PONTIANAK POST – Sebanyak 45 siswa dan guru dari tiga sekolah di Kabupaten Sleman, Jogjakarta, diduga keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (7/9). Mereka mengalami mual, muntah, pusing, dan sakit perut.
Peristiwa itu membuat wali murid cemas. Sejumlah orang tua mendesak penyaluran MBG dihentikan hingga keamanan makanan benar-benar dipastikan.
Korban terdiri atas 24 siswa dan guru SMPN 3 Turi, 19 siswa SMK Muhammadiyah 1 Turi, serta dua siswa SD Muhammadiyah Balerante. Mereka sebelumnya menyantap nasi putih, bola-bola daging, edamame, semangka, serta sayur kol dan wortel.
Sekretaris Kecamatan Turi Yunan Nurtrianto mengatakan, makanan tersebut dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman Turi Wonokerto. Dapur itu juga menyuplai MBG ke TK Indriyasana.
Makanan yang belum dikonsumsi di TK tersebut langsung ditarik setelah muncul laporan dugaan keracunan. Sekolah dan orang tua juga diminta terus memantau kondisi anak hingga tiga hari ke depan.
“Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa reaksi keracunan tidak harus muncul hari ini, tetapi bisa sampai tiga hari ke depan,” kata Yunan.
Pasien Berdatangan ke Puskesmas
Kepala Puskesmas Turi Dyah Arum Retnaningtyas mengatakan, korban mulai berdatangan ke instalasi gawat darurat sekitar pukul 09.30. Petugas medis langsung memberikan penanganan.
Sebagian pasien membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, mereka diminta segera kembali ke fasilitas kesehatan apabila keluhan muncul lagi.
“Walaupun saat ini kondisi anak-anak baik, kalau ada gejala lagi segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” ujar Dyah.
Orang Tua Cemas Keselamatan Anak
Rini Lestari, wali murid SMK Muhammadiyah 1 Turi, mengatakan dua anak kembarnya harus dirawat di puskesmas. Keduanya mengalami mual dan pusing setelah menyantap bola-bola daging yang disebut terasa pengar dan agak amis.
“Sudah dihentikan saja. Semiskin-miskinnya orang tua masih kuat memberi makan anak. Daripada semakin banyak korban,” katanya.
Kecemasan serupa dirasakan Diyati. Anaknya mengeluh pusing dan sempat muntah setelah menyantap menu MBG.
Diyati mengaku panik ketika melihat banyak ambulans dalam perjalanan menuju sekolah. Setelah mengetahui ada dugaan keracunan MBG, ia segera memastikan kondisi anaknya.
“Awalnya saya tidak tahu, tetapi di jalan banyak ambulans. Setelah diberi tahu ada keracunan MBG, saya langsung panik,” ujarnya.
Peristiwa tersebut membuat Diyati mempertimbangkan untuk kembali membawakan bekal dari rumah. Menurut dia, makanan yang disiapkan sendiri membuat orang tua lebih yakin terhadap keamanan konsumsi anak.
“Saya tidak mau menyalahkan. Namun, besok membawa bekal saja karena lebih aman dan lebih yakin,” tuturnya. (del/aph)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro