Cerita Bulan Madu Pasangan Malaysia Gagal akibat Erupsi Anak Krakatau

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 23:39 WIB
Pembersihan Pesawat Dari Sebaran Abu Vulkanik
Pembersihan Pesawat Dari Sebaran Abu Vulkanik. (JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Erupsi Anak Krakatau tidak hanya membatalkan perjalanan udara, tetapi juga menguras tenaga, waktu, dan biaya penumpang. Pasangan pengantin baru asal Malaysia harus menumpang di rumah kenalan, sedangkan satu keluarga memilih bermalam di bandara demi menghemat pengeluaran.

Pembatalan penerbangan juga dialami Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) M. Mufti Mubarok. Ia mengaku baru menerima pemberitahuan ketika telah berada di area keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah menikmati bulan madu di Bali, Amir Hamzah dan Fatin Zulaikha terbang ke Jakarta pada Sabtu (5/9) pukul 20.40. Pasangan berusia 29 tahun itu berencana bermalam di Bandara Soekarno-Hatta sebelum bertolak ke Malaysia pada Minggu (6/9) pukul 08.30.

Setelah menyelesaikan urusan imigrasi, keduanya bersiap menunggu penerbangan pagi. Namun, rencana tersebut berubah ketika mereka membaca pengumuman penundaan penerbangan di papan informasi elektronik bandara.

Semburan abu vulkanik erupsi Anak Krakatau di Selat Sunda dinilai membahayakan penerbangan. Bandara Soekarno-Hatta kemudian ditutup sementara dan penutupannya diperpanjang.

Setelah 24 jam bertahan di bandara, petugas Garuda Indonesia memberi tahu bahwa penerbangan paling cepat tersedia pada Jumat (11/9).

“Ketika saya mendengar Jumat, spontan saya bilang, apa, Jumat? Terus, apa yang mau kami lakukan di sini selama lima hari? Uang kami hanya cukup untuk bulan madu lalu pulang,” kata Amir, pekerja pabrik di Kedah, kepada Bernama.

Menghemat Sisa Uang

Membeli tiket pengganti dengan rute lain membutuhkan biaya besar. Sementara itu, proses refund diperkirakan memerlukan waktu beberapa hari.

“Awalnya kami memesan kamar hotel budget dekat bandara. Namun, setelah menghitung kebutuhan selama lima hari, kami khawatir uang tidak cukup,” ujar Amir.

Amir akhirnya menghubungi seorang koresponden Bernama di Jakarta. Dia dan istrinya mendapat akomodasi sementara sambil menunggu bantuan keluarga dari Malaysia.

Kepala BPKN Harus “Balik Kanan”

Selembar boarding pass sudah di tangan. Koper telah masuk bagasi dan proses check-in selesai. Namun, Kepala BPKN M. Mufti Mubarok justru menerima pengumuman pembatalan penerbangan pada Minggu (6/9) pagi.

Mufti semestinya terbang dari Jakarta menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur, pukul 06.00. Ia dijadwalkan menghadiri acara yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) setempat.

Surat elektronik dari maskapai baru diterima Mufti dan penumpang lain ketika mereka telah berada di area keberangkatan. Maskapai menawarkan dua pilihan, yakni refund atau reschedule.

“Kami kecewa. Pemberitahuan baru kami terima di bandara,” kata Mufti kepada Jawa Pos.

Menurut Mufti, pelayanan di lapangan juga minim. Ia mengaku tidak memperoleh penjelasan langsung, pendampingan petugas, maupun informasi mengenai kompensasi.

Mufti meminta maskapai memperhitungkan kerugian material dan imaterial penumpang. Tuntutan tersebut meliputi waktu, tenaga, serta agenda yang batal dihadiri.

“Ini harus diberlakukan kepada semua penumpang,” ujarnya.

Meminta Informasi Lebih Cepat

Mufti berharap maskapai memperbaiki sistem pemberitahuan pembatalan penerbangan. Informasi, menurut dia, semestinya disampaikan sebelum penumpang tiba di bandara.

“Harus ada petugas yang hadir dan memberikan solusi nyata, baik pengalihan penerbangan, akomodasi, konsumsi, maupun kompensasi,” katanya.

Satu Keluarga Bermalam di Juanda

Dampak erupsi Anak Krakatau juga dirasakan Abdul Hasib dan lima anggota keluarganya. Mereka berangkat dari Banyuwangi pada Minggu (6/9) malam dan tiba di Bandara Internasional Juanda, Jawa Timur, pukul 03.00.

Hasib sengaja tiba lebih awal karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 09.00. Namun, penerbangan menuju Pekanbaru, Riau, itu dibatalkan akibat dampak erupsi Anak Krakatau.

“Soalnya pesawat rencananya berangkat pukul 09.00. Biar lebih tenang, kami menunggu di sini,” kata Hasib.

Setelah 11 hari mengunjungi kerabat di Banyuwangi, keluarga tersebut ingin segera pulang. Hasib akhirnya memilih reschedule dan dijadwalkan terbang dari Juanda menuju Pekanbaru pada pukul 12.00 keesokan harinya.

“Mertua sudah ingin cepat pulang. Jadi, kami memilih mengganti jadwal daripada mengajukan pengembalian dana,” ujar pria asal Kampar itu.

Bertahan demi Menghemat Biaya

Selama menunggu jadwal baru, Hasib dan keluarganya bertahan di ruang tunggu Bandara Juanda. Mereka tidak menyewa penginapan untuk menghemat biaya sekaligus menghindari kerepotan memindahkan barang bawaan.

“Bawa koper banyak. Jadi, malas kalau harus mengangkut koper ke mana-mana,” kata pria 65 tahun yang sehari-hari bekerja di perkebunan sawit tersebut.

Bagi para penumpang, pembatalan penerbangan bukan sekadar perubahan jadwal. Di baliknya, ada biaya tambahan, agenda yang tertunda, dan ketidakpastian kapan mereka dapat tiba di rumah.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Bandara Soekarno-Hatta Bandara Juanda pengembalian dana tiket penjadwalan ulang penerbangan pembatalan penerbangan