BNPB Terjunkan 15 Ribu Personel Hadapi Karhutla Kalbar, Siaga Hingga Musim Hujan

Miftahul Khair • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 16:13 WIB
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)

PONTIANAK POST — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pergerakan tim satgas di lapangan tidak akan mengendur dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi pemadaman darat dan udara dipastikan terus berjalan hingga memasuki musim hujan yang diproyeksikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru akan turun pada Oktober 2026.

Komitmen tersebut ditegaskan Kepala BNPB Suharyanto saat melaporkan perkembangan penanganan bencana dalam rapat daring bersama Presiden RI Prabowo Subianto pada Senin (7/9). “Kami masih terus bekerja berjibaku paling tidak sampai musim hujan alami turun,” kata Kepala BNPB Suharyanto.

Guna memicu terbentuknya awan hujan di lokasi rawan, pihak BNPB intensif menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai penyokong pergerakan tim darat maupun armada water bombing di udara. “Mudah-mudahan operasi modifikasi cuaca ini juga bisa segera mendatangkan hujan,” ucapnya.

Baca Juga: Geram Karhutla Marak, Presiden Prabowo Perintahkan Kapolri Tindak Tegas Korporasi Nakal

Kerahkan 43 Ribu Personel Gabungan

Dalam memadamkan kebakaran lahan di enam wilayah prioritas, BNPB mengandalkan kekuatan gabungan sebanyak 43.481 personel yang terdiri dari unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan.

Sebaran personel terbanyak ditempatkan di Provinsi Kalimantan Barat mencapai 15.091 personel, disusul Sumatera Selatan 11.026 personel, Jambi 5.984 personel, Kalimantan Selatan 5.000 personel, Kalimantan Tengah 4.686 personel, serta Riau sebanyak 1.694 personel.

98 Persen Kebakaran Gambut Teratasi

Berdasarkan data rekapitulasi BNPB, akumulasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas—meliputi Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi—mencapai 72.009,10 hektare. Dari total areal terdampak tersebut, sebanyak 98 persen area terbakar berhasil dipadamkan, menyisakan sekitar 939,45 hektare titik api yang masih ditangani.

“Ini kami padamkan dengan operasi darat dan operasi udara. Apakah 939,45 ini setelah dipadamkan hari ini, besok berkurang? Mudah-mudahan berkurang, Bapak Presiden,” ujar Suharyanto.

Baca Juga: Tindaklanjuti Masukan DPRD Soal Karhutla, Pemkot Pontianak Siapkan Langkah Antisipasi Dampak Asap

Suharyanto menggarisbawahi karakteristik lahan gambut yang kompleks menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam. Meskipun bara api permukaan berhasil dipadamkan, potensi menyalanya kembali api dari bawah tanah (smoldering) serta hembusan asap pekat masih terus membayangi jarak pandang.

“Tapi kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan, karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru. Atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan, yang sudah dilaporkan padam, tiba-tiba hidup kembali,” tambahnya.

Editor : Miftahul Khair
penanganan karhutla bnpb karhutla kalbar Operasi Modifikasi Cuaca