MUI Ajak Umat Islam Gelar Salat Istisqa untuk Akhiri Karhutla

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:32 WIB
Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis. (Antara)
Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis. (Antara)

 

PONTIANAK POST - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam di seluruh Indonesia menggelar Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau dan kekeringan yang masih terjadi. MUI berharap hujan segera turun di wilayah yang terdampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis mengatakan ajakan tersebut merupakan bentuk ikhtiar spiritual di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.

"Kemarau dan kekeringan melanda kita, bahkan karhutla masih terus terjadi. Mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia, di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk Salat Istisqa (minta hujan)," ujar Cholil Nafis dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9).

Baca Juga: Kemarau Panjang dan Kabut Asap, Ratusan Warga Sungai Pinyuh Gelar Salat Istisqa

MUI Dorong Ikhtiar Spiritual

Menurut Cholil, Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar spiritual dan kepasrahan diri seorang hamba kepada Allah SWT ketika menghadapi kekeringan berkepanjangan.

Ia mengatakan doa bersama dapat menjadi dorongan moral dan spiritual di samping upaya teknis yang dilakukan pemerintah dan petugas pemadam kebakaran di lapangan.

Cholil berharap pengurus masjid, lembaga keagamaan, dan masyarakat di wilayah terdampak dapat segera mengoordinasikan pelaksanaan Salat Istisqa secara berjemaah.

Baca Juga: Salat Istisqa di Sekolah Mujahidin Pontianak, Pelajar Berharap Hujan dan Belajar Tatap Muka Kembali

Karhutla Kalbar Masih Membara

Ajakan MUI tersebut disampaikan ketika penanganan karhutla masih menjadi perhatian pemerintah, terutama di Kalimantan Barat (Kalbar).

Sebelumnya, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan data hotspot masih fluktuatif.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Sipongi milik Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar tercatat berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir.

 
Pada 31 Agustus tercatat ada 272 titik panas, lalu melonjak menjadi 859 titik pada 1 September, dan kembali menurun menjadi 268 titik pada hari berikutnya.
 
Namun, Raja Antoni mengingatkan bahwa penurunan jumlah titik panas tidak serta-merta menandakan persoalan karhutla telah usai. Sebab, api yang telah padam di permukaan tidak lagi terbaca oleh sistem pemantauan, padahal asap masih bertahan.
 
 
 
"Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat, tidak lagi ada hotspot di sini tapi asapnya terus eksis," jelasnya saat kunjungan ke Kalbar, Kamis (3/9).
 
 
 
 
 
Apalagi, kondisi kabut asap saat ini masih terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Kota Pontianak, sehingga memerlukan penanganan dan perhatian serius.
 
Baca Juga: 350 Umat Muslim Singkawang Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Turun di Tengah Kabut Asap Karhutla

MUI Berharap Hujan Membantu Mengakhiri Kekeringan

MUI mengajak masyarakat tetap melakukan ikhtiar menghadapi dampak kemarau dan karhutla. Salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang didorong MUI untuk memohon turunnya hujan.

Sementara itu, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui upaya teknis dan fisik oleh pemerintah serta petugas di lapangan.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
MUI karhutla kalbar Salat Istisqa karhutla Hujan