PONTIANAK POST - Dengan masih mengenakan sarung, Arhanuddin Salim kembali ke wisma tamu Gereja Kristen Jawi Wetan Jombang. Sendirian, meski sebenarnya dia bagian dari 10 orang delegasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Manado, Sulawesi Utara, yang menghadiri Muktamar Ke-35 NU.
"Saya sengaja sendirian menginap di sini, sedangkan teman-teman menyewa rumah warga," kata Arhan pada Jumat (28/8) pagi pekan lalu kepada Jawa Pos.
Bagi Arhan, tinggal di gereja bukan hanya urusan tidur malam. Namun, sekaligus memberinya ruang berdialog dan kesempatan nyata merawat keragaman multikultural Indonesia.
Di gereja yang berdiri sejak 1922 itu, wakil ketua Tanfidziyah PCNU Kota Manado tersebut bisa menambah teman baru. Bukan dari kalangan muktamirin daerah lain. Namun, kawan lintas agama.
"Di Manado, tiap hari kami biasa mendengar kidung gereja. Jadi, tak ada sekat. Bersama pengurus gereja kami saling berbagi cerita," ujarnya.
Untuk muktamar yang berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak-beras, Jombang, yang berlangsung 27–31 Agustus tersebut, GKJW termasuk pihak yang membuka pintu menjadi tempat menginap para muktamirin. Sebagaimana juga yang dilakukan masjid dan musala di kabupaten di Jawa Timur tempat lahirnya KH Abdurrahman Wahid tersebut.
Arhan dan rombongan tiba dari Manado Rabu (26/8) malam pekan lalu. Rencananya, pria 43 tahun itu bakal menginap di guest house GKJW Jombang sampai muktamar selesai hari ini.
Dia mengaku merasa betah tinggal di lingkungan GKJW Jombang. Sebab, fasilitas yang disuguhkan pun tak kalah dengan kenyamanan hotel. Mulai sajian kopi hangat, santap malam, hingga ramahnya petugas keamanan.
Arhan mengenang, di Subuh pertama menginap di sana, petugas keamanan gereja dengan sigap membukakan pagar gembok saat dirinya harus keluar beraktivitas.
“Waktu mau berangkat salat Subuh, pagar masih dikunci. Mau minta tolong enggak enak. Tapi, ternyata ada petugas yang berjaga malam yang sengaja untuk bukain pintu kalau ada kami (yang menginap) mau salat Subuh," terangnya.
Memberikan yang Terbaik
Majelis Jemaat GKJW Jombang Ahmad Sholeh menjelaskan, aksi serupa juga pernah mereka lakukan saat Muktamar Ke-33 NU pada 2015 yang juga berlangsung di Jombang.
"Waktu Mukta-mar 2015, gereja kami juga jadi tempat persinggahan sekitar 25 orang. Hubungan GKJW dengan NU itu begitu akrab dan erat sejak dulu," kata pria yang akrab disapa Kung Sholeh itu.
Untuk muktamar tahun ini, ada belasan muktamirin dari berbagai penjuru daerah yang mendaftar dan menem-pati area penginapan gereja. “Hampir semua yang nginap di sini baru kali ini menginap di lingkungan gereja. Kami berikan yang terbaik yang bisa kami berikan, walaupun hanya teh, kopi, dan jajanan pasar," ujarnya.
Yang terpenting, lanjut-nya, GKJW dan segenap jemaat memberikannya secara tulus. "Ini bukti kuatnya rajutan persaudaraan dan toleransi di akar rumput," katanya. (Penulis: Septian Nur Hadi)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro