Keluarga Korban Keracunan Trauma dengan MBG

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:37 WIB
MASIH DIRAWAT: Seorang siswa korban dugaan keracunan MBG menjalani perawatan dengan infus terpasang di tangannya. Rentetan kasus membuat keluarga korban trauma dan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap keamanan makanan. (JAWA POS)
MASIH DIRAWAT: Seorang siswa korban dugaan keracunan MBG menjalani perawatan dengan infus terpasang di tangannya. Rentetan kasus membuat keluarga korban trauma dan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap keamanan makanan. (JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Rentetan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menyisakan kekhawatiran. Setelah ratusan siswa terdampak di Sidoarjo, Nganjuk, dan Jombang, gangguan kesehatan serupa dialami 64 siswa di Klaten. Sejumlah orang tua bahkan meminta program tersebut dihentikan sampai ada evaluasi menyeluruh.

Kasus terbaru menimpa siswa MIM Srebegan dan MIM Cetan, Klaten, setelah menyantap MBG pada Kamis (3/9). Mereka mengalami pusing, mual, dan muntah sekitar 10–15 menit seusai makan.

Menu yang disajikan berupa katsu filet ikan, tahu balado, tumis wortel dan buncis, serta semangka. Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten Yoga Angga Pratama mengatakan, 64 siswa mengalami gangguan kesehatan.

“Tidak ada yang dirawat inap. Alhamdulillah, sebagian besar anak-anak sudah kembali ke sekolah,” katanya, Jumat (4/9).

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke kedua sekolah dihentikan sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Temukan Catatan Higienitas

Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera selaku pengelola SPPG, Bambang Sridaya, menyatakan proses produksi telah mengikuti standar. Namun, dia mengakui ada perubahan bahan baku pada menu ikan.

“Atas temuan ini, pihak yayasan akan melakukan evaluasi menyeluruh serta pembinaan,” katanya.

Saat meninjau SPPG Kurung Ceper, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menemukan sejumlah catatan terkait higienitas dan fasilitas penyimpanan bahan makanan.

“Seperti penggunaan satu AC untuk dua ruangan berbeda, higienitas, serta alur bahan baku. Perlu dievaluasi,” ujarnya.

Kepala MIM Cetan Ceper Hariyanto mengatakan, sekitar separuh siswa yang sempat mendapat perawatan telah kembali bersekolah. Pihak sekolah akan bermusyawarah dengan pengurus dan wali murid untuk menentukan kelanjutan program MBG.

“Kejadian ini membuat kami sedih dan menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua,” katanya.

748 Orang Terdampak di Sidoarjo

Di Sidoarjo, BGN masih menelusuri penyebab gangguan kesehatan yang dialami 748 santri dan siswa. Operasional SPPG dihentikan dan kepala dapurnya dicopot.

Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono mengatakan, sebagian besar korban telah dipulangkan. Sebanyak 22 orang masih menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro dan delapan fasilitas kesehatan lainnya.

“Jika ada unsur pelanggaran, hukumnya nanti disesuaikan. Kami masih melakukan investigasi dan belum ada tersangka. Saat ini kami fokus kepada korban,” katanya seusai mengunjungi Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Jumat (4/9).

Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam Abdul Wahid Harun menolak kembali menerima makanan dari pengelola luar. Jika program dilanjutkan, dia meminta pengelolaan makanan diserahkan kepada pesantren.

“Supaya kejadian seperti ini tidak terulang. Bagaimanapun, unsur manusia itu ada,” ujarnya.

Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Sidoarjo Ainur Rohman mengatakan, seluruh biaya perawatan ditanggung BGN. Meski jumlah korban mencapai 748 orang, pemerintah daerah tidak menetapkan insiden tersebut sebagai kejadian luar biasa.

33 Siswa Nganjuk Masih Dirawat

Di Nganjuk, sebanyak 127 siswa mendapat perawatan setelah mengonsumsi MBG. Mereka berasal dari SMAN 3 Nganjuk, SLB Santi Kosala Mastrip, dan SDN Balongpacul 1.

Hingga Jumat, 33 siswa masih menjalani rawat inap di rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Bupati Nganjuk Marhaen Djunaidi memastikan biaya pengobatan seluruh korban ditanggung.

“Kami akan berkoordinasi dengan BGN. Pemerintah daerah juga siap menanggung semuanya,” katanya saat mengunjungi korban di RSUD Nganjuk, Kamis (3/9) malam.

Orang Tua Takut Kejadian Terulang

Trauma juga dirasakan keluarga korban di Jombang. Hingga Jumat siang, tiga dari 259 siswa SMPN 1 Kabuh yang mengalami gangguan kesehatan masih dirawat di Puskesmas Kabuh.

Selang infus masih terpasang di tangan mereka. Di sisi ranjang, para orang tua setia menunggu sambil menyuarakan kekhawatiran terhadap keamanan program MBG.

Reni (35), warga Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, mengatakan anaknya, Aina Talita Zahran, mulai sakit perut dan buang air besar sepulang sekolah pada Rabu (2/9).

Meski kondisi Aina membaik, pengalaman itu membuat Reni takut kejadian serupa terulang. Dia meminta program dihentikan sampai keamanan makanan benar-benar terjamin.

“Kalau menurut saya, sebaiknya dihentikan saja. Tidak ada risiko seperti ini. Kami sudah trauma,” ucapnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Dewi Irawati (43). Dia lega kondisi anaknya berangsur pulih, tetapi tetap mencemaskan keselamatan siswa jika program berjalan tanpa perbaikan menyeluruh.

“Daripada membahayakan. Korbannya ini menyangkut nyawa,” tegas Dewi.

Rentetan kasus tersebut menempatkan keselamatan anak sebagai ujian utama pelaksanaan MBG. Penghentian dapur dan pembiayaan pengobatan menjadi langkah awal, tetapi keluarga korban menunggu hasil pemeriksaan yang terbuka serta jaminan kejadian serupa tidak berulang.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
korban keracunan MBG evaluasi program MBG keamanan makanan siswa dapur SPPG dihentikan keluarga korban trauma