PONTIANAK POST – Empat gunung api mengalami erupsi dalam waktu berdekatan, Minggu (6/9). Aktivitas vulkanik tersebut menyebabkan delapan bandara ditutup sementara dan penerbangan dialihkan. Warga di wilayah terdampak hujan abu diminta menggunakan masker.
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), erupsi terjadi di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pukul 07.10 WIB; Gunung Ibu, Maluku Utara, pukul 04.55 WIT; Gunung Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur, pukul 06.41 WITA; serta Gunung Semeru, Jawa Timur, pukul 07.51 WIB.
Gunung Sinabung di Sumatera Utara juga menunjukkan peningkatan aktivitas. Statusnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga.
Dari empat erupsi tersebut, Anak Krakatau menimbulkan dampak paling luas. Abu vulkanik bergerak ke sejumlah wilayah, sementara suara dentuman dan getaran dilaporkan terdengar hingga Jawa Barat.
Hingga pukul 15.00 WIB, delapan bandara ditutup sementara. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat mewaspadai hujan abu, lontaran material, dan awan panas.
Anak Krakatau Berstatus Siaga
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat sejak 2 Juli 2026. Status gunung tersebut kemudian dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.
Sebelumnya, erupsi menerus terjadi mulai Jumat (4/9) sekitar pukul 23.00 WIB. Aktivitas berupa semburan lava, suara gemuruh, dan hujan abu itu berhenti sekitar pukul 12.00 WIB pada Sabtu (5/9).
“Erupsi menerus ini telah berhenti lebih dari 24 jam,” kata Lana dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9).
Menurut dia, lamanya erupsi berkaitan dengan karakter magma Anak Krakatau yang relatif encer. Kondisi tersebut memungkinkan erupsi berlangsung terus-menerus.
Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi besar pada 22 Desember 2018. Aktivitas itu memicu longsoran tubuh gunung dan tsunami di sekitar Selat Sunda. Erupsi berskala kecil kemudian berlanjut hingga 16 Desember 2023.
Dentuman Terdengar Jauh
Dampak aktivitas Anak Krakatau turut dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat. Warga melaporkan suara dentuman serta getaran pada kaca dan pintu pada 4–5 September.
Lana mengatakan waktu laporan masyarakat sesuai dengan aktivitas erupsi dan sinyal yang terekam di stasiun pengamatan Jawa Barat. Data tersebut memperkuat dugaan bahwa suara itu berasal dari gelombang akustik Anak Krakatau.
“Gelombang akustik berfrekuensi rendah dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu,” ujarnya.
Fenomena serupa pernah terjadi pada erupsi gunung lain. Salah satunya letusan Gunung Kelud yang suaranya terdengar hingga Jawa Tengah.
Sebaran Abu Berubah Cepat
Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA), VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu Anak Krakatau bergerak ke sejumlah arah.
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan gumpalan abu pekat pada ketinggian sekitar 50 ribu kaki bergerak ke barat daya menuju Samudra Hindia. Sementara itu, emisi abu pada ketinggian sekitar 20 ribu kaki terbawa angin ke arah barat.
Sisa debu halus dari erupsi sebelumnya juga bergerak ke timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan. Arah dan jangkauan abu dapat berubah mengikuti kecepatan serta arah angin pada setiap lapisan atmosfer.
“Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan penerbangan,” kata Siti.
Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
Kelompok Rentan Dilindungi
Badan Geologi meminta warga yang mengalami hujan abu tetap berada di dalam rumah jika tidak memiliki keperluan mendesak. Masker wajib digunakan ketika beraktivitas di luar ruangan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan gangguan kulit. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih.
“Masyarakat di lokasi hujan abu sebaiknya di dalam rumah selama tidak ada keperluan mendesak,” katanya.
Selain memakai masker, warga disarankan menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan abu. Mata yang terasa perih tidak boleh dikucek dan harus segera dibasuh dengan air bersih.
Warga yang mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata, atau masalah kulit diminta mendatangi puskesmas. Menurut Budi, obat-obatan untuk menangani keluhan tersebut telah tersedia.
Penerbangan Dialihkan
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penutupan delapan bandara dilakukan karena kondisi abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan.
“Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Pemerintah menyiapkan Bandara Kertajati, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Juanda Surabaya sebagai lokasi alternatif. Dua penerbangan Garuda Indonesia dari Jeddah dan Madinah telah dialihkan ke Kertajati.
Maskapai diminta tidak memaksakan penerbangan karena pergerakan abu dan cuaca masih dinamis. Pemerintah juga menyiapkan kereta api, angkutan darat, dan transportasi laut apabila gangguan berlangsung lebih lama.
Penyeberangan Merak–Bakauheni masih beroperasi normal. Penambahan kapal belum diperlukan karena jumlah penumpang cenderung menurun.
BNPB Siapkan Modifikasi Cuaca
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) disiapkan untuk membantu meluruhkan abu vulkanik.
Operasi direncanakan dari Bandara Halim Perdanakusuma. Jika bandara tersebut tidak dapat digunakan, penerbangan OMC akan dilakukan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Menurut Suharyanto, hujan dapat membantu menekan sebaran abu setelah erupsi. Angin juga dapat mengurangi konsentrasi abu, tetapi arahnya mudah berubah.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari memastikan perkembangan Anak Krakatau terus dipantau berdasarkan informasi lembaga teknis. Pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penanganan dampak erupsi.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro