Menaker sebut Transisi Hijau Buka Peluang Pekerjaan Baru bagi Tenaga Kerja Indonesia

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 09:58 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat memberikan arahan pada acara Green Mobility & Vocational Synergy 2026, di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Sabtu (19/9). (ANTARA/HO-Kemnaker RI)
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat memberikan arahan pada acara Green Mobility & Vocational Synergy 2026, di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Sabtu (19/9). (ANTARA/HO-Kemnaker RI)

PONTIANAK POST - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa akselerasi transisi hijau dan pesatnya perkembangan ekosistem kendaraan listrik membuka peluang pekerjaan baru (green jobs) bagi tenaga kerja Indonesia. Kesiapan kompetensi sumber daya manusia dinilai menjadi kunci utama agar potensi ekonomi ramah lingkungan ini dapat diserap secara optimal oleh industri nasional.

Menaker Yassierli menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor energi terbarukan harus diimbangi dengan penyiapan tenaga kerja yang presisi dan relevan.

“Karena itu, perkembangan teknologi perlu diikuti dengan kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” kata Menaker dalam keterangannya yang diterima di Surakarta, Jawa Tengah, Senin.

Pemerintah memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja ramah lingkungan ini akan terus melonjak seiring perubahan pola produksi dunia. Indonesia sendiri menargetkan serapan tenaga kerja di sektor hijau mencapai 5,01 hingga 5,32 juta orang pada tahun 2029 mendatang.

Yassierli mengingatkan pentingnya antisipasi sejak dini agar keterSEDIAan teknologi tinggi tidak berujung pada ketimpangan keahlian di lapangan.

“Teknologinya berkembang, tenaga kerjanya juga harus kita siapkan. Jangan sampai teknologinya sudah tersedia, tetapi tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya belum siap,” tegasnya.

Tuntutan Spesialisasi Keahlian dan Pelatihan Vokasi

Perkembangan kendaraan listrik serta infrastruktur energi baru terbarukan memicu kebutuhan atas berbagai spesialisasi teknik khusus. Keahlian yang sangat dibutuhkan saat ini antara lain teknisi kendaraan listrik, perakit dan teknisi instalasi tenaga surya, operator stasiun pengisian daya, pemeliharaan sistem, hingga ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) industri hijau.

“Transisi hijau membutuhkan teknologi, investasi, dan yang paling penting, tenaga kerja yang kompeten,” tambah Yassierli.

Guna menjawab tantangan tersebut, Kemnaker mendorong revitalisasi pelatihan vokasi yang terhubung langsung (link and match) dengan kebutuhan sektor industri. Pelaku industri diwajibkan terlibat aktif mulai dari penyusunan kurikulum, penyediaan instruktur ahli, program magang, proses sertifikasi, hingga penyerapan tenaga kerja.

Langkah terintegrasi ini diharapkan dapat memastikan setiap lulusan pelatihan terampil dapat langsung terserap di pasar kerja atau mampu membuka peluang usaha mandiri di sektor hijau (ant).
Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
transisi hijau Menteri Ketenagakerjaan Yassierli Green Jobs