PONTIANAK POST – Kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Ratusan siswa dan guru di Blora serta Rembang, Jawa Tengah, mengalami gangguan kesehatan. Di Sidoarjo, Jawa Timur, 45 santri kembali dilarikan ke rumah sakit setelah keluhannya kambuh. Sementara itu, seorang siswi di Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami kejang hingga gangguan ingatan.
Di Blora, sebanyak 136 siswa dan seorang guru SMAN 1 Tunjungan mengalami sakit perut, diare, pusing, dan lemas pada Selasa (8/9). Keluhan muncul setelah mereka menyantap MBG yang dibagikan sehari sebelumnya.
Makanan yang terdiri atas nasi putih, ayam, tempe, sayuran, dan apel tersebut dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2.
Salah seorang siswa, Rafa Eka Bagos, mengatakan kondisi tubuhnya mulai tidak nyaman beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut. Dia mengalami pusing dan berulang kali buang air besar sejak dini hari.
“Mulai malam sekitar pukul 02.00 dan 03.00. Pagi sebelum berangkat sekolah dan ketika sudah di sekolah juga sempat ke toilet,” ungkap Rafa kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Ketua Satgas SPPG Blora Sri Setyorini mendatangi SMAN 1 Tunjungan untuk memantau kondisi siswa. Berdasarkan data yang diterimanya, 133 siswa menjalani pemeriksaan kesehatan dan enam di antaranya dirujuk ke klinik. Tiga siswa masih dirawat, sedangkan tiga lainnya telah diperbolehkan pulang.
“Jumlah pasti yang diperiksa ada 133 siswa. Enam dirujuk ke klinik, tiga masih dirawat dan tiga sudah pulang,” ujarnya.
Data jumlah siswa yang dilaporkan mengalami keluhan masih berbeda dengan jumlah yang telah menjalani pemeriksaan. Pendataan dan penanganan terhadap siswa terdampak terus dilakukan.
Diusulkan Tutup Permanen
Insiden di SMAN 1 Tunjungan bukan kali pertama dikaitkan dengan SPPG Sukorejo 2. Menurut Setyorini, kejadian tersebut merupakan insiden ketiga setelah pengelola dapur sebelumnya mendapat peringatan.
SPPG Sukorejo 2 mendistribusikan MBG ke sejumlah lembaga pendidikan, termasuk SMAN 1 Tunjungan, Pondok Pesantren Al Banjari, dan SD Islam Terpadu.
Satgas SPPG Blora akan mengusulkan penghentian permanen operasional SPPG Sukorejo 2. Namun, keputusan akhir mengenai sanksi tersebut berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami mau tidak mau harus mengusulkan untuk tutup,” kata Setyorini.
Evaluasi terhadap kebersihan dapur juga menguat setelah muncul informasi mengenai temuan belatung pada lauk ayam yang dibagikan di salah satu sekolah penerima. Temuan tersebut dinilai menunjukkan bahwa kebersihan dapur masih belum memenuhi standar.
“Artinya, kebersihan dapur tersebut masih kurang,” ujarnya.
Selain diusulkan ditutup, pengelola SPPG diminta mengembalikan dana kepada BGN. Besarannya dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat dikalikan biaya makanan yang dibagikan.
Satgas meminta bukti transfer pengembalian dana sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Saya nanti minta bukti transfernya,” tutur Setyorini.
Puluhan Siswa Rembang Dirawat
Dugaan keracunan MBG juga terjadi di MAN 2 Rembang. Sebanyak 26 siswa dilarikan ke Puskesmas Lasem pada Selasa (8/9). Sembilan siswa harus mendapat infus karena kondisinya lemas.
Selain siswa, sembilan guru mengalami gejala serupa. Namun, mereka tidak sampai menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Kepala MAN 2 Rembang Ahmad Suhadak Solikin mengatakan, keluhan mulai muncul pada Selasa pagi. Sejumlah siswa bergantian meminta izin ke kamar kecil karena mengalami sakit perut, pusing, mual, dan muntah.
Laporan dari sejumlah kelas kemudian terus bertambah. “Semula dua anak, tiga anak, akhirnya terus bertambah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Sehari sebelumnya, sebanyak 1.476 siswa menerima menu MBG berupa melon, ayam, tahu bacem, dan oseng jagung pipil. Makanan tersebut berasal dari SPPG Ngemplak yang dikelola CV Mas Radit.
Makanan tiba di sekolah sekitar pukul 10.20 dan dibagikan kepada siswa pukul 11.57 menjelang waktu istirahat. Seorang orang tua siswa mengaku mendapat kabar bahwa anaknya mengalami lemas dan mual setelah menyantap menu tersebut.
“Saya dikabari siang tadi, katanya badannya lemas dan mual. Kemungkinan karena makan MBG sehari sebelumnya,” ujarnya.
Pihak sekolah kemudian memutuskan menghentikan sementara pembagian MBG atas saran pihak terkait. Suhadak menyebut gejala yang dialami para siswa hampir sama dengan kasus sebelumnya di SMAN 1 Lasem yang menimpa ratusan pelajar.
“Kejadiannya hampir sama dengan sekolah tetangga kemarin,” katanya.
Keluhan 45 Santri Kambuh
Di Sidoarjo, sebanyak 45 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam kembali dilarikan ke rumah sakit pada Selasa (8/9). Mereka sebelumnya menjadi korban dugaan keracunan MBG dan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan.
Namun, keluhan berupa mual, muntah, diare, dan lemas kembali muncul. Sebanyak 33 santri dibawa ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo setelah waktu Isya, sedangkan 12 lainnya ditangani di RSI Siti Hajar.
Pelaksana Tugas Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo Prima Dessy Kusuma Rakhmawati mengatakan, 31 pasien telah diperbolehkan pulang. Dua santri masih dirawat karena kondisi tubuhnya lemas.
“Keluhannya relatif sama, yakni mual, muntah, diare, dan lemas,” katanya.
Menurut Prima, kondisi lambung yang masih sensitif diduga turut memengaruhi munculnya kembali gejala. Respons tubuh setiap pasien terhadap penyakit dan obat-obatan juga berbeda.
“Daya tahan dan respons tubuh terhadap obat-obatan setiap orang berbeda-beda,” ujarnya.
Prima belum dapat memastikan kondisi lambung para santri, termasuk kemungkinan adanya luka. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan yang kembali muncul setelah sekitar satu pekan.
Salah seorang korban, Aisyah Nurin Nudzila, masih merasa trauma mengonsumsi MBG. Ibunya, Sofa, bersyukur pengelola pondok akhirnya menolak pembagian makanan tersebut kepada santri.
“Trauma pasti. Kemarin adiknya waktu dapat juga tidak mau makan,” tuturnya.
Sofa berencana membawa Aisyah yang duduk di kelas IX pulang ke Jombang setelah menjalani perawatan. Dia berharap kondisi anaknya segera pulih.
Puluhan SPPG Belum Berizin
Pada hari yang sama, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengumpulkan 174 kepala SPPG untuk mengevaluasi pelaksanaan program MBG. Evaluasi digelar menyusul sejumlah kasus dugaan keracunan yang menimpa ratusan santri penerima manfaat.
Persoalan perizinan menjadi salah satu perhatian utama. Dari 174 SPPG di Sidoarjo, sekitar 21 belum memiliki izin dan 22 lainnya masih dalam proses pengurusan.
Pemerintah daerah akan memetakan berbagai kendala yang ditemukan. Setiap persoalan akan ditindaklanjuti sesuai kewenangan instansi terkait.
Izin operasional SPPG merupakan kewenangan BGN, sedangkan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Karena itu, seluruh SPPG didorong segera memenuhi persyaratan sanitasi.
“Kami mendorong agar SLHS benar-benar diselesaikan terlebih dahulu,” kata Ainur.
Siswi Karo Alami Kejang
Kondisi lebih serius dialami Febiola Purba, 16, siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dia diduga menjadi salah satu korban keracunan setelah menyantap MBG berlauk ikan tongkol pada 13 Agustus 2026.
Pada hari yang sama, sejumlah siswa lain mengalami gangguan kesehatan dan dibawa ke fasilitas kesehatan. Tiga hari kemudian, kondisi Febiola memburuk. Dia mengalami kejang hebat, lemas, dan pingsan.
Keluarga menyebut Febiola kemudian mengalami gangguan fungsi kognitif dan kehilangan ingatan sekitar 70 persen. Dia sempat tidak mengenali ayah, adik, teman, dan gurunya.
Kondisinya dilaporkan fluktuatif. Ingatannya terkadang kembali, tetapi kembali terganggu setelah mengalami kejang.
Febiola telah dibawa ke lima rumah sakit, yakni RS Kabanjahe, RS Efarina, RSU Haji Medan, RSUP H. Adam Malik Medan, dan RSU Amanda Berastagi. Hingga September, dia masih menjalani perawatan dan kontrol saraf.
Humas RSUP H. Adam Malik Medan Rosario Dorothy Simanjuntak membenarkan Febiola menjalani rawat jalan di rumah sakit tersebut. Febiola telah tiga kali berobat, yakni pada 31 Agustus serta 7 dan 8 September 2026.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus tersebut menemukan tiga jenis bakteri, yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara Hamid Rizal mengatakan, bakteri dapat ditemukan di berbagai tempat, termasuk makanan. Namun, keberadaannya dapat membahayakan kesehatan apabila jumlahnya melebihi ambang batas.
“Bakteri itu secara alami ada di mana-mana, termasuk di dalam makanan. Namun, menjadi berbahaya ketika jumlah atau volumenya melebihi ambang batas atau standar yang ditentukan,” ujarnya. (ari/noe/ali/ang/ful/san/oni)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro