PONTIANAK POST – Presiden Prabowo Subianto menjanjikan kembali ke Jombang untuk menghadiri penutupan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Agustus mendatang. Syaratnya, dia meminta kartu anggota NU yang sejak lama disebut belum dimilikinya.
“Kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31,” kata Prabowo dalam pembukaan Muktamar Ke-35 NU di Lapangan Untung Suropati, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).
Sebelumnya, Prabowo dengan nada bercanda menyinggung Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengenai kartu anggota tersebut.
“Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU. Jadi, masih utang sama saya,” ujar Prabowo yang disambut tawa hadirin.
Di balik candaan tersebut, Prabowo menyampaikan penghormatan terhadap sejarah panjang NU dan peran ulama dalam perjuangan bangsa. Dia juga memaparkan sejumlah program pemerintah di hadapan peserta muktamar.
Dari “Jas Merah” ke “Jas Hijau”
Prabowo mencontohkan lagu Ya Lal Wathon karya KH Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Menurut Prabowo, lagu tersebut ditulis sebelum Indonesia merdeka dan mencerminkan kecintaan terhadap tanah air.
Presiden kemudian mengingatkan kembali peran kiai dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam Perang Surabaya pada November 1945.
Jika selama ini masyarakat mengenal ungkapan Bung Karno, “Jas Merah” atau jangan sekali-sekali melupakan sejarah, Prabowo menyampaikan istilah lain.
“Saya ingin menyampaikan Jas Hijau: jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama,” katanya.
Prabowo kemudian mengaitkan kekuatan NU dengan kondisi Indonesia.
“NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU bermartabat, Indonesia bermartabat,” ujarnya.
Sekolah NU Dijanjikan Layar Interaktif
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung persoalan pendidikan. Dia meminta maaf karena baru mengetahui masih banyak sekolah di bawah naungan NU yang belum memperoleh layar interaktif dari pemerintah.
Prabowo menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan administrasi. Dia memastikan sekolah-sekolah NU akan mendapatkan perangkat pembelajaran tersebut.
Yenny Wahid Minta Muktamar Bahas Persoalan Umat
Di tengah penghormatan terhadap sejarah NU tersebut, putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid, memberikan masukan agar Muktamar tidak berhenti pada seremoni organisasi.
Yenny berharap forum tersebut fokus membahas persoalan substantif keumatan. Menurut dia, Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum penting untuk mengembalikan marwah organisasi sekaligus memperkuat kontribusi nyata ulama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Dalam kondisi tersebut, kata Yenny, NU dan para ulama sangat dinantikan untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat. NU juga diharapkan mampu memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah.
“Muktamar harus melahirkan keputusan strategis yang langsung berdampak nyata pada kesejahteraan warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” kata Yenny di depan arena pembukaan.
50 Ribu Nahdliyin Diperkirakan Datang
Ketua Panitia Pelaksana Muktamar Ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan kegiatan tersebut diikuti jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan.
Selain peserta resmi, panitia memperkirakan lebih dari 50 ribu warga Nahdliyin datang ke Jombang untuk meramaikan muktamar.
Besarnya jumlah peserta dan pengunjung itu membuat aktivitas ekonomi masyarakat setempat ikut bergerak.
Salah satunya dirasakan pedagang merchandise Muktamar NU, Sholeh, 33 tahun. Dia mulai membuka lapak sejak Sabtu (22/8) di kawasan KH Wahab Chasbullah, Tembelang, Jombang.
Kaus Muktamar Jadi Primadona
Sholeh menjual berbagai suvenir, mulai gantungan kunci hingga kaus dengan desain khusus Muktamar NU.
Kaus berlambang dan bertuliskan Muktamar NU menjadi barang yang paling banyak diburu. Dalam sehari, dia bisa menjual sekitar 25–40 potong dengan harga Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per kaus.
“Rabu (26/8) dan hari ini (27/8) mulai makin ramai. Mungkin karena para muktamirin sudah pada berdatangan. Semoga sampai akhir muktamar nanti seluruh dagangan bisa laku terjual habis,” kata Sholeh.
Di sepanjang Jalan KH Wahab Chasbullah, yang berjarak sekitar 100 meter dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum sebagai arena utama Muktamar Ke-35 NU, ratusan pedagang berjajar.
Mereka menawarkan beragam barang, mulai suvenir hingga makanan dan minuman.
Sarung Motif Muktamar Ikut Laris
Pedagang sarung Muhammad Efendi Riski, 25 tahun, juga merasakan peningkatan pembeli. Pedagang asal Ploso, Jombang, itu mengaku memperoleh omzet Rp7 juta hingga Rp8 juta sejak Rabu (26/8) hingga Kamis (27/8).
Ratusan sarung dengan berbagai motif disebut telah terjual. Sarung dengan motif khusus Muktamar NU menjadi salah satu yang paling diminati.
“Mungkin karena motif khusus tersebut memang tidak dijual di toko lain,” kata Riski.
Bagi Riski, keuntungan dari ramainya muktamar bukan satu-satunya harapan. Dia juga berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar.
“Kalau situasi kondusif, kami yang berdagang bisa tenang dan warga yang belanja pun merasa nyaman. Semoga cuaca juga terus mendukung dan cerah,” ujarnya.
Muktamirin Dongkrak Hunian dan Usaha Warga
Dampak ekonomi tidak hanya dirasakan pedagang suvenir dan kuliner. Hotel dan penginapan di Jombang serta wilayah sekitarnya disebut penuh selama kedatangan muktamirin.
Sebagian warga bahkan memilih tinggal sementara di rumah kerabat karena rumah mereka disewakan kepada peserta muktamar.
Besarnya arus peserta membuat Muktamar Ke-35 NU menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Di satu sisi, forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan arah NU dan persoalan keumatan.
Di sisi lain, kedatangan puluhan ribu warga Nahdliyin menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat Jombang, dari pemilik penginapan hingga pedagang kecil.
Perjalanan Cinta dari Musi Rawas
Antusiasme warga terhadap Muktamar juga terlihat dari perjalanan Arif Hidayat. Pria 56 tahun itu menempuh lebih dari 1.500 kilometer menggunakan sepeda ontel dari Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, menuju Jombang.
Perjalanan tersebut ditempuh sekitar 14 hari.
“Ini bukan sekadar perjalanan, ini perjalanan cinta kepada NU,” kata Gus Ipul saat menceritakan perjalanan Arif.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah, dukungan pedagang lokal, serta pesan dari tokoh-tokoh nasional membuat Muktamar Ke-35 NU menjadi peristiwa yang tidak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga memberi dampak langsung bagi masyarakat tuan rumah.
Bagi NU, tantangan berikutnya adalah memastikan momentum tersebut menghasilkan keputusan yang menjawab persoalan nyata warga Nahdliyin dan masyarakat luas, sebagaimana harapan yang disampaikan Yenny Wahid. (bry/ang/ian/ttg)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro