PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, masih berkobar hingga Sabtu siang dan terus merembet ke sejumlah area di kawasan konservasi tersebut.
Kapolres Lampung Timur AKBP Yulianayah mengatakan kebakaran terjadi di lokasi Jati 3, Resort Kuala Penet, SPTN Wilayah III Kuala Penet, Kecamatan Braja Selebah.
“Api masih berkobar dan merembet dari posisi awal di lokasi Jati 3 ke arah Rawa Mbah Sapon, Grid 7S,” katanya saat dikonfirmasi di Lampung Selatan, Sabtu.
Menurut Yulianayah, petugas masih kesulitan memadamkan api karena kobaran cukup besar dan tinggi. Kondisi angin yang kencang juga menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Selain itu, keterbatasan peralatan dan medan yang sulit turut menghambat penanganan. Lokasi kebakaran tidak dapat dijangkau kendaraan sehingga mobilisasi personel dan peralatan pemadam menjadi lebih sulit.
“Upaya pemadaman sementara dilakukan secara manual. Api masih belum bisa dipadamkan,” ujarnya.
673,4 Hektare Terdampak
Berdasarkan laporan sementara, kawasan TNWK yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 673,4 hektare.
Petugas gabungan masih berupaya memadamkan api sekaligus mengendalikan kobaran agar tidak meluas ke kawasan konservasi lainnya. Laporan lengkap mengenai perkembangan kebakaran masih menunggu hasil pemantauan dan penanganan petugas di lapangan.
“Kami masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan,” katanya.
Pemadaman melibatkan 14 personel Polisi Kehutanan (Polhut) dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), 10 personel Polsek Braja Selebah, serta lima personel TNI dari Koramil Way Jepara.
Petugas menggunakan tangki semprot manual Alpa dan gepyok kayu untuk mengendalikan kobaran api.
Kepala Balai TN Way Kambas MHD Zaidi mengatakan pemadaman dilakukan bersama petugas balai dengan melibatkan unsur TNI-Polri dan relawan.
“Saat ini tim gabungan baik dari balai dibantu TNI-Polri serta relawan masih melakukan upaya pemadaman,” kata dia.
Zaidi mengatakan salah satu kendala dalam proses pemadaman adalah akses menuju lokasi yang sulit dilalui kendaraan.
“Masih dalam proses pendataan. Ada beberapa kendala memang, di antaranya akses yang sulit dilalui oleh kendaraan,” ujar dia.
Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran di kawasan konservasi tersebut masih perlu diwaspadai karena kondisi vegetasi yang mengering dapat mempercepat penyebaran api. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara