Tanda Bahaya, Ikan Cupang di Kalimantan dan Sumatera Terancam Punah

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00:06 WIB
Ilustrasi ikan cupang alam (wild betta) di habitatnya.
Ilustrasi ikan cupang alam (wild betta) di habitatnya.

 

PONTIANAK POST — Ikan cupang alam (wild betta) atau ikan selomang di Indonesia menghadapi ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat dan tekanan terhadap populasi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong domestikasi serta konservasi ex-situ untuk menyelamatkan sejumlah spesies yang telah masuk kategori terancam.

Sumatera dan Kalimantan menjadi dua wilayah penting bagi keberadaan wild betta. Dari sekitar 29 jenis yang ditemukan di Kalimantan, baru enam jenis yang telah diupayakan untuk didomestikasi, sedangkan di Sumatera baru sekitar lima dari 21 jenis.

Sejumlah Cupang Alam Sudah Terancam

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Priyadi, mengatakan kerusakan habitat menjadi salah satu faktor utama yang menekan populasi wild betta.

Alih fungsi hutan, aktivitas kehutanan, urbanisasi, pertambangan, hingga penangkapan berlebihan dapat mengurangi habitat alami ikan tersebut.

Berdasarkan referensi yang digunakan dalam kajiannya, beberapa spesies di Kalimantan telah masuk kategori terancam. Betta patoti, Betta albimarginata, dan Betta channoides berstatus endangered, sedangkan Betta edithae masuk kategori critically endangered.

Di Sumatera, Betta gudri berstatus endangered. Sementara Betta miniopinna dan Betta burdigala masuk kategori critically endangered.

Habitat Rusak, Populasi Ikut Tertekan

Ancaman terhadap wild betta tidak hanya berasal dari penangkapan. Perubahan kondisi habitat membuat ikan kehilangan lingkungan yang dibutuhkan untuk bertahan dan berkembang biak.

Perubahan iklim juga menjadi tantangan. Keterbatasan data biologi masing-masing spesies semakin menyulitkan pengelolaan populasi secara tepat.

Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN Delicia Yuanita Rahman mengatakan konservasi fauna akuatik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga riset dan perguruan tinggi hingga komunitas, pemerintah, dan masyarakat.

"Sharing Session Zoopedia Series #22 menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi dalam mendukung riset serta pengelolaan keanekaragaman hayati akuatik Indonesia secara berkelanjutan," ujar Delicia dalam kegiatan yang digelar secara hybrid, Selasa (11/8).

Baru Sebagian yang Berhasil Didomestikasi

BRIN mengembangkan konservasi ex-situ sebagai salah satu cara menjaga populasi ikan di luar habitat aslinya. Pendekatan ini dilakukan melalui domestikasi dan conservation aquaculture.

Namun, upaya tersebut masih terbatas.

Dari sekitar 29 jenis wild betta di Kalimantan, baru enam jenis yang telah diupayakan untuk didomestikasi. Di Sumatera, jumlahnya baru sekitar lima dari 21 jenis.

"Untuk mengantisipasinya, konservasi ex-situ dikembangkan melalui domestikasi dan Conservation Aquaculture. Namun, upaya tersebut masih terbatas," kata Agus.

Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak jenis wild betta yang belum memiliki program pemeliharaan dan pengembangbiakan terkontrol.

Meniru Habitat Asli di Kolam Penangkaran

Domestikasi tidak sekadar memindahkan ikan dari alam ke wadah pemeliharaan. Peneliti harus menyesuaikan kondisi lingkungan terkontrol dengan karakter habitat asli setiap spesies.

Pada jenis yang berasal dari perairan gambut, misalnya, peneliti menggunakan daun ketapang untuk membantu menciptakan karakteristik air yang sesuai.

Penelitian juga mencakup pengujian jenis wadah, pakan, hingga teknik reproduksi.

Pada Betta channoides, penelitian menunjukkan pemanenan larva pada hari kedelapan menghasilkan jumlah larva paling optimal. Larva kemudian diberi nauplius Artemia yang disesuaikan dengan ukuran bukaan mulutnya.

Menyelamatkan Genetik Sebelum Terlambat

Konservasi ex-situ juga penting untuk mempertahankan sumber genetik spesies yang populasinya terus menurun.

Agus mengatakan aspek genetika dan reproduksi perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan populasi. Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk merancang program pengembangbiakan yang lebih terarah.

Selain pengembangan teknik domestikasi, BRIN telah mengumpulkan 22 jenis wild betta sebagai koleksi ilmiah di Museum BRIN.

Koleksi awetan tersebut berfungsi sebagai dokumentasi keanekaragaman hayati dan bahan penelitian.

"Hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan program pengembangbiakan untuk mendukung pemulihan spesies dan konservasi ex-situ," ujar Agus.

Habitat Alami Tetap Menjadi Kunci

Domestikasi dapat menjadi salah satu cara menjaga spesies dari risiko kepunahan. Namun, konservasi di luar habitat tidak menggantikan kebutuhan untuk melindungi ekosistem tempat wild betta hidup.

Karena itu, BRIN mendorong pengembangan teknik aklimatisasi, pemeliharaan, pemijahan, dan pembesaran secara terkontrol. Upaya tersebut diharapkan berjalan bersamaan dengan perlindungan habitat alami.

Bagi ikan cupang alam, ancaman terbesar bukan sekadar berkurangnya jumlah ikan yang terlihat di perairan. Ketika habitat rusak dan populasi terus menyusut, keberadaan spesies beserta keragaman genetiknya ikut dipertaruhkan.

Konteks Penting

Apa itu wild betta?
Wild betta adalah kelompok ikan genus Betta yang hidup secara alami di habitat perairan, berbeda dari varietas cupang hias yang telah lama dikembangbiakkan secara selektif.

Mengapa ikan cupang alam penting dilestarikan?
Selain memiliki nilai keanekaragaman hayati, setiap spesies memiliki karakter genetik dan adaptasi terhadap habitat tertentu yang menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia.

Apakah konservasi ex-situ cukup?
Tidak. Konservasi ex-situ idealnya menjadi pelengkap perlindungan habitat alami. Pencegahan kerusakan habitat tetap menjadi bagian penting untuk menjaga populasi liar dalam jangka panjang.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
ikan cupang terancam punah cupang alam konservasi ikan cupang Betta edithae konservasi ex-situ