Irene Umar Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Etika untuk Tembus Pasar Global

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:45 WIB
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, menjadi narasumber dalam sesi Creative Biztalk pada gelaran Petranesian Business and Education Fair di Galaxy Mall 2, Surabaya, Minggu (20/9) (ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif)
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, menjadi narasumber dalam sesi Creative Biztalk pada gelaran Petranesian Business and Education Fair di Galaxy Mall 2, Surabaya, Minggu (20/9) (ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif)

PONTIANAK POST - Pemerintah mendorong pengembangan ekonomi kreatif melalui proses kreatif yang tetap berlandaskan etika dan moral. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memberikan nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kreativitas perlu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, ekonomi kreatif diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.

“Ekonomi kreatif ini diharapkan menjadi tambang baru Indonesia. Indonesia juga memiliki banyak kekayaan intelektual dan paten yang potensinya ditunggu oleh dunia,” ujar Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Irene, kebebasan bereksplorasi merupakan bagian penting dalam proses melahirkan gagasan kreatif. Namun, kebebasan tersebut tetap perlu disertai batas berupa etika dan moral sehingga karya yang dihasilkan tidak terlepas dari karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Menjadi kreatif adalah ketika kita memberikan diri kita kebebasan untuk melakukan apa pun tanpa terlalu memikirkan batasan. Namun, batasannya adalah etika dan moral,” katanya.

Pemerintah Perluas Akses Pasar Karya Kreatif

Irene menegaskan kreativitas perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Dengan begitu, sebuah karya tidak hanya diukur berdasarkan keindahan atau nilai estetikanya, tetapi juga manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru, Kementerian Ekonomi Kreatif memusatkan perhatian pada pengembangan sekaligus pemasaran kekayaan intelektual nasional.

Pemerintah, kata Irene, berupaya menyediakan lebih banyak ruang bagi pelaku kreatif untuk memperkenalkan karya mereka. Upaya tersebut juga dilakukan dengan mempertemukan pelaku kreatif dengan pasar yang sesuai.

“Fokus kami adalah memasarkan, membuka sebanyak-banyaknya ruang dan tempat bagi orang untuk memamerkan karyanya. Kita berusaha menjodohkan pelaku kreatif dengan pasar,” ujarnya.

Ia mengatakan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) yang mencakup 21 subsektor menjadi salah satu fondasi strategis dalam mengembangkan potensi kreativitas dan kekayaan intelektual Indonesia.

Penguatan ekosistem kreatif melalui proses berkarya, penciptaan nilai tambah, dan perluasan akses pasar diharapkan dapat meningkatkan daya jangkau karya anak bangsa. Langkah tersebut juga diarahkan agar produk ekonomi kreatif Indonesia semakin dikenal di pasar global sekaligus memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
karya bernilai tambah pasar global pelaku ekonomi kreatif