PONTIANAK POST – Pemerintah akan memaksimalkan setiap peluang awan hujan untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) guna menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah itu diperkuat menghadapi September yang disebut sebagai periode puncak karhutla.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan potensi awan hujan menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan OMC. Pemerintah bersama pemangku kepentingan terkait akan memanfaatkan peluang tersebut untuk menghasilkan hujan di wilayah rawan kebakaran.
“Yang paling efektif itu OMC. Baik itu hujan alami maupun OMC, bisa menghasilkan hujan. Karena hanya dengan OMC itu persoalan karhutla dapat diselesaikan,” kata Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (2/9).
Menurut dia, September menjadi periode yang harus diwaspadai karena risiko karhutla masih tinggi.
“Sekali lagi, harus dijaga secara baik. Karena puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini,” ujarnya.
Salah satu wilayah yang berpotensi menjadi sasaran OMC adalah Jambi. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang awan hujan di provinsi tersebut diperkirakan meluas pada 10–15 September.
“Berdasarkan informasi BMKG, peluang awan hujan di Jambi diperkirakan meluas pada 10–15 September,” kata Raja Juli.
Saat ini, potensi awan hujan masih terbatas di sejumlah wilayah Jambi. Namun, pada periode tersebut peluang pembentukan awan hujan diperkirakan menjangkau wilayah yang lebih luas.
Pemerintah akan memanfaatkan kondisi itu sebagai kesempatan untuk memperkuat pembasahan lahan sekaligus membantu menekan risiko meluasnya kebakaran.
Hotspot Bisa Berubah Cepat
Raja Juli mengingatkan kondisi karhutla bersifat dinamis. Data titik panas (hotspot) yang terlihat membaik pada satu waktu dapat kembali meningkat hanya dalam hitungan jam.
Ia mencontohkan kondisi di Jambi. Meski tren penanganan karhutla dinilai relatif baik dan sempat tercatat tanpa hotspot, titik panas kembali muncul pada pemantauan berikutnya.
“Khusus di Jambi seperti yang saya katakan tadi, trennya baik. Bahkan per hari kemarin hotspot-nya nol. Namun, itu data per jam 23.59 pada hari yang lalu. Ternyata pagi hari ini bertambah hotspot-nya,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah meminta seluruh pihak tidak lengah hanya karena jumlah titik panas sementara menunjukkan penurunan.
Pemantauan terhadap hotspot juga harus diikuti pengecekan kondisi titik api (fire spot) di lapangan untuk memastikan situasi sebenarnya.
OMC menjadi salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk memperkuat penanganan karhutla, terutama ketika terdapat awan potensial yang dapat disemai untuk menghasilkan hujan.
Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi syarat.
Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan BMKG dan instansi terkait untuk membaca peluang cuaca sekaligus menentukan waktu dan wilayah yang paling efektif untuk pelaksanaan OMC.
Kewaspadaan dinilai semakin penting selama September karena kondisi kering dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar, sementara angin berpotensi mempercepat penyebaran api.
Raja Juli meminta penanganan tidak hanya berorientasi pada pemadaman setelah kebakaran meluas. Pemantauan titik panas, pencegahan, patroli, penanganan darat, hingga pemanfaatan OMC harus berjalan secara bersamaan.
Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga wilayah yang menunjukkan tren membaik agar tidak kembali mengalami peningkatan kebakaran.
Dengan memaksimalkan peluang awan hujan dan memperkuat pengawasan di lapangan, pemerintah berharap risiko karhutla selama periode puncak dapat ditekan sebelum api berkembang semakin luas.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro