PONTIANAK POST - Dalam setiap bencana, tumpukan bantuan fisik kerap membanjiri posko-posko pengungsian. Niat tulus masyarakat kerap terhalang oleh minimnya pemilahan barang sebelum disalurkan.
Akibatnya, alih-alih meringankan beban penyintas, barang-barang yang dikirimkan justru dapat menumpuk dan menimbulkan masalah kebersihan baru di area bencana.
Sorotan Terhadap Sorotan Pakaian Bekas Bantuan
Pakaian merupakan salah satu item bantuan yang paling sering disumbangkan oleh masyarakat umum. Sayangnya, pengiriman pakaian bekas yang tanpa melalui proses sortir justru sering kali menyusahkan tim relawan di posko.
Baca Juga: Cara Mengirim Bantuan Bencana Agar Tepat Sasaran Dan Tidak Menimbul Masalah Baru
Ketua SAR Surabaya, Tirta Muhammad Rizki menyebut bantuan yang kerap menimbul kan persoalan, yakni pakaian bekas. Barang ini sering datang dalam jumlah besar dan disumbangkan tanpa dipilah terlebih dahulu.
Tirta menyaran kan agar pakaian layak pakai terlebih dahulu dibersihkan dan dipisahkan berdasarkan peruntukannya. ’
"Pakaian yang tidak sesuai kebutuhan atau kondisinya tidak layak pakai akhirnya menumpuk, menjadi sampah, dan menimbulkan masalah baru,’’ tuturnya.
Baca Juga: Rentetan Bencana Bikin Prabowo Naikkan Anggaran: Soal Nominal, Purbaya Masih Tunggu Data BNPB
Pengawasan Khusus untuk Obat dan Susu Formula
Selain pakaian, barang-barang logistik medis serta konsumsi sensitif memerlukan perhatian ekstra. Pengiriman barang jenis ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan tanpa koordinasi langsung dengan tim medis atau pihak berwenang.
Hal serupa berlaku untuk sejumlah barang yang membutuhkan penanganan khusus, seperti obat-obatan, susu for mula, makan an khusus, dan perlengkapan medis. Barang-barang tersebut sebaiknya tidak dikirim tanpa per mintaan atau koordinasi.
Sebab, penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan penerima dan me merlukan pengawasan tenaga yang kompeten.
Baca Juga: Puan Desak Satu Komando Bencana, Soroti Lahan Terbakar Berubah Jadi Sawit
Memerhatikan Kebutuhan Pangan dan Kelompok Rentan
Pemberian bantuan bahan pangan juga wajib memperhatikan kepraktisan serta kesesuaian bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, serta ibu hamil.
’’Untuk makanan dan bahan pangan, masyarakat perlu memperhatikan tanggal ke daluwarsa, kemudahan pengolahan, serta apakah makanan tersebut praktisuntuk dikonsumsi dalam kondisi darurat. Kebutuhan ke lompok tertentu, seperti bayi, lansia, dan ibu hamil, juga perlu menjadi pertimbangan karena tidak semua makanan dapat diberikan secara umum kepada seluruh penyintas,’’ lanjutnya. (*)
Editor : Chairunnisya