PONTIANAK POST - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengapresiasi tinggi inovasi Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS) yang memanfaatkan limbah sampah plastik sebagai bahan baku utama pembuatan kaki palsu bagi penyandang disabilitas. Inovasi ini dinilai sukses mengawinkan penanganan masalah lingkungan hidup dengan aksi kemanusiaan.
Menteri LH Jumhur Hidayat menegaskan pentingnya gerakan pemilahan sampah langsung dari sumbernya agar limbah anorganik dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai guna tinggi.
"Kalau bisa jangan diuraikan sampah, harus ada pemilahan kecuali organik. Padahal yang anorganik pun bisa jadi seperti ini," katanya dalam keterangan diterima di Denpasar, Provinsi Bali, Senin.
Apresiasi tersebut disampaikan saat Menhut menerima audiensi Ketua Dewan Pembina YKKS Putu Ivan Yunatana dan Ketua YKKS Made Aditiasthana. Dalam pertemuan itu, pihak YKKS menyerahkan dua contoh produk kaki palsu berbahan daur ulang tutup botol plastik (HDPE) serta campuran plastik kemasan berlapis (multilayer plastic/MLP) dengan HDPE.
Putu Ivan Yunatana menyampaikan bahwa terobosan ini membuktikan limbah yang selama ini dianggap merusak lingkungan mampu diubah menjadi produk bernilai sosial dan ekonomis jika ekosistem pengelolaannya tertata dengan baik.
Selama ini, produk kaki palsu hasil olahan YKKS telah didistribusikan secara gratis kepada para penyandang disabilitas kurang mampu di Bali maupun luar daerah, seperti Palu dan Lombok, berkat sokongan dana CSR perusahaan serta donasi masyarakat.
Butuh Lima Kilogram Sampah dan Corak Unik
Di samping pembuatan alat bantu tubuh, YKKS bersama entitas afiliasinya aktif menjalankan program edukasi, pengangkutan, hingga pengolahan sampah organik dan anorganik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Pihaknya juga fokus memperkenalkan teknik daur ulang plastik jenis MLP yang selama ini dikenal paling rumit diolah oleh industri daur ulang.
"Kami ingin mengenalkan sampah plastik tidak hanya jenis HDPE, tetapi juga jenis plastik kemasan (MLP) yang selama ini dianggap sulit didaur ulang oleh para pelaku daur ulang. Namun kami bisa mengolah, salah satunya menjadi kaki palsu yang prioritasnya dibagikan kepada penyandang disabilitas yang tidak mampu," ujar Putu Ivan.
Ketua YKKS Made Aditiasthana merincikan bahwa pembuatan satu unit kaki palsu membutuhkan sekitar lima kilogram sampah plastik murni. Setelah melalui tahapan pemrosesan dan pembentukan, bobot material menyusut menjadi sekitar 2 hingga 3 kilogram.
Menariknya, penggunaan plastik daur ulang menghasilkan estetika visual yang unik. Warna dan motif kaki palsu terbentuk secara alami dari paduan warna sampah plastik yang digunakan, serta dapat disesuaikan dengan permintaan para penerima bantuan (ant).
Sumber : Antara