Kepala BNPB Lapor Prabowo: Asap Karhutla Tebal di Kalbar dan Kalteng, tapi Aktivitas Tetap Normal

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 12:42 WIB
UDARA PEKAT: Kabut asap menyelimuti wilayah Kabupaten Kayong Utara. Konsentrasi PM2,5 di sejumlah titik pemantauan tercatat menembus 2.000 µg/m³, sementara kualitas udara berada pada kategori berbahaya, Minggu (21/9). Kondisi ini sudah berlangsung berhari-hari. (DANANG/PONTIANAK POST)
UDARA PEKAT: Kabut asap menyelimuti wilayah Kabupaten Kayong Utara. Konsentrasi PM2,5 di sejumlah titik pemantauan tercatat menembus 2.000 µg/m³, sementara kualitas udara berada pada kategori berbahaya, Minggu (21/9). Kondisi ini sudah berlangsung berhari-hari. (DANANG/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih cukup tebal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut dilaporkan Kepala BNPB kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 23 September 2026, meski aktivitas masyarakat di kedua wilayah secara umum masih berjalan normal.

Dalam laporan melalui konferensi video, Kepala BNPB menyebut persoalan asap menjadi salah satu tantangan penanganan karhutla.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla di Sambas Picu 48 Kasus ISPA, Warga Diminta Waspadai Gangguan Kesehatan

Penyemaian awan di Kalbar dan Kalteng belum dapat dilakukan secara optimal sehingga kondisi asap masih cukup tebal.

“Namun karena penyemaian awan, terutama di Kalimantan Tengah dan Barat, tidak bisa dilakukan secara optimal, maka asap di daerah tersebut cukup tebal,” kata Kepala BNPB dalam laporan kepada Presiden dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden (23/9).

Asap Ganggu Penerbangan dan Operasi Water Bombing

Kondisi asap tidak hanya berdampak pada jarak pandang di wilayah daratan. BNPB melaporkan asap juga mulai mengganggu aktivitas penerbangan dan operasi udara yang digunakan untuk menangani karhutla.

“Hal ini juga mengganggu penerbangan komersial, serta operasi udara dan water bombing,” ujarnya.

Baca Juga: Water Bombing Karhutla di Kayong Utara Tak Bisa Terbang, Kabut Asap Ganggu Keselamatan

Gangguan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena operasi udara merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat pemadaman di wilayah yang masih mengalami kebakaran.

Meski demikian, BNPB menyampaikan bahwa gangguan akibat asap belum membuat aktivitas masyarakat secara umum berhenti.

Lalu Lintas hingga Toko Disebut Tetap Berjalan

Di tengah kondisi asap yang cukup tebal, aktivitas sehari-hari masyarakat di wilayah terdampak disebut masih berlangsung.

Kepala BNPB melaporkan lalu lintas, toko, restoran, dan berbagai kegiatan masyarakat lainnya tetap berjalan normal.

“Namun kami pastikan kehidupan sehari-hari masyarakat tetap berjalan normal,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa aktivitas masyarakat seperti lalu lintas, toko, hingga restoran masih berjalan. Gangguan yang lebih terasa terutama berkaitan dengan aktivitas penerbangan, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Baca Juga: Hujan Turun dan Asap Karhutla Menebal, Prabowo Pantau 210 Ha Lahan Terbakar

Kalbar Masih Sisakan 11,74 Hektare

Dalam laporan yang sama, BNPB menyebut masih terdapat 209,78 hektare lahan yang berada dalam proses pemadaman di Sumatra dan Kalimantan.

Dari jumlah yang ada, area yang masih ditangani di Kalimantan Selatan menjadi yang terbesar dengan 63,16 hektare. Sementara Kalimantan Barat tercatat memiliki area tersisa 11,74 hektare.

Secara keseluruhan, dalam sehari terakhir luas lahan yang terbakar mencapai 1.212,52 hektare, sedangkan 1.002,74 hektare berhasil dipadamkan.

BNPB mengatakan pemantauan dan pemadaman terus dilakukan setiap hari agar kebakaran baru tidak kembali meningkatkan luas area terbakar.

Baca Juga: Karhutla di Ketapang Makin Mendesak, Kekeringan 83 Hari dan Sembilan Pelaku Diproses Hukum

Pemerintah memperkirakan penanganan karhutla tersebut dapat selesai paling cepat pertengahan Oktober 2026 atau paling lambat minggu ketiga November 2026.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
aktivitas warga bnpb karhutla kalbar presiden