PONTIANAK POST - Keinginan untuk membantu sesama selalu membumbung tinggi saat musibah atau bencana alam melanda.
Ketika kabar bencana datang, masyarakat berbondong-bondong mengirimkan makanan, pakaian, obat-obatan, hingga menggalang dana. Namun, niat baik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang di lapangan.
Bantuan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan penyintas agar benar-benar bermanfaat dan tidak justru menimbulkan persoalan baru di lokasi bencana.
Baca Juga: Puan Desak Satu Komando Bencana, Soroti Lahan Terbakar Berubah Jadi Sawit
Pentingnya Koordinasi dan Assessment Lapangan
Agar bantuan yang dikirimkan tidak mubazir atau salah sasaran, langkah pertama yang harus dilakukan oleh donatur adalah mencari informasi resmi.
Komunikasi yang baik dengan pihak pengelola posko bencana menjadi kunci utama kelancaran penyaluran bantuan.
’’Jadi, sebelum memberi, bisa mencari informasi ke posko terkait kebutuhannya se perti apa. Sebaiknya berdasar hasil assessment di lapangan. Koordinasi tersebut penting agar bantuan yang datang dapat mengisi kebutuhan yang masih kurang, bukan justru menumpuk pada satu jenis barang,’’ ujar Ketua SAR Surabaya Tirta Mu hammad Rizki, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Rentetan Bencana Bikin Prabowo Naikkan Anggaran: Soal Nominal, Purbaya Masih Tunggu Data BNPB
Kebutuhan Logistik yang Berubah Sesuai Fase Bencana
Bantuan yang dibutuhkan korban bencana tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Pemahaman mendalam mengenai fase darurat hingga pemulihan sangat diperlukan agar jenis barang yang disalurkan tetap relevan. Soal bantuan berupa uang atau barang, Tirta menilai tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua situasi.
Pada fase tanggap darurat, kebutuhan utama biasanya berkaitan dengan kebutuhan primer, seperti pangan, layanan kesehatan, air bersih, tempat tinggal sementara, serta kebutuhan kelompok rentan.
Baca Juga: Landak Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana, Karolin Minta Optimalkan Dana Desa Atasi Karhutla
Ketika memasuki masa transisi hingga pascabencana, perhatian mulai bergeser pada proses pemulihan.
’’Kebutuhan pen didikan, perbaikan fasilitas umum, pemulihan ekonomi, hingga dukungan psikososial menjadi bagian yang perlu diperhatikan,’’ ucapnya.
Karena itu, bantuan yang tepat pada hari-hari pertama be lum tentu menjadi prioritas beberapa minggu atau bulan kemudian.
Menghormati Martabat Penyintas Bencana
Memberikan bantuan bukan hanya sekadar menyerahkan barang atau uang kepunyaan kita, melainkan juga tentang kepedulian terhadap kondisi psikologis dan martabat para korban.
Baca Juga: Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Agus Sudarmansyah Dukung Mahasiswa Desak Status Bencana Nasional
Menyalurkan bantuan de ngan tepat bukan hanya berbagi apa yang kita punya, tapi juga menghormati martabat penyintas dan memastikan bantuan benar-benar menjawab kebutuhan mereka. (*)
Editor : Chairunnisya