PONTIANAK POST - Teknologi Smart Solar Biomass Dryer yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Hasanuddin membantu petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memangkas waktu pengeringan dari sekitar tujuh hari menjadi dua hari.
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyebut teknologi tepat guna tersebut dirancang untuk menjawab persoalan pascapanen yang selama ini dihadapi petani, terutama proses pengeringan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Ketua Kelompok Tani Rangkum Aher Samai mengatakan keberadaan alat tersebut membuat petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca saat mengeringkan pala.
“Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya hujan,” kata Aher dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.
Menurut Aher, alat tersebut juga dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dan tidak membutuhkan pasokan listrik. Kondisi itu membuat teknologi pengering dapat digunakan di berbagai lokasi.
Ia berharap kapasitas alat dapat ditingkatkan sehingga mampu menampung hasil panen lebih banyak dan mempercepat proses pengeringan.
"Harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat," ujar dia.
Suhu Terkendali, Kapasitas Capai 1.000 Biji Pala
Kementrans menyebut Smart Solar Biomass Dryer mampu mempertahankan suhu pengeringan sekitar 60 derajat Celsius dan menampung hingga 1.000 biji pala dalam satu kali proses.
Pengeringan yang lebih terkendali membuat waktu yang sebelumnya mencapai sekitar tujuh hari dapat dipersingkat menjadi dua hari. Teknologi tersebut sekaligus ditujukan untuk menekan risiko pala berjamur akibat proses pengeringan yang terganggu hujan.
Perwakilan TEP 15 Universitas Hasanuddin Michel Obrien menjelaskan alat tersebut memiliki lima baki untuk menempatkan pala selama proses pengeringan.
“Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, itu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” ujar Michel.
Smart Solar Biomass Dryer memadukan energi surya dan biomassa serta dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Melalui telepon seluler, petani dapat memantau suhu dan kelembapan di dalam ruang pengering.
Suhu pengeringan pala dijaga dalam kisaran 50 hingga 60 derajat Celsius. Sistem hibrida pada alat tersebut memungkinkan biomassa ditambahkan ketika suhu turun di bawah 50 derajat Celsius.
Sebaliknya, ketika suhu melewati 60 derajat Celsius, jumlah biomassa yang terbakar dapat dikurangi untuk menjaga kondisi pengeringan tetap terkendali.
Pengembangan teknologi pascapanen tersebut dinilai relevan dengan komoditas pala yang menjadi salah satu hasil perkebunan di Papua Barat.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan luas areal pala di Papua Barat mencapai 32.440 hektare dengan produksi 1.555 ton.
Penerapan teknologi tepat guna menjadi salah satu tema prioritas TEP 2026, bersama hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi produktif, digitalisasi, serta energi terbarukan.
Program tersebut melibatkan perguruan tinggi dalam riset, kajian, dan pendampingan untuk mendukung pembangunan serta pengembangan kawasan transmigrasi.
Kementrans mencatat TEP 2026 terdiri atas 246 tim dengan 1.476 peserta dari 10 perguruan tinggi mitra yang ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menekankan pentingnya kemandirian dan inovasi peserta TEP dalam mengidentifikasi persoalan masyarakat, menganalisis masalah, hingga menghadirkan solusi di kawasan transmigrasi.
"Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif," kata Iftitah. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara