Spesifikasi JS Kunisaki, Kapal Jepang Rp5 Triliun yang Dikirim dalam Misi Karhutla Kalimantan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 22:47 WIB
KS Kunisaki (Wikipedia)
JS Kunisaki (Wikipedia)

 

PONTIANAK POST - Spesifikasi JS Kunisaki memperlihatkan kapal militer Jepang itu bukan sekadar pengangkut tiga helikopter CH-47 Chinook untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Di balik tubuhnya yang menjulang setara gedung 11 lantai, kapal sepanjang 178 meter tersebut membawa kendaraan berat, fasilitas medis, pengolahan air bersih, hingga sarana pelayanan bagi korban bencana.

Kapal bernomor lambung LST-4003 itu tiba di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (10/9) pukul 10.45. Kedatangannya menandai operasi pemadaman kebakaran di luar negeri untuk pertama kalinya bagi Pasukan Bela Diri Jepang.

JS Kunisaki bertolak dari Pangkalan Kure, Prefektur Hiroshima, Minggu (30/8). Kapal membawa tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang beserta personel pendukung.

Sekitar 300 personel Jepang terlibat dalam misi tersebut. Sebanyak kurang lebih 180 di antaranya merupakan personel yang mendukung pengoperasian tiga Chinook, sedangkan sekitar 150 personel menyertai pelayaran JS Kunisaki.

Tiga helikopter itu selanjutnya menjalani pemeriksaan teknis dan uji terbang di Bandara Internasional Supadio Pontianak. Chinook dijadwalkan memperkuat operasi pemadaman karhutla pada 12–19 September 2026.

Selain melakukan water bombing, Chinook dapat mengangkut petugas, peralatan, dan logistik ke daerah yang sulit dijangkau melalui darat. Pemerintah Indonesia tetap menjadi pemimpin utama operasi, sedangkan tim Jepang bertugas sebagai unsur pendukung dalam misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).

Wagub Kalbar berbincang dengan perwakilan tentara Jepang saat berada di pelabuhan Kijing Mempawah . (ISTIMEWA)
Wagub Kalbar berbincang dengan perwakilan tentara Jepang saat berada di pelabuhan Kijing Mempawah . (ISTIMEWA) 

Dukungan bagi Pemadaman Gambut

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyebut kedatangan kapal dan tim Jepang sebagai dukungan penting. Bantuan itu tiba ketika petugas masih menghadapi kebakaran gambut yang sulit dipadamkan.

“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini,” kata Krisantus.

Kebakaran gambut tidak selalu terlihat dari permukaan. Bara dapat merambat di bawah tanah dan kembali memunculkan api meski bagian atas lahan tampak telah padam.

Krisantus berharap helikopter Jepang memperluas jangkauan pemadaman. Terutama di kawasan yang sulit ditembus petugas darat.

Kapal Angkut 13 Ribu Ton

JS Kunisaki merupakan kapal ketiga kelas Oosumi yang dioperasikan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF). Nama Kunisaki diambil dari Semenanjung Kunisaki di Prefektur Oita, Jepang.

Kapal tersebut dibangun Hitachi Zosen Corporation di Galangan Maizuru berdasarkan program pengadaan Tahun Fiskal 1999. Peletakan lunas dilakukan pada 7 September 2000 dan kapal diluncurkan pada 13 Desember 2001.

MENUJU KIJING: Kapal angkut Pasukan Bela Diri Maritim Jepang JS Kunisaki membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Barat. Kapal dijadwalkan tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Rabu (9/9). FOTO: DOKUMENTASI JSDF
MENUJU KIJING: Kapal angkut Pasukan Bela Diri Maritim Jepang JS Kunisaki membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Barat. Kapal dijadwalkan tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Rabu (9/9). FOTO: DOKUMENTASI JSDF

JS Kunisaki resmi berdinas pada 26 Februari 2003. Pembangunannya menelan biaya sekitar 48 miliar yen setara Rp 5,4 triliun atau. Angka ini setara anggaran lima hari MBG (Makan Bergizi Gratis).

Kapal ini memiliki panjang 178 meter, lebar maksimum 25,8 meter, kedalaman 17 meter, dan sarat air enam meter. Bobot standarnya mencapai sekitar 8.900 ton, sedangkan bobot penuh sekitar 13 ribu ton.

Dua mesin diesel Mitsui Zosen 16V42M-A menghasilkan tenaga gabungan sebesar 26.400 PS. Tenaga disalurkan melalui dua poros baling-baling dan mampu mendorong kapal hingga kecepatan maksimum 22 knot atau sekitar 41 kilometer per jam.

JS Kunisaki diawaki sekitar 137 personel tetap. Kapal dapat membawa tambahan sekitar 330 personel pendarat dan bermarkas di Kure di bawah Skuadron Amfibi Ke-1 JMSDF.

Mampu Membawa Tank

Daya angkut menjadi kekuatan utama JS Kunisaki. Kapal ini dirancang untuk memindahkan kendaraan berat, pasukan, helikopter, bantuan kemanusiaan, dan berbagai perlengkapan dalam jumlah besar.

Jembatan lipat yang menghubungkan dermaga dengan geladak kendaraan mampu menahan beban hingga 50 ton. Kapasitas tersebut setara dengan bobot satu tank tempur Tipe 90.

Geladak kendaraan dapat menampung sekitar 60 truk atau sepuluh kendaraan tempur amfibi AAV7. Jumlah muatan bergantung pada jenis kendaraan dan konfigurasi yang digunakan selama operasi.

Kapal juga mempunyai lift berukuran besar yang menghubungkan geladak kendaraan dengan bagian atas. Peralatan berat maupun muatan yang memerlukan penanganan khusus dapat dipindahkan menggunakan sistem tersebut.

Sebuah derek besar tersedia untuk memuat kontainer dari darat. Pengoperasiannya dilakukan dengan pengawasan visual langsung agar muatan dapat ditempatkan secara aman.

Dalam operasi kemanusiaan, ruang angkut tersebut dapat digunakan untuk membawa kendaraan pemadam, ambulans, generator, obat-obatan, makanan, tangki air, dan perlengkapan darurat.

Kemampuan inilah yang dimanfaatkan dalam misi ke Indonesia. Tiga Chinook dapat diangkut melintasi laut tanpa harus melakukan penerbangan jarak jauh dari Jepang menuju Kalimantan.

Landasan Udara Terapung

Bagian atas JS Kunisaki berupa geladak penerbangan luas dengan dua titik pendaratan dan lepas landas. Geladak tersebut dapat digunakan untuk mengoperasikan helikopter angkut berat seperti CH-47 Chinook.

Sebagian permukaannya dilapisi bahan tahan panas. Lapisan itu memungkinkan geladak digunakan oleh pesawat angkut tiltrotor Bell Boeing V-22 Osprey yang menghasilkan panas tinggi dari mesinnya.

Dalam operasi penanggulangan bencana, geladak penerbangan membuat JS Kunisaki dapat berfungsi sebagai pangkalan pendukung terapung. Helikopter dapat digunakan untuk mengevakuasi korban, membawa tenaga medis, mendistribusikan logistik, atau menjangkau daerah yang terputus dari akses darat.

Pada misi karhutla di Kalimantan, kapal berperan membawa dan mendukung mobilisasi tiga Chinook. Helikopter kemudian beroperasi dari pangkalan yang telah ditentukan di Indonesia.

Membawa Dua Hovercraft

Di bagian buritan JS Kunisaki terdapat dok yang mampu membawa dua Landing Craft Air Cushion atau LCAC. Kendaraan berbentuk hovercraft itu dapat mengangkut muatan dari kapal menuju pantai tanpa membutuhkan pelabuhan konvensional.

Setiap LCAC memiliki panjang sekitar 25 meter. Mesinnya menghasilkan tenaga gabungan sekitar 16 ribu daya kuda.

Bantalan udara di bawah badan membuat LCAC dapat bergerak di atas permukaan air, pantai dangkal, pasir, dan sebagian medan datar. Kecepatannya dapat mendekati 100 kilometer per jam.

Setiap LCAC mampu membawa kendaraan atau muatan dengan bobot hingga sekitar 50 ton. Kapasitas tersebut memungkinkan kendaraan berat dan berbagai perlengkapan darurat dipindahkan dari kapal menuju daratan.

Kemampuan mendarat di pantai berguna ketika pelabuhan rusak atau tertutup puing akibat bencana. Air bersih, makanan, pakaian, kendaraan penyelamat, dan alat berat dapat dikirim langsung menuju kawasan terdampak.

Saat LCAC diluncurkan, bagian buritan kapal diturunkan hingga air masuk ke dok. Pintu belakang kemudian dibuka agar hovercraft dapat bergerak keluar.

Ruang tersebut juga dapat digunakan untuk meluncurkan kendaraan tempur amfibi AAV7. Dalam misi kemanusiaan, kemampuan itu berubah menjadi sarana untuk membuka akses bantuan.

Air Bersih bagi Korban

JS Kunisaki dirancang untuk menopang kehidupan ratusan orang selama pelayaran panjang. Kapal memiliki tangki berkapasitas besar dan perangkat penyulingan air yang dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih di daerah bencana.

Geladak kendaraannya dapat dialihfungsikan menjadi pusat pelayanan darurat. Area itu dapat digunakan untuk menyediakan air bersih, fasilitas mandi, pencucian pakaian, dan pengisian daya telepon seluler.

Layanan tersebut penting ketika bencana memutus aliran listrik dan merusak jaringan air bersih. Kapal dapat menjadi pusat bantuan sementara sembari membawa kebutuhan pokok dari laut.

Bagi Kalimantan Barat, kemampuan pengolahan air juga memiliki nilai penting. Kemarau berkepanjangan telah menyusutkan sejumlah sumber air, sedangkan intrusi air laut menyebabkan air baku di sebagian kawasan menjadi asin.

Dilengkapi Ruang Operasi

Kemampuan medis JS Kunisaki cukup lengkap untuk mendukung operasi kemanusiaan. Kapal mempunyai ruang pemeriksaan, ruang operasi, alat anestesi, elektrokardiograf, dan perangkat pemantau kondisi pasien.

Fasilitas itu dilengkapi lampu operasi dan perangkat sinar-X portabel. Kapal bahkan menyediakan ruang perawatan gigi untuk mendukung penugasan yang dapat berlangsung berbulan-bulan.

Keberadaan fasilitas medis memungkinkan tenaga kesehatan memberikan pemeriksaan dan tindakan kepada personel maupun korban bencana. Kapal juga dapat membantu layanan kesehatan apabila fasilitas di darat rusak atau tidak dapat dijangkau.

Dapur JS Kunisaki mampu menyiapkan sekitar 300 porsi makanan sekaligus. Ruang hunian disediakan bagi awak dan ratusan personel tambahan, termasuk area terpisah bagi personel perempuan.

Ketersediaan tempat tinggal, makanan, layanan medis, air bersih, listrik, dan sarana angkut membuat JS Kunisaki menyerupai kota kecil yang bergerak di atas laut.

Persenjataan untuk Bertahan

Meski berukuran besar, JS Kunisaki bukan kapal perusak yang dirancang untuk pertempuran langsung. Kapal ini tidak membawa rudal antikapal, rudal antipesawat, atau meriam utama seperti kapal kombatan.

Persenjataan utamanya berupa dua sistem meriam otomatis Phalanx kaliber 20 milimeter. Sistem pertahanan jarak dekat atau Close-In Weapon System tersebut dirancang menghadang ancaman yang telah mendekati kapal.

Phalanx mampu menembakkan sekitar 3.000 hingga 4.500 peluru per menit. JS Kunisaki juga dibekali empat peluncur pengecoh Mk.137 sebagai bagian dari sistem Mark 36 SRBOC untuk menghadapi ancaman peluru kendali.

Kemampuan pemantauannya ditopang radar pencari udara OPS-14C, radar pencari sasaran permukaan OPS-28D, dan radar navigasi OPS-20.

Karena memprioritaskan ruang angkut, JS Kunisaki membutuhkan perlindungan kapal kombatan lain apabila dikerahkan dalam keadaan darurat militer.

Pernah Membantu Sumatra

Indonesia bukan wilayah asing bagi JS Kunisaki. Kapal ini pernah dikerahkan setelah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada Desember 2004 menghancurkan Aceh dan sejumlah kawasan di Sumatra.

Dalam misi tersebut, JS Kunisaki berlayar bersama kapal perusak JS Kurama dan kapal pembekal JS Tokiwa. Kapal membawa bantuan logistik, tiga helikopter CH-47JA, dan dua helikopter UH-60JA.

JS Kunisaki berfungsi sebagai pangkalan terapung untuk mendukung distribusi bantuan dan operasi udara di wilayah terdampak. Lebih dari dua dekade kemudian, kapal yang sama kembali ke Indonesia membawa tiga Chinook untuk menghadapi karhutla.

Rekam jejak kemanusiaannya juga mencakup bantuan setelah Gempa Besar Jepang Timur pada 2011. Ketika gempa dan tsunami terjadi, JS Kunisaki sedang menjalani pemeriksaan tahunan di Kure.

Pemeriksaan diselesaikan pada hari yang sama agar kapal dapat membawa Tim Medis Bantuan Bencana dari Prefektur Hiroshima menuju daerah terdampak.

Menjangkau Berbagai Negara

JS Kunisaki terlibat dalam Pacific Partnership 2010 di Kamboja dan Vietnam serta Pacific Partnership 2014 di Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Kegiatan tersebut mencakup pelayanan medis, bantuan kemanusiaan, dan pertukaran dengan masyarakat setempat.

Kapal ini juga mengikuti latihan penanggulangan bencana dan medis ADMM-Plus di Thailand pada 2016. Selain itu, JS Kunisaki terlibat dalam sejumlah latihan bersama Amerika Serikat, Australia, India, dan Prancis.

Pada 2024, JS Kunisaki mengikuti Indo-Pacific Deployment. Rangkaian penugasan tersebut meliputi latihan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana di Polinesia Prancis serta latihan multilateral RIMPAC di Hawaii.

Pengalaman itu membentuk fungsi ganda JS Kunisaki. Kapal tetap mempunyai kemampuan militer, tetapi ruang angkut dan fasilitasnya dapat segera dialihkan untuk menghadapi bencana.

Misi Bersejarah di Kalimantan

Keberangkatan JS Kunisaki dari Kure pada 30 Agustus 2026 membuka babak baru dalam sejarah operasionalnya. Untuk pertama kalinya, Pasukan Bela Diri Jepang mengerahkan kemampuan pemadaman kebakaran dalam misi bantuan darurat internasional.

Komandan kegiatan bantuan bencana Jepang, Kolonel Syunji Nakahara, mengatakan timnya akan bekerja sama dengan militer Indonesia. Mereka juga akan mempelajari pengalaman Indonesia dalam menangani karhutla.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat kembali menjalani kehidupan secara aman. Asap karhutla telah mengganggu kesehatan, pendidikan, penerbangan, dan aktivitas ekonomi warga.

Kalimantan menjadi lokasi operasi karena kebakaran telah menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Kebakaran gambut juga sulit ditangani karena api dapat merambat di bawah tanah dan kembali muncul setelah permukaannya terlihat padam.

Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, pemadaman menghadapi keterbatasan sumber air. Kemarau menyebabkan debit sungai menyusut, sementara intrusi air laut membuat sebagian air sungai menjadi asin.

Kehadiran JS Kunisaki menunjukkan kapal angkut militer tidak hanya berfungsi memindahkan pasukan dan kendaraan tempur. Geladak penerbangan, fasilitas medis, pengolahan air, daya angkut kendaraan, serta dok LCAC dapat menjadikannya pusat bantuan bergerak ketika bencana memutus akses darat.

Dua puluh dua tahun setelah membawa helikopter dan bantuan bagi korban tsunami Sumatra, JS Kunisaki kembali ke Indonesia. Kali ini, tiga Chinook yang dibawanya mengemban satu misi: membantu menghentikan api sebelum lebih banyak hutan, satwa, dan kehidupan masyarakat Kalimantan menjadi korban. 

Spesifikasi JS Kunisaki

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kapal JS Kunisaki CH-47 Chinook Jepang bantuan karhutla Kalimantan kapal kelas Oosumi misi Jepang di Indonesia