JS Kunisaki Mendarat di Kalimantan, Kapal Jepang Seberat 13.000 Ton Seharga Lima Hari MBG

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 23:04 WIB
MENUJU KIJING: Kapal angkut Pasukan Bela Diri Maritim Jepang JS Kunisaki membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Barat. Kapal dijadwalkan tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Rabu (9/9). FOTO: DOKUMENTASI JSDF
MENUJU KIJING: Kapal angkut Pasukan Bela Diri Maritim Jepang JS Kunisaki membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Barat. Kapal dijadwalkan tiba di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Rabu (9/9). FOTO: DOKUMENTASI JSDF

 

PONTIANAK POST — Harga JS Kunisaki saat dibangun mencapai sekitar 48 miliar yen. Jika dikonversikan menggunakan kurs saat ini, nilai kapal militer Jepang yang membawa tiga helikopter CH-47 Chinook ke Kalimantan itu mencapai kurang lebih Rp5,5 triliun.

Nilai tersebut setara dengan sekitar lima hari biaya operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Biaya pelaksanaan MBG secara nasional diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun per hari ketika program berjalan dalam kapasitas penuh.

Perbandingan itu memberi gambaran mengenai besarnya nilai JS Kunisaki. Kapal tersebut tidak hanya dibangun untuk mengangkut pasukan dan kendaraan tempur, tetapi juga dapat diubah menjadi rumah sakit, pusat pengolahan air bersih, tempat pengungsian, serta pangkalan helikopter ketika bencana terjadi.

Wagub Kalbar berbincang dengan perwakilan tentara Jepang saat berada di pelabuhan Kijing Mempawah . (ISTIMEWA)
Wagub Kalbar berbincang dengan perwakilan tentara Jepang saat berada di pelabuhan Kijing Mempawah . (ISTIMEWA)

JS Kunisaki tiba di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (10/9) pukul 10.45. Kapal bernomor lambung LST-4003 tersebut membawa tiga Chinook untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Perbandingan Bersifat Ilustratif

Nilai Rp5,5 triliun diperoleh dengan mengalikan biaya pembangunan JS Kunisaki sebesar 48 miliar yen dengan kurs sekitar Rp114 per yen pada 10 September 2026. Hasilnya mencapai kurang lebih Rp5,47 triliun.

Sementara itu, biaya operasional MBG dalam kapasitas penuh disebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari. Dengan perhitungan tersebut, nilai pembangunan JS Kunisaki setara dengan 4,6 hari atau dibulatkan menjadi sekitar lima hari operasional MBG.

Perbandingan tersebut bersifat ilustratif, bukan perbandingan fiskal langsung. Biaya JS Kunisaki merupakan belanja modal untuk membangun kapal yang dapat digunakan selama puluhan tahun, sedangkan anggaran MBG merupakan belanja program rutin untuk menyediakan makanan bagi jutaan penerima.

Harga kapal juga merupakan nilai ketika dibangun lebih dari dua dekade lalu. Perhitungan Rp5,5 triliun belum memasukkan perubahan inflasi, biaya pemeliharaan, operasional, bahan bakar, dan modernisasi sepanjang masa dinasnya.

Melayani Jepang Selama 23 Tahun

JS Kunisaki merupakan kapal ketiga kelas Oosumi yang dioperasikan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF). Nama Kunisaki diambil dari Semenanjung Kunisaki di Prefektur Oita.

Kapal tersebut dibangun Hitachi Zosen Corporation di Galangan Maizuru melalui program pengadaan Tahun Fiskal 1999. Peletakan lunas dilakukan pada 7 September 2000 dan peluncuran berlangsung pada 13 Desember 2001.

JS Kunisaki resmi masuk dinas pada 26 Februari 2003. Artinya, ketika tiba di Mempawah, kapal tersebut telah melayani Jepang selama lebih dari 23 tahun.

Dengan masa pakai sepanjang itu, nilai pembangunannya tidak berhenti pada satu penugasan. Kapal telah mengikuti operasi bantuan bencana, misi medis, latihan kemanusiaan, dan latihan multilateral di berbagai negara.

JS Kunisaki (Wikipedia)
JS Kunisaki (Wikipedia)

 

Pernah Membantu Korban Tsunami

Indonesia bukan tujuan pertama JS Kunisaki. Kapal yang sama pernah dikerahkan setelah gempa dan tsunami Sumatra menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004.

Gempa bermagnitudo 9,0 memicu gelombang tsunami yang melanda negara-negara di sekitar Samudra Hindia. Lebih dari 210 ribu orang di Asia dan Afrika dilaporkan meninggal dunia berdasarkan catatan Pemerintah Jepang per 4 Februari 2005.

Jepang kemudian mengerahkan Pasukan Bela Diri dalam operasi bantuan darurat internasional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. JS Kunisaki berlayar bersama kapal pembekal JS Tokiwa dan kapal perusak JS Kurama.

Arsip resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia mencatat ketiga kapal dijadwalkan tiba di lepas pantai Banda Aceh pada 24 Januari 2005. JS Kunisaki dijadikan pangkalan terapung untuk mendukung operasi udara dan distribusi bantuan.

Membawa Lima Helikopter ke Aceh

Dalam misi tsunami Sumatra, JS Kunisaki mengangkut lima helikopter milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang. Armada itu terdiri atas tiga CH-47JA Chinook dan dua UH-60JA.

Helikopter digunakan untuk mengirimkan personel dan bantuan dari bandara menuju wilayah terdampak. Operasi udara menjadi penting karena jalan, jembatan, dan permukiman di sepanjang pantai barat Aceh hancur diterjang gelombang.

Sejumlah daerah terputus dari akses darat. Para penyintas menunggu makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan kesehatan.

Dari geladak JS Kunisaki, helikopter berat terbang membawa bantuan menuju daerah yang masih dapat dijangkau melalui udara. Kapal menjadi penghubung antara bantuan yang tiba melalui laut dan warga yang terisolasi di daratan.

Misi Jepang tersebut melibatkan sekitar 970 personel. Mereka terdiri atas sekitar 230 personel pasukan darat, 640 personel pasukan maritim, 90 personel pasukan udara, serta unsur koordinasi gabungan.

Kembali Membawa Tiga Chinook

Hampir 22 tahun setelah misi tsunami Sumatra, JS Kunisaki kembali ke Indonesia. Kali ini, kapal tersebut membawa tiga CH-47 Chinook untuk menghadapi karhutla di Kalimantan.

JS Kunisaki bertolak dari Pangkalan Kure, Prefektur Hiroshima, pada Minggu (30/8). Kapal membawa sekitar 150 personel, sedangkan kurang lebih 180 personel lainnya mendukung pengoperasian tiga helikopter.

Secara keseluruhan, sekitar 300 personel Jepang terlibat dalam misi tersebut. Penugasan ini menjadi operasi pemadaman kebakaran di luar negeri untuk pertama kalinya bagi Pasukan Bela Diri Jepang.

Setelah diturunkan dari kapal, tiga Chinook menjalani pemeriksaan teknis dan uji terbang di Bandara Internasional Supadio Pontianak. Helikopter dijadwalkan memperkuat operasi pemadaman pada 12–19 September 2026.

Pemerintah Indonesia tetap menjadi pemimpin utama penanganan karhutla. Tim Jepang bertugas sebagai unsur pendukung dalam misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief atau HADR.

Menjangkau Api di Pedalaman

Chinook dapat melakukan water bombing di lokasi kebakaran yang sulit dijangkau petugas darat. Helikopter angkut berat itu juga mampu membawa personel, peralatan, dan logistik menuju kawasan terpencil.

Kemampuan tersebut dibutuhkan karena api di lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan. Bara bahkan bisa bertahan setelah api di permukaan terlihat padam.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyebut kedatangan tim Jepang sebagai dukungan penting bagi petugas di lapangan.

“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini,” katanya.

Krisantus berharap tiga Chinook memperluas jangkauan pemadaman, terutama di kawasan yang sulit ditembus melalui darat.

“Api tidak mudah padam karena banyak lahan gambut. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit terlihat,” ujarnya.

Kapal Seberat 13 Ribu Ton

JS Kunisaki memiliki panjang 178 meter dan lebar maksimum 25,8 meter. Tubuh kapal menjulang setara gedung 11 lantai.

Bobot standarnya sekitar 8.900 ton, sedangkan bobot penuh mencapai kurang lebih 13 ribu ton. Dua mesin diesel menghasilkan tenaga gabungan 26.400 PS.

Tenaga tersebut disalurkan melalui dua poros baling-baling. Kapal mampu melaju hingga kecepatan maksimum 22 knot atau sekitar 41 kilometer per jam.

JS Kunisaki diawaki sekitar 137 personel tetap. Kapal juga dapat mengangkut tambahan sekitar 330 personel pendarat.

Geladak kendaraannya mampu menampung sekitar 60 truk atau sepuluh kendaraan tempur amfibi AAV7. Susunan dan jumlah muatan dapat diubah sesuai kebutuhan operasi.

Rumah Sakit di Atas Laut

Nilai JS Kunisaki tidak hanya terletak pada ukuran dan daya angkutnya. Kapal tersebut memiliki fasilitas medis yang memungkinkan tindakan terhadap personel maupun korban bencana.

Fasilitas itu mencakup ruang pemeriksaan, ruang operasi, alat anestesi, elektrokardiograf, perangkat pemantau pasien, lampu operasi, dan perangkat sinar-X portabel. Kapal juga dilengkapi ruang perawatan gigi.

JS Kunisaki membawa perangkat penyulingan air yang dapat membantu menyediakan air bersih. Geladak kendaraan bisa dialihfungsikan menjadi tempat mandi, pencucian pakaian, pengisian daya telepon seluler, dan pusat pelayanan darurat.

Dapur kapal mampu menyiapkan sekitar 300 porsi makanan sekaligus. Tempat tinggal tersedia bagi awak dan ratusan personel tambahan, termasuk ruangan terpisah bagi personel perempuan.

Ketika bencana merusak rumah sakit, jaringan listrik, dan instalasi air di daratan, kapal dapat menjadi pusat bantuan sementara di laut.

Dua Hovercraft di Buritan

Di bagian buritan JS Kunisaki terdapat dok yang dapat membawa dua Landing Craft Air Cushion atau LCAC. Hovercraft tersebut mampu mengirimkan kendaraan dan bantuan menuju pantai tanpa bergantung pada dermaga.

Setiap LCAC digerakkan mesin dengan tenaga gabungan sekitar 16 ribu daya kuda. Kecepatannya dapat mendekati 100 kilometer per jam.

Satu LCAC mampu membawa muatan hingga sekitar 50 ton. Kendaraan pemadam, ambulans, generator, makanan, air, dan alat berat dapat dipindahkan langsung dari kapal menuju daratan.

Kemampuan tersebut sangat berguna ketika gempa atau tsunami menghancurkan pelabuhan. Bantuan tetap dapat dikirim melalui pantai dangkal, pasir, dan sejumlah medan datar.

Nilai Kapal Bukan Hanya Harga

Biaya pembangunan JS Kunisaki yang setara sekitar lima hari operasional MBG menunjukkan besarnya skala dua instrumen negara. Namun, keduanya menjawab kebutuhan publik dengan cara berbeda.

MBG mengubah anggaran menjadi makanan yang dikonsumsi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok penerima lainnya setiap hari. JS Kunisaki mengubah belanja modal menjadi sarana angkut, rumah sakit, pengolahan air, dan pangkalan udara yang dapat digunakan selama puluhan tahun.

Karena itu, perbandingan nilai tidak dimaksudkan untuk menentukan program mana yang lebih penting. Angka tersebut membantu masyarakat memahami ukuran investasi di balik sebuah kapal yang kini terlihat bersandar di Pelabuhan Kijing.

Satu sisi memperlihatkan besarnya biaya memberi makan jutaan orang. Sisi lainnya menunjukkan mahalnya membangun alat pertahanan yang dapat dialihkan untuk menyelamatkan manusia saat bencana.

Hampir 22 tahun lalu, JS Kunisaki membawa Chinook untuk mengirimkan makanan dan obat kepada korban tsunami Sumatra. Kini, kapal seharga sekitar lima hari operasional MBG itu kembali membawa tiga Chinook untuk melindungi masyarakat Kalimantan dari api dan kabut asap.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
CH-47 Chinook Jepang bantuan karhutla Kalimantan anggaran MBG per hari spesifikasi JS Kunisaki misi tsunami Sumatra