. Toko daring, iklan, endorsement pemengaruh digital, dan perbandingan sosial membuat anak muda terus berhadapan dengan berbagai gambaran mengenai kehidupan yang dianggap ideal.
Di satu sisi, teknologi memperluas akses terhadap informasi dan pengalaman. Namun, di sisi lain, algoritma dapat membuat seseorang terus melihat konten yang sesuai dengan minat dan perilakunya.
Situasi tersebut berpotensi mempersempit cara seseorang melihat pilihan karena standar yang sama terus muncul di layar.
Menunda Nikah Bukan Semata Takut Berkomitmen
Perubahan nilai juga terlihat dalam cara anak muda memandang pernikahan. Jika dahulu menikah sering dikaitkan dengan kedewasaan dan keberhasilan hidup, kini keputusan tersebut semakin dipengaruhi pendidikan, karier, pendapatan, biaya hidup, dan pengalaman pribadi.
Pengalaman melihat hubungan yang tidak sehat juga dapat memengaruhi cara anak muda memandang kehidupan berumah tangga. Pembagian peran antara pasangan menjadi pertimbangan lain yang semakin diperhatikan.
Karena itu, keputusan menunda pernikahan tidak tepat jika hanya dilihat sebagai ketakutan terhadap komitmen. Pilihan tersebut juga berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perubahan nilai yang dihadapi generasi muda.
Mengapa Anak Muda Memilih Pengalaman daripada Rumah?
Pilihan generasi muda untuk mengutamakan perjalanan, pengalaman, atau konsumsi tertentu dibanding membeli rumah juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi struktural.
Akademisi Universitas Katolik Atma Jaya Andina Dwifatma mengingatkan agar perilaku Generasi Z tidak hanya dinilai dari sisi individu. Harga hunian yang tinggi dan sulitnya mencapai keamanan ekonomi ikut menentukan pilihan mereka.
“Persoalan struktural perlu lebih kita address (atasi) dibandingkan dengan terus menghajar individunya,” ujarnya.
Artinya, ketika anak muda dianggap boros atau tidak memiliki orientasi masa depan karena lebih memilih konsumsi berbasis pengalaman, kondisi ekonomi yang melatarbelakangi keputusan tersebut juga perlu dilihat.
Anak Muda Tidak Bisa Disamaratakan
Generasi muda bukan kelompok yang homogen. Kelas sosial, gender, pendidikan, wilayah tempat tinggal, kondisi disabilitas, dan sumber daya keluarga membuat ruang pilihan setiap anak muda berbeda.
Karena itu, gambaran tentang “anak muda sukses” yang berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan mapan, membeli rumah, dan menikah pada usia tertentu tidak dapat digunakan untuk mewakili seluruh generasi.
Pilihan seseorang selalu berkaitan dengan kesempatan yang tersedia dan kemampuan untuk menjangkaunya.
Pilihan Pemuda Penyandang Disabilitas Lebih Terbatas
Perbedaan ruang pilihan semakin terlihat pada pemuda penyandang disabilitas. Periset PRK BRIN Mochammad Wahyu Ghani mengatakan pekerjaan bagi mereka bukan hanya persoalan memperoleh penghasilan.
Pekerjaan juga berkaitan dengan kemandirian, aktualisasi diri, dan kesempatan untuk berpartisipasi secara setara dalam kehidupan sosial.
“Mereka juga ingin mendapatkan wujud aktualisasi diri, bisa mandiri, tidak menyusahkan keluarganya, dan bisa ikut berpartisipasi di dalam kehidupan sosial yang setara,” jelasnya.
Namun, diskriminasi, fasilitas yang tidak aksesibel, keterbatasan pendidikan, lemahnya pendataan, dan minimnya representasi dalam pengambilan keputusan masih menjadi hambatan.
“Partisipasi itu bukan hadiah. Itu hak dari mereka,” tegas Ghani.
Yang Perlu Dipahami Bukan Hanya Pilihannya
Beragam pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pilihan hidup anak muda tidak lahir di ruang kosong. Kondisi ekonomi, teknologi, keluarga, norma sosial, dan akses terhadap kesempatan ikut menentukan pilihan yang tersedia.
Karena itu, memahami generasi muda tidak cukup dengan mempertanyakan apa yang mereka pilih. Yang lebih penting adalah melihat apakah pilihan tersebut benar-benar tersedia, terjangkau, aman, dan dapat dijalani secara setara.
Kepala PRK BRIN Ali Yansyah Abdurrahim menilai dinamika pemuda perlu dilihat secara utuh. Ketidakpastian kerja, perubahan sosial budaya, serta kondisi kelompok minoritas dan marginal saling berkelindan dalam membentuk pengalaman generasi muda.
“Perspektif kependudukan juga perlu memberi perhatian pada aspek keadilan, terutama bagi kelompok minoritas dan marginal yang kerap luput dari perhatian,” tegas Ali.
Pada akhirnya, persoalan anak muda bukan sekadar tentang apakah mereka memilih menikah atau menunda, membeli rumah atau mengejar pengalaman, bekerja formal atau informal. Di balik setiap pilihan, ada kondisi ekonomi, teknologi, keluarga, dan struktur sosial yang ikut menentukan seberapa luas ruang gerak mereka.
FAQ
Apakah algoritma media sosial menentukan pilihan anak muda?
Algoritma bukan satu-satunya faktor. Namun, algoritma dapat memengaruhi informasi dan konten yang terus diterima pengguna sehingga ikut membentuk persepsi mengenai gaya hidup, konsumsi, hubungan, dan masa depan.
Mengapa banyak anak muda menunda pernikahan?
Keputusan menunda pernikahan dapat dipengaruhi pendidikan, karier, kestabilan pendapatan, biaya hidup, pengalaman relasi, dan perubahan pandangan mengenai pembagian peran dalam rumah tangga.
Mengapa Generasi Z sering dianggap konsumtif?
Perilaku konsumsi perlu dilihat bersama kondisi struktural seperti harga hunian, ketidakpastian ekonomi, serta pengaruh media sosial dan industri digital. Tidak semua anak muda memiliki kondisi dan pilihan yang sama.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro