PONTIANAK POST – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran TNI dan Polri turun langsung mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Khusus di Kalbar, Prabowo menugaskan Panglima TNI dan Kapolri memimpin upaya penanganan bersama pemerintah daerah.
Instruksi itu menjadi tindak lanjut atas kondisi karhutla di Kalbar yang terus meluas. Berdasarkan data BPBD Kalbar, kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 38.310,86 hektare.
Prabowo bahkan datang langsung ke Kalimantan Barat, Sabtu (22/7/2026). Presiden tiba di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, sekitar pukul 10.50 WIB untuk meninjau penanganan karhutla dari dekat.
Prabowo Minta TNI dan Polri Turun Langsung
Setibanya di Kalbar, Prabowo langsung menuju Lanud Supadio. Dari lokasi tersebut, Presiden melakukan patroli udara menggunakan helikopter untuk memantau sejumlah kawasan yang terdampak kebakaran.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan kunjungan Presiden tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Prabowo sehari sebelumnya kepada jajaran TNI dan Polri agar mempercepat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.
"Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Presiden sehari sebelumnya kepada jajaran TNI dan Polri untuk mempercepat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan," kata Teddy di Jakarta, Sabtu.
Dalam arahannya, Prabowo meminta pimpinan TNI dan Polri tidak hanya memantau perkembangan dari pusat. Mereka diminta turun langsung ke daerah terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan agar penanganan kebakaran dapat berlangsung lebih cepat dan efektif, terutama di wilayah yang memiliki luasan karhutla cukup besar.
Panglima TNI dan Kapolri Ditugaskan untuk Kalbar
Presiden membagi tugas penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan kepada jajaran TNI dan Polri.
Untuk Kalimantan Barat, Panglima TNI dan Kapolri mendapat tugas memimpin penanganan bersama pemerintah daerah. Penugasan langsung dari Presiden ini menempatkan penanganan karhutla Kalbar sebagai salah satu perhatian utama pemerintah.
Prabowo didampingi Kapolri dan sejumlah pejabat terkait dalam kunjungannya. Patroli udara dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi lapangan sekaligus mengidentifikasi titik-titik yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Karhutla Kalbar Sudah Melalap 38 Ribu Hektare
Besarnya tantangan yang dihadapi terlihat dari luas kebakaran yang tercatat sejak awal tahun.
BPBD Kalbar mencatat karhutla periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare. Sejumlah kabupaten menjadi perhatian karena memiliki luasan kebakaran yang signifikan dan berkontribusi terhadap munculnya kabut asap.
Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, mencapai 12.443 hektare. Angka tersebut menunjukkan Ketapang menyumbang hampir sepertiga dari total luas karhutla yang tercatat di Kalimantan Barat.
Kubu Raya berada di urutan berikutnya dengan 8.614 hektare, disusul Mempawah seluas 6.144 hektare dan Sambas 2.318 hektare.
Penanganan Cepat Menjadi Taruhan
Instruksi Prabowo kepada Panglima TNI dan Kapolri menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menjadi persoalan pemerintah daerah. Luasnya wilayah terdampak dan ancaman kabut asap membuat penanganan membutuhkan pengerahan sumber daya lintas instansi.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak, percepatan pemadaman menjadi kebutuhan mendesak. Api yang terus meluas tidak hanya mengancam hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga.
Dengan penugasan langsung dari Presiden, koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, dan unsur terkait diharapkan semakin diperkuat untuk menekan perluasan kebakaran.
Kunjungan Prabowo melalui patroli udara juga menjadi langkah untuk memastikan pemerintah memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi karhutla di lapangan. Hasil pemantauan tersebut diharapkan menjadi dasar percepatan penanganan di titik-titik yang dinilai paling membutuhkan intervensi.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro