Helikopter Water Bombing Hanya Buru Api Kecil di Lahan Gambut, Pemadaman Darat Tetap Utama

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 23:36 WIB
JS Kunisaki berlabuh di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (9/10) pagi. (FOTO: Kementerian Pertahanan)
JS Kunisaki yang membawa tiga helikopter berat CH-47 Chinook berlabuh di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (9/10) pagi. (FOTO: Kementerian Pertahanan)

 

PONTIANAK POST - Tiga helikopter berat CH-47 Chinook bantuan Jepang siap memburu titik api di Kalimantan Barat setelah menjalani uji terbang di Bandara Supadio, Kamis (10/9). Selama ini pun BNPB dan TNI sudah mengerahkan helikopter water bombing. Namun, water bombing hanya efektif menangani api yang masih kecil, terutama di lokasi yang sulit dijangkau petugas darat.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan, helikopter bukan kekuatan utama dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Armada udara dikerahkan secara selektif untuk membantu satuan tugas darat memutus penjalaran api.

“Helikopter water bombing hanya efektif ketika apinya masih kecil, terutama di tempat yang susah dijangkau satgas darat. Digunakan untuk membantu satgas darat memutus kepala apinya,” kata Suharyanto saat mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis.

Air yang dijatuhkan dari udara tidak akan cukup apabila api telah membesar dan menyebar luas. Dalam kondisi tersebut, petugas darat dan hujan menjadi tumpuan utama.

“Kalau api sudah besar, sia-sia pakai helikopter. Tidak ada gunanya water bombing,” tegas Suharyanto.

Chinook Dukung Petugas Darat

Tiga Chinook yang diangkut kapal JS Kunisaki akan memperkuat, bukan menggantikan, pemadaman darat. Selain menjatuhkan air, helikopter tersebut dapat membawa personel, peralatan, dan logistik menuju kawasan terpencil.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton S.P. Panjaitan mengatakan JS Kunisaki membawa tiga Chinook dan ratusan personel pendukung.

“Saat ini uji terbang sedang dilaksanakan di Bandara Supadio, Pontianak,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Uji terbang dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis dan keselamatan penerbangan setelah helikopter menempuh perjalanan laut dari Jepang. Penggunaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan karhutla di lapangan.

Pengawasan operasional helikopter berada di bawah TNI, termasuk aspek keamanan dan flight clearance. Seorang safety officer TNI ditempatkan di setiap helikopter, sedangkan misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.

Kapal Jepang Tiba di Kijing

Kapal transpor Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki tiba di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kamis.

Kapal tersebut bertolak dari Pangkalan Kure, Prefektur Hiroshima, Minggu (30/8). Pelayaran menuju Kalimantan Barat ditempuh selama sekitar 11 hari.

Kedatangan JS Kunisaki disambut Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan dan Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut XII Laksda TNI Sawa bersama unsur terkait.

Pada siang harinya, Panglima TNI meninjau JS Kunisaki dan kesiapan dukungan Jepang. Peninjauan dilakukan sebelum tiga helikopter memasuki tahapan operasi.

Setelah uji terbang dan penyusunan strategi, Chinook disiapkan mulai beroperasi pada 11–12 September 2026. Tim Jepang disiagakan selama 21 hari untuk mendukung satuan tugas darat dan udara.

“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini,” kata Krisantus.

Terintegrasi dengan Operasi Indonesia

Kedatangan JS Kunisaki merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jepang melalui Defence Cooperation Arrangement (DCA) Indonesia–Jepang. Bantuan dijalankan dalam kerangka Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).

Seluruh unsur Jepang diintegrasikan dengan operasi penanganan karhutla Pemerintah Indonesia. Indonesia tetap memegang kendali dan menentukan sasaran operasi.

Dukungan Jepang bersifat memperkuat kemampuan nasional yang telah dikerahkan. Tiga Chinook diharapkan menambah jangkauan pemadaman udara, khususnya pada titik kebakaran yang sulit ditangani melalui darat.

Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa diplomasi pertahanan tidak hanya dijalankan melalui dialog, latihan, dan peningkatan kapasitas. Hubungan kedua negara juga diwujudkan melalui aksi kemanusiaan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Bara Gambut Sulit Padam

Kebakaran gambut menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla. Api dapat merambat di bawah permukaan, sulit terlihat dari udara, dan kembali menyala meski kobaran di atas tanah telah padam.

“Api tidak mudah padam karena banyak lahan gambut. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit terlihat,” jelas Krisantus.

Karena itu, operasi udara harus dipadukan dengan pemadaman darat. Water bombing berfungsi menekan kobaran dan menghambat penjalaran, sedangkan petugas darat menuntaskan bara di dalam gambut.

Deteksi dini menjadi kunci. Titik api harus ditangani sebelum membesar dan berkembang menjadi kebakaran luas.

Setelah air dijatuhkan dari udara, petugas darat perlu memasuki lokasi untuk melakukan pembasahan hingga lapisan bawah. Pendinginan dan patroli ulang diperlukan agar bara tidak kembali menyala.

Operasi modifikasi cuaca juga dapat dilakukan apabila kondisi atmosfer dan ketersediaan awan mendukung. Hujan tetap menjadi cara paling efektif untuk membasahi kawasan gambut secara luas.

Sumber Air Menyusut

Pemadaman turut terkendala menyusutnya sumber air. Kemarau menurunkan debit sungai, parit, dan kanal di sekitar kawasan kebakaran.

Intrusi air laut juga menyebabkan sebagian air sungai menjadi asin. Petugas terpaksa mencari sumber air lebih jauh dari lokasi kebakaran.

“Air untuk memadamkan api juga kita kekurangan karena air sungai sudah asin akibat sungai surut dan air laut masuk,” terang Krisantus.

Kondisi tersebut memengaruhi efektivitas helikopter. Selain memiliki volume yang mencukupi, sumber air harus berada dalam jarak yang relatif dekat dari titik kebakaran.

Semakin jauh jarak pengambilan air, semakin lama waktu yang dibutuhkan helikopter untuk kembali ke lokasi. Frekuensi pengeboman air pun berkurang.

Asap tebal dan angin kencang juga dapat mengganggu penerbangan. Jarak pandang yang terbatas menyulitkan pilot menjatuhkan air tepat pada kepala api.

Enam Provinsi Jadi Prioritas

Pemerintah Provinsi Kalbar akan berkoordinasi dengan TNI, Polri, BNPB, pemerintah kabupaten dan kota, serta unsur terkait untuk menentukan sasaran operasi.

“Sudah ada titik-titik api yang terdeteksi dan itu yang akan kita tangani bersama,” ujar Krisantus.

BNPB menetapkan Kalbar bersama Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah sebagai enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Penentuan sasaran Chinook akan mempertimbangkan ukuran api, akses petugas darat, jarak sumber air, arah angin, ketebalan asap, dan potensi kebakaran meluas.

Helikopter akan diprioritaskan untuk memutus kepala api yang masih kecil. Adapun kebakaran besar memerlukan pengerahan sumber daya darat, pembasahan berulang, dan dukungan hujan.

Perusahaan Diminta Bergerak

Krisantus meminta perusahaan, terutama pemegang Hak Guna Usaha (HGU), ikut mencegah dan menangani kebakaran di wilayahnya.

“Jangan hanya menonton. Kita ingin semua ikut bergerak membantu pemerintah menangani karhutla,” tegasnya.

Perusahaan diminta mengerahkan personel dan peralatan serta menyediakan sumber air. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran di dalam konsesi juga harus dipastikan berfungsi.

Pemegang HGU yang mengabaikan kewajibannya terancam mendapat sanksi. Pemerintah membuka kemungkinan evaluasi hingga pencabutan izin.

“Akan dievaluasi, ditinjau, bahkan sampai kepada pencabutan HGU yang bersangkutan,” kata Krisantus.

Menurut dia, keberhasilan pemadaman tidak hanya bergantung pada jumlah helikopter. Deteksi dini, kesiapan petugas darat, ketersediaan air, serta keterlibatan perusahaan dan masyarakat menjadi penentu.

“Ini tugas kita bersama. Kita harus bergerak cepat supaya api segera dipadamkan,” pungkasnya. 

 

 

WATER BOMBING TAK SELALU AMPUH

Helikopter efektif menahan api kecil di lokasi sulit dijangkau. Ketika kebakaran meluas, pemadaman darat dan hujan menjadi tumpuan utama.

Kapan Efektif?

Kapan Tidak Efektif?

Kendala Utama

Api bawah tanah
Bara merambat melalui lapisan gambut dan sulit terlihat dari udara.

Air terbatas
Kemarau membuat debit sungai menyusut, sementara intrusi air laut menyebabkan sebagian air menjadi asin.

Jarak sumber air
Helikopter membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil air dan kembali ke titik kebakaran.

Akses petugas sulit
Tidak semua lokasi yang disiram dari udara dapat segera dimasuki satgas darat untuk pendinginan.

Api menyala kembali
Permukaan terlihat padam, tetapi bara di bawah gambut masih tersimpan.

Cara Kerja Ideal

  1. Satelit dan patroli mendeteksi titik api.
  2. Helikopter menyerang kepala api.
  3. Water bombing menahan penjalaran.
  4. Satgas darat memasuki lokasi.
  5. Gambut dibasahi hingga lapisan bawah.
  6. Petugas melakukan pendinginan dan patroli ulang.

Pembagian Peran

Kekuatan Fungsi
Helikopter Menahan api kecil dan menjangkau lokasi terpencil
Satgas darat Memadamkan bara hingga lapisan gambut
Modifikasi cuaca Mengupayakan hujan saat kondisi awan mendukung
Perusahaan Menyediakan personel, peralatan, sekat bakar, dan sumber air
Masyarakat Melaporkan titik api dan tidak membuka lahan dengan membakar

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
water bombing karhutla JS Kunisaki di Kijing kebakaran gambut Kalbar pemadaman darat karhutla bantuan Jepang untuk Kalimantan