PONTIANAK POST – Jumlah korban dugaan keracunan MBG Sidoarjo bertambah menjadi 592 orang hingga Rabu (2/9/2026) pukul 16.00. Sebanyak 80 orang masih dirawat, 19 menjalani observasi, sedangkan 493 lainnya telah diperbolehkan pulang.
Para korban merupakan penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Sebagian besar merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, tetapi gangguan kesehatan juga dilaporkan dari lembaga pendidikan lain.
Di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, puluhan santri masih berdatangan secara bergelombang pada Rabu siang. Sebagian mengalami diare dan dehidrasi sehingga harus menjalani pemeriksaan serta observasi.
Staf Humas RSUD R.T. Notopuro Rizqi Maulana mengatakan, pasien tambahan tiba dalam rentang pukul 10.50–11.30. Dua hingga tiga pasien harus dibawa menggunakan kursi roda dan bed trolley.
Reyhan Menahan Mual demi Membantu Teman
Di tengah kepanikan malam itu, Muhammad Reyhan Ardiansyah memilih membantu teman-temannya yang lebih dahulu tumbang. Padahal, santri kelas VII tersebut juga mulai merasakan mual.
Reyhan hanya menyantap nasi putih dan telur orak-arik. Ia tidak memakan tempe dan sayur buncis karena memang tidak menyukainya.
Mual mulai muncul pada malam hari. Namun, Reyhan menahan sakit di perut karena melihat teman-temannya membutuhkan bantuan.
Selepas Salat Subuh, tubuh remaja 12 tahun itu melemah dan kondisinya terus memburuk. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit dan hingga Rabu sore masih menjalani observasi.
Pengalaman tersebut membuat Reyhan takut menyantap makanan serupa. “Saya tidak mau lagi makan MBG. Saya takut,” katanya.
Antre Toilet karena Diare
M. Fajri Al Falah masih tergolek lemah di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD R.T. Notopuro. Selang infus terpasang di tangan remaja 15 tahun itu setelah semalaman mengalami muntah dan diare.
Fajri menyantap makanan sekitar pukul 13.00. Menu yang diterimanya berupa nasi, tempe, telur, sayur buncis, dan apel.
Mual mulai dirasakan selepas Salat Ashar. Ia dua kali muntah sebelum mengalami diare.
“Sempat antre ke toilet karena banyak yang diare,” katanya.
Santri lain, Safaat Hidayatullah, baru mengalami gejala pada malam hari. Kondisinya memburuk selepas Salat Subuh hingga harus dibawa menggunakan ambulans.
“Gejalanya baru terasa malam. Parah sekali setelah Salat Subuh,” ujar Safaat.
Menurut dia, rasa makanan awalnya biasa dan cenderung enak. Namun, Safaat memilih tidak memakan sayur buncis karena melihat tampilannya berbeda.
Ibu Mengetahui dari TikTok
Siti Aminah, ibu Fajri, sempat kebingungan mencari anaknya. Perempuan 48 tahun tersebut pertama kali mengetahui kabar para santri tumbang melalui unggahan yang beredar di TikTok selepas Salat Magrib.
Ia mendatangi pesantren dan mendapat kabar Fajri dibawa ke salah satu rumah sakit. Karena tidak menemukan anaknya di sana, Siti melanjutkan pencarian ke RSUD R.T. Notopuro.
Di ruang IGD, ia melihat Fajri sudah diinfus dan menggunakan masker oksigen karena mengalami sesak.
“Ramai sekali malam itu,” ujarnya.
Di balik angka ratusan korban, para orang tua harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari anak mereka. Kepanikan itu menambah trauma keluarga setelah anak-anak mengalami muntah, diare, dehidrasi, dan sesak napas.
Gejala Muncul Dua Jam Setelah Makan
Hasan, santri Manbaul Hikam lainnya, mengatakan makanan tiba di pesantren sekitar pukul 11.30 dan disantap sekitar pukul 13.00. Dua jam kemudian, sejumlah santri mulai mengeluhkan sakit perut.
“Ada yang sakit perut. Terus saya ajak ke Poskestren. Tiba-tiba banyak yang sakit dan gejalanya sama,” katanya.
Santri bernama Reza mengaku tidak mencium bau atau merasakan sesuatu yang aneh ketika makan. Namun, ia menduga gangguan berasal dari apel karena menemukan bagian berwarna kecokelatan.
Reza juga mengaku mendapat informasi dari temannya mengenai dugaan adanya ulat pada telur. Keterangan tersebut belum dapat digunakan untuk menentukan sumber gangguan kesehatan.
Penyebab dugaan keracunan harus dipastikan melalui pemeriksaan medis dan laboratorium. Karena itu, dugaan terhadap salah satu menu tidak boleh disimpulkan sebagai penyebab sebelum hasil pengujian diumumkan.
Makanan Bukan dari Dapur Pesantren
Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun menegaskan makanan yang disantap para korban berasal dari SPPG Kalitengah. Dapur pesantren hanya menyediakan makan pagi dan malam.
“Kalau makan siang dari MBG itu sendiri,” terangnya.
Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan asal makanan yang diterima para santri. SPPG Kalitengah menyalurkan MBG kepada 2.854 penerima manfaat di 19 lembaga pendidikan.
Orang Tua Minta MBG Dihentikan
Kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran dan kemarahan orang tua. Mereka meminta distribusi MBG tidak dilanjutkan sebelum keamanan makanan benar-benar dijamin.
“Anak-anak ini penerus bangsa. Tolong jangan korbankan anak kami. Kalau bisa, MBG ditutup,” kata Sulastri, ibu Reza.
Permintaan tersebut muncul setelah ratusan anak harus dibawa ke fasilitas kesehatan secara bersamaan. Orang tua menuntut evaluasi tidak berhenti pada penghentian sementara dapur, tetapi memastikan kejadian serupa tidak berulang.
Penelusuran Menjangkau 19 Lembaga
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak memastikan tidak ada korban meninggal. Gangguan kesehatan juga tidak hanya dialami santri Manbaul Hikam.
SPPG Kalitengah menyalurkan makanan kepada 19 lembaga pendidikan dengan total 2.854 penerima. Emil meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan menelusuri seluruh lembaga tersebut.
“Saya pastikan tidak ada yang meninggal. Ada 19 lembaga pendidikan yang terdampak, salah satunya Ponpes Manbaul Hikam,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuantina mengatakan, pelayanan kesehatan lapangan telah diaktifkan. Tenaga medis dan fasilitas pendukung juga disiapkan di sejumlah rumah sakit.
Dinas Kesehatan turut menelusuri siswa yang tidak masuk sekolah. Langkah itu dilakukan untuk memastikan apakah ketidakhadiran mereka berkaitan dengan kejadian tersebut.
“Kami berkoordinasi secara berkala dengan Dinas Pendidikan untuk mengecek dan mendeteksi siswa yang kemungkinan menjadi korban,” jelasnya.
31 SPPG Disebut Belum Berizin
Bupati Sidoarjo Subandi menyatakan kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi tata kelola MBG. Dari 170 SPPG di Sidoarjo, 31 di antaranya disebut belum memenuhi perizinan.
Persoalan itu telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, belum dijelaskan jenis izin yang belum dipenuhi maupun apakah SPPG Kalitengah termasuk dalam 31 dapur tersebut.
SPPG Kalitengah Disuspensi 30 Hari
BGN menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah selama 30 hari. Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan, suspensi dilakukan untuk kepentingan evaluasi dan investigasi.
BGN juga mengusulkan penggantian kepala SPPG dan pengelola. Bersama Dinas Kesehatan Sidoarjo, BGN masih menyelidiki penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Hasilnya akan kami umumkan, terutama mengenai apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” ujar Ketut.
SPPG Kalitengah berada di Jalan Raya Tanggulangin Nomor 29. Dapur itu dikelola Yayasan Indonesia Makmur Mandiri dengan Rafli Ridho tercatat sebagai kepala SPPG.
Rafli menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya. “Mohon maaf. Saya menyesal,” katanya.
Menurut Rafli, persiapan makanan dimulai sekitar pukul 00.00 dan proses memasak pukul 05.30. Makanan dikirim kepada penerima mulai pukul 11.00.
Selain dari Ponpes Manbaul Hikam, SPPG menerima laporan lima siswa SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2 mengalami gangguan kesehatan. Laporan tersebut diterima pada Selasa malam.
Rafli mengaku mendapat informasi mengenai makanan yang terasa kecut. Namun, pemeriksaan organoleptik sebelum pembagian disebut tidak menemukan masalah.
Pemeriksaan organoleptik hanya menilai makanan berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur. Pengujian laboratorium tetap diperlukan untuk mendeteksi bakteri, toksin, maupun kontaminan.
Infografis: Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo
Kondisi Korban
Data Rabu, 2 September 2026, pukul 16.00
| Kondisi | Jumlah |
|---|---|
| Mendapat penanganan medis | 592 orang |
| Masih menjalani perawatan | 80 orang |
| Masih menjalani observasi | 19 orang |
| Diperbolehkan pulang | 493 orang |
Data SPPG Kalitengah
| Indikator | Data |
|---|---|
| Penghentian sementara | 30 hari |
| Lembaga pendidikan penerima | 19 lembaga |
| Penerima manfaat | 2.854 orang |
| SPPG di Sidoarjo | 170 dapur |
| SPPG disebut belum memenuhi perizinan | 31 dapur |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro