PONTIANAK POST - JS Kunisaki ternyata pernah terlibat dalam misi kemanusiaan setelah gempa dan tsunami Sumatra pada 2004. Hampir 22 tahun berselang, kapal milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang itu kembali ke Indonesia dengan membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Kapal bernomor lambung LST-4003 tersebut tiba di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (10/9) pukul 10.45. Kedatangannya membuka kembali jejak panjang hubungan kemanusiaan antara kapal Jepang tersebut dan Indonesia.
Jika pada 2005 JS Kunisaki datang membawa helikopter, tim medis, dan bantuan untuk korban tsunami di Aceh, kali ini tiga Chinook yang diangkutnya disiapkan menjangkau titik api di kawasan gambut.
Misi tersebut juga tercatat sebagai operasi pemadaman kebakaran di luar negeri untuk pertama kalinya bagi Pasukan Bela Diri Jepang.
Pernah Berlabuh di Aceh
Gempa berkekuatan magnitudo 9,0 mengguncang lepas pantai barat Sumatra pada 26 Desember 2004. Gempa itu memicu tsunami besar yang menghantam Aceh dan berbagai negara di sepanjang Samudra Hindia.
Bencana tersebut merenggut lebih dari 210 ribu jiwa di Asia dan Afrika berdasarkan catatan Pemerintah Jepang per 4 Februari 2005. Infrastruktur di sejumlah negara terdampak juga mengalami kerusakan berat.
Jepang kemudian memutuskan mengirim Pasukan Bela Diri untuk menjalankan misi bantuan darurat internasional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Arsip resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia mencatat JS Kunisaki menjadi salah satu unsur utama dalam misi tersebut. Kapal itu dikerahkan bersama kapal pembekal JS Tokiwa dan kapal perusak JS Kurama.
Ketiga kapal dijadwalkan tiba di lepas pantai Banda Aceh pada 24 Januari 2005. JS Kunisaki kemudian berfungsi sebagai pangkalan terapung bagi operasi udara dan distribusi bantuan.
Membawa Lima Helikopter
Dalam misi tsunami Sumatra, JS Kunisaki membawa lima helikopter milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang. Armada tersebut terdiri atas tiga CH-47JA Chinook dan dua UH-60JA.
Helikopter digunakan untuk mengangkut personel dan bantuan dari bandara di Banda Aceh menuju kawasan terdampak. Operasi udara sangat dibutuhkan karena jalan, jembatan, dan permukiman di sepanjang pantai barat Aceh hancur diterjang tsunami.
Sejumlah wilayah terputus dari jalur darat. Para korban yang selamat harus menunggu bantuan makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan kesehatan.
Dari geladak JS Kunisaki, helikopter berat diterbangkan menuju kawasan yang masih dapat dijangkau dari udara. Kapal tersebut menjadi penghubung antara bantuan yang datang melalui laut dan warga yang terisolasi di daratan.
Misi itu melibatkan sekitar 970 personel Pasukan Bela Diri Jepang. Mereka terdiri atas sekitar 230 personel pasukan darat, 640 personel pasukan maritim, 90 personel pasukan udara, serta unsur koordinasi gabungan.
Mengangkut Obat dan Tim Medis
JS Kunisaki tidak hanya membawa helikopter. Kapal tersebut juga mengangkut tim bantuan medis dan perlengkapan pendukung operasi kemanusiaan.
Tim medis Jepang membuka fasilitas pelayanan di Banda Aceh pada 19 Januari 2005. Mereka memberikan pengobatan dan menjalankan kegiatan pencegahan penyakit di tengah kondisi lingkungan yang rusak.
Ancaman kesehatan menjadi persoalan serius setelah tsunami. Sumber air tercemar, sanitasi rusak, dan banyak korban mengalami luka serta kehilangan tempat tinggal.
Pasukan Bela Diri Udara Jepang turut mengoperasikan pesawat C-130H untuk menerbangkan bantuan melalui rute Medan–Banda Aceh. Operasi tersebut dimulai pada 10 Januari 2005.
JS Kunisaki, JS Tokiwa, dan JS Kurama mendukung pengangkutan tim medis, personel penerbangan, serta berbagai perlengkapan dari Jepang menuju Aceh.
Bagi para korban, bantuan yang tiba bukan sekadar muatan logistik. Setiap penerbangan helikopter membawa makanan, obat-obatan, dan harapan bagi warga yang kehilangan keluarga serta tempat tinggal.
Kembali Membawa Chinook
Hampir 22 tahun setelah misi tsunami Sumatra, JS Kunisaki kembali memasuki perairan Indonesia. Kali ini, kapal tersebut membawa tiga CH-47 Chinook untuk membantu menghadapi karhutla di Kalimantan.
JS Kunisaki bertolak dari Pangkalan Kure, Prefektur Hiroshima, pada Minggu (30/8). Kapal membawa sekitar 150 personel, sedangkan kurang lebih 180 personel lainnya mendukung pengoperasian tiga helikopter.
Secara keseluruhan, sekitar 300 personel Jepang terlibat dalam misi bantuan tersebut. Mereka akan bekerja bersama tim Indonesia dalam kerangka Humanitarian Assistance and Disaster Relief atau HADR.
Setelah diturunkan dari kapal, tiga Chinook menjalani pemeriksaan teknis dan uji terbang di Bandara Internasional Supadio Pontianak. Helikopter dijadwalkan memperkuat pemadaman pada 12–19 September 2026.
Pemerintah Indonesia tetap menjadi pemimpin utama operasi. Tim Jepang berperan sebagai unsur pendukung dan menjalankan misi sesuai lokasi prioritas yang ditetapkan Satgas Karhutla.
Dulu Tsunami, Kini Karhutla
Dua bencana yang dihadapi JS Kunisaki memiliki karakter berbeda. Tsunami menghancurkan permukiman dan infrastruktur dalam waktu singkat, sedangkan karhutla bergerak lebih perlahan tetapi menimbulkan dampak berkepanjangan.
Api gambut dapat merambat di bawah tanah. Bara sering bertahan meski permukaan lahan terlihat telah padam.
Kabut asap juga menyelimuti permukiman dan mengganggu kesehatan masyarakat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok paling rentan.
Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, pemadaman menghadapi keterbatasan sumber air. Kemarau menyebabkan debit sungai menyusut, sementara intrusi air laut membuat sebagian air baku menjadi asin.
Tiga Chinook akan digunakan untuk melakukan water bombing di kawasan yang sulit dijangkau. Helikopter juga dapat mengangkut petugas, perlengkapan, dan logistik menuju lokasi operasi.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyebut kedatangan tim Jepang sebagai bantuan yang sangat berarti.
“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini,” katanya.
Memutus Kepala Api
Kepala BNPB Suharyanto mengingatkan bahwa helikopter tidak dapat bekerja sendiri. Water bombing paling efektif ketika api masih kecil dan berada di lokasi yang sulit ditembus petugas darat.
“Helikopter water bombing itu hanya efektif ketika apinya masih kecil, terutama di tempat-tempat yang susah dijangkau satgas darat. Digunakan untuk membantu satgas darat memutus kepala apinya,” katanya.
Air yang dijatuhkan dari udara berfungsi menekan kobaran dan memperlambat penjalaran. Satgas darat tetap diperlukan untuk membasahi gambut hingga lapisan bawah.
Petugas juga harus memastikan tidak ada bara yang kembali menyala. Tanpa pembasahan menyeluruh, api dapat muncul lagi ketika lahan mengering dan angin menguat.
Krisantus berharap kemampuan angkut dan jangkauan Chinook dapat memperkuat kerja petugas di lapangan.
“Api tidak mudah padam karena banyak lahan gambut. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit terlihat,” ujarnya.
Kapal Angkut 13 Ribu Ton
JS Kunisaki merupakan kapal ketiga kelas Oosumi yang dioperasikan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF). Nama Kunisaki diambil dari Semenanjung Kunisaki di Prefektur Oita.
Kapal ini dibangun Hitachi Zosen Corporation di Galangan Maizuru. Lunasnya diletakkan pada 7 September 2000, kemudian diluncurkan pada 13 Desember 2001.
JS Kunisaki resmi berdinas pada 26 Februari 2003. Biaya pembangunannya mencapai sekitar 48 miliar yen atau sekira Rp5,4 trilin, setara anggaran untuk lima hari anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kapal memiliki panjang 178 meter dan lebar maksimum 25,8 meter. Tubuhnya menjulang setara gedung 11 lantai.
Bobot standar kapal mencapai sekitar 8.900 ton, sedangkan bobot penuhnya sekitar 13 ribu ton. Dua mesin diesel menghasilkan tenaga gabungan 26.400 PS dan mampu mendorong kapal hingga kecepatan 22 knot atau 41 kilometer per jam.
Menjadi Kota Kecil Terapung
Geladak kendaraan JS Kunisaki mampu menampung sekitar 60 truk atau sepuluh kendaraan tempur amfibi AAV7. Konfigurasi muatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap operasi.
Kapal juga dilengkapi dua Landing Craft Air Cushion atau LCAC. Hovercraft tersebut dapat memindahkan kendaraan dan muatan berbobot hingga sekitar 50 ton menuju pantai tanpa bergantung pada pelabuhan konvensional.
Kemampuan itu sangat berguna ketika gempa atau tsunami menghancurkan dermaga. Bantuan dapat dipindahkan dari kapal menuju daratan melalui pantai dangkal atau kawasan berpasir.
Bagian atas JS Kunisaki berupa geladak penerbangan dengan dua titik operasi helikopter. Geladak tersebut memungkinkan kapal berfungsi sebagai pangkalan pendukung terapung.
Fasilitas medisnya mencakup ruang pemeriksaan, ruang operasi, alat anestesi, elektrokardiograf, perangkat pemantau pasien, lampu operasi, dan sinar-X portabel. Kapal juga memiliki ruang perawatan gigi.
Perangkat penyulingan air dapat membantu menyediakan air bersih. Geladak kendaraan juga dapat dialihfungsikan menjadi tempat mandi, pencucian pakaian, pengisian daya telepon seluler, dan pusat pelayanan darurat.
Dapur kapal mampu menyiapkan sekitar 300 porsi makanan sekaligus. Tempat tinggal tersedia bagi awak dan ratusan personel tambahan, termasuk ruangan terpisah bagi personel perempuan.
Kombinasi tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, air bersih, listrik, helikopter, dan kendaraan pendarat membuat JS Kunisaki menyerupai kota kecil di atas laut.
Dua Misi, Satu Tujuan
Pada 2005, JS Kunisaki membantu menjangkau warga Aceh yang terputus dari dunia luar setelah tsunami. Pada 2026, kapal yang sama datang untuk membantu masyarakat Kalimantan keluar dari ancaman api dan kabut asap.
Komandan kegiatan bantuan bencana Jepang, Kolonel Syunji Nakahara, mengatakan timnya akan berkoordinasi dan bekerja sama dengan militer Indonesia. Tim Jepang juga akan mempelajari pengalaman Indonesia dalam menangani karhutla.
Misi tersebut diarahkan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara aman. Bantuan Jepang tidak menggantikan peran Indonesia, tetapi memperkuat upaya yang telah dijalankan petugas darat dan udara.
Hampir 22 tahun memisahkan dua kedatangan JS Kunisaki ke Indonesia. Namun, muatan yang dibawanya tetap memiliki arti serupa: pertolongan bagi manusia yang sedang menghadapi bencana.
Dahulu, tiga Chinook diterbangkan dari kapal untuk membawa bantuan kepada korban tsunami Sumatra. Kini, tiga Chinook kembali dibawa melintasi laut untuk menghentikan api sebelum lebih banyak hutan, satwa, dan kehidupan masyarakat Kalimantan menjadi korban.
Jejak JS Kunisaki di Indonesia
- 26 Desember 2004: Gempa dan tsunami melanda Sumatra serta kawasan Samudra Hindia.
- Januari 2005: Jepang mengerahkan sekitar 970 personel untuk membantu korban di Aceh.
- 24 Januari 2005: JS Kunisaki, JS Tokiwa, dan JS Kurama dijadwalkan tiba di lepas pantai Banda Aceh.
- Misi 2005: JS Kunisaki membawa tiga CH-47JA, dua UH-60JA, tim medis, dan bantuan kemanusiaan.
- 30 Agustus 2026: JS Kunisaki bertolak dari Pangkalan Kure menuju Indonesia.
- 10 September 2026: Kapal tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah.
- 12–19 September 2026: Tiga Chinook dijadwalkan membantu operasi pemadaman karhutla di Kalimantan.