PONTIANAK POST – Sebaran hotspot atau titik panas di Indonesia masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah rawan kebakaran. Kalimantan menjadi kawasan dengan sebaran hotspot terbesar, disusul Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa yang masuk tiga besar.
Berdasarkan pemantauan kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat 6.030 hotspot di seluruh Indonesia hingga 30 Agustus. Data tersebut dapat dipantau masyarakat melalui portal hotspot BRIN secara real time di hotspot.brin.go.id.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Titik panas tidak otomatis berarti terjadi kebakaran, tetapi dapat menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai.
Jawa Masuk Tiga Besar
Peta pemantauan menunjukkan konsentrasi hotspot masih kuat di Kalimantan. Setelah itu, titik panas banyak ditemukan di Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, dan sebagian wilayah Sulawesi.
Posisi Jawa menjadi perhatian karena pulau tersebut memiliki kepadatan penduduk dan aktivitas manusia yang tinggi. Titik panas yang muncul perlu dibedakan antara anomali suhu akibat aktivitas tertentu dengan indikasi kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN M. Rokhis Khomarudin mengatakan teknologi satelit dapat digunakan untuk memprediksi potensi kekeringan sekaligus mendeteksi lokasi hotspot.
"Teknologi satelit kita mampu memprediksi potensi kekeringan sebagai peringatan dini risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengidentifikasi lokasi titik panas (hotspot)," jelas Rokhis, Sabtu, 30 Agustus.
Kalimantan Masih dalam Tekanan
Kalimantan menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian khusus. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan perkembangan hotspot tidak seragam di seluruh provinsi.
Di Kalimantan Selatan, jumlah hotspot turun dari 1.354 menjadi 867 titik. Penurunan juga terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot meningkat dari 7.703 menjadi 8.488 titik. Sementara di Kalimantan Barat, hotspot melonjak dari 3.384 menjadi 6.526 titik.
Kenaikan tersebut membuat Kalimantan tetap menjadi salah satu kawasan yang paling perlu diwaspadai dalam pemantauan karhutla.
Hotspot Bukan Otomatis Kebakaran
Meski jumlahnya tinggi, hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan titik kebakaran.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengingatkan masyarakat mengenai hal tersebut.
"Adanya hotspot tidak serta-merta menunjukkan kejadian kebakaran. Tapi, kami minta masyarakat tetap waspada," katanya.
Satelit untuk Pantau Luas Karhutla
Teknologi satelit tidak hanya digunakan untuk menemukan hotspot.
BRIN juga memanfaatkan citra satelit seperti Landsat dan Sentinel untuk memetakan serta menghitung luas wilayah yang terdampak kebakaran.
Rokhis mengatakan analisis dilakukan setiap bulan dan hasilnya disampaikan kepada Kementerian Kehutanan untuk mendukung penyediaan informasi publik.
"Analisis dilakukan setiap bulan dan hasilnya disampaikan ke Kementerian Kehutanan untuk mendukung penyediaan informasi publik," ujarnya.
Pemanfaatan data satelit tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran mengenai lokasi dan luasan area terdampak tanpa hanya mengandalkan pemantauan langsung di lapangan.
Jawa dan Kalimantan Perlu Diwaspadai
Perbedaan karakter Jawa dan Kalimantan membuat data hotspot tidak bisa dibaca hanya dari jumlah titik.
Di Jawa, kepadatan penduduk dan aktivitas manusia menjadi konteks penting dalam membaca munculnya titik panas. Sementara di Kalimantan, luasan kawasan hutan dan lahan serta kondisi kekeringan membuat pemantauan karhutla menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, keberadaan ribuan hotspot perlu dipandang sebagai sinyal peringatan dini, bukan sebagai angka kebakaran yang berdiri sendiri.
Data satelit BRIN-BMKG dan pemantauan lapangan Kementerian Kehutanan menjadi dua instrumen penting untuk memastikan apakah sebuah hotspot berkembang menjadi kebakaran atau tidak.
Masyarakat pun dapat ikut memantau perkembangannya melalui portal hotspot BRIN secara real time.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro