Bursa Ketum PBNU Menghangat, Gus Yahya, Gus Kikin, Gus Yusuf Siap Maju

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00:14 WIB
Sidang Pleno I Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8). (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)
Sidang Pleno I Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8). (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

 

PONTIANAK POST – Bursa Ketum PBNU semakin dinamis menjelang pemilihan dalam Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang. Sejumlah nama menyatakan kesiapan maju, di antaranya incumbent KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dan KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

Bursa kandidat bahkan telah bergerak jauh sebelum muktamar berlangsung. Selain tiga nama tersebut, sejumlah tokoh juga disebut masuk dalam radar pencalonan, termasuk KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, dan KH Marzuki Mustamar.

Gus Kikin: Semua Kandidat Punya Peluang

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyatakan dirinya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut memilih tidak banyak berbicara mengenai peluangnya.

Menurut Gus Kikin, seluruh kandidat memiliki kesempatan yang sama. Dia menyebut fokus utamanya saat ini adalah membangun komunikasi dengan pengurus NU di berbagai tingkatan.

”Bagi kami, ikhtiar utama dalam pencalonan ini adalah menjalin silaturahmi secara luas ke pengurus cabang dan wilayah,” kata Gus Kikin.

Dia juga menyampaikan komitmen untuk membawa PBNU bergerak dalam bingkai kebersamaan. Kemitraan yang harmonis dengan negara juga menjadi salah satu gagasan yang dia tekankan.

Gus Yahya Siap Kembali Maju

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga menyatakan kesiapannya untuk kembali mencalonkan diri.

”Allahu Robbuna. Niatku ora kliru (niat saya tidak keliru),” ujar Gus Yahya di arena muktamar.

Dia menyebut keputusan untuk kembali maju sebagai bagian dari tanggung jawab menuntaskan pengabdiannya kepada NU.

Gus Yahya juga meyakini proses pemilihan Ketum PBNU dapat berlangsung independen. Menurut dia, pengurus NU di semua tingkatan memiliki nurani dan kesetiaan terhadap organisasi.

”Kami yakin, pengurus NU di seluruh tingkatan mempunyai nurani serta kesetiaan kepada organisasi. Mereka bisa melindungi komitmen moral dari ancaman apa pun,” katanya.

Gus Yusuf Serukan Pemilihan Berbasis Nurani

Nama lain yang menyatakan kesiapan maju adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, itu menyerukan agar proses muktamar berjalan berdasarkan pertimbangan organisasi.

Gus Yusuf mengajak para muktamirin menuntaskan seluruh agenda organisasi dengan basyiroh, yakni mata hati atau kejernihan nurani.

Dia membandingkannya dengan bisyaroh yang dimaknai sebagai iming-iming material. Pesan tersebut disampaikan dalam konteks proses pemilihan kandidat Ketum PBNU.

Gus Yusuf juga meminta aturan pencalonan dan pemilihan dikembalikan pada ketentuan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Qanun Asasi NU.

Bursa Kandidat Masih Bisa Berubah

Munculnya sejumlah nama menunjukkan kontestasi menuju kursi Ketum PBNU masih terbuka. Namun, siapa yang benar-benar dapat mengikuti tahapan pemilihan akan sangat bergantung pada tata tertib yang disahkan muktamirin.

Sebelumnya, panitia menyatakan tata tertib pemilihan Rais Am dan Ketum PBNU dibahas secara terpisah dari tata tertib umum muktamar. Mekanisme tersebut dijadwalkan dibahas dalam sidang pleno tersendiri.

Dengan demikian, dinamika bursa kandidat belum otomatis menentukan daftar peserta pemilihan. Aturan main yang disepakati muktamar akan menjadi tahap penting berikutnya dalam menentukan arah kontestasi.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
gus yusuf bursa Ketum PBNU Gus Kikin calon Ketum PBNU gus yahya