Kabut Asap Karhutla Picu ISPA pada 40 Ribu Balita, Pilu Curhatan Orang Tua Viral di Media Sosial

Miftahul Khair • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:36 WIB
ASAP: Seorang balita harus menggunakan masker saat digendong ibunya beraktivitas di luar rumah Jalan Raya Kakap, Kubu Raya. Ancaman ISPA menghantui balita dan anak-anak saat musim kabut asap.
ASAP: Seorang balita harus menggunakan masker saat digendong ibunya beraktivitas di luar rumah Jalan Raya Kakap, Kubu Raya. Ancaman ISPA menghantui balita dan anak-anak saat musim kabut asap.

PONTIANAK POST — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya memicu penurunan jarak pandang, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Deretan unggahan pilu para orang tua di media sosial menggambarkan kepanikan saat menyaksikan anak-anak mereka tersiksa akibat paparan asap pekat.

Salah satu unggahan yang menyita perhatian publik berasal dari akun TikTok @its.rehanbesett. Ia membagikan video memperlihatkan kondisi anaknya yang tersiksa akibat batuk dan sesak napas di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Kondisi asap Kalimantan, di Pontianak sekarang. Batuk, pilek, sesak napas,” tulisnya dalam video, Kamis (24/9).

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla di Sambas Picu 48 Kasus ISPA, Warga Diminta Waspadai Gangguan Kesehatan

Unggahan tersebut dibanjiri puluhan ribu komentar dari warganet yang merespons dengan pengalaman serupa di wilayah terdampak karhutla lainnya.

“Anakku habis keluar dari RS dan rawat jalan pneumonia sampai berdarah gini. Pakai air purifier sampai di angka 400-an. Ini di Palangkaraya,” tulis akun @ayy*****s.

Kondisi darurat kesehatan juga diungkapkan oleh pengguna akun @riy********a. “Malam ini ada yang bakar lahan dekat rumah, anakku batuk sampai sesak 2 minggu dan sudah dua kali masuk IGD,” tulisnya.

Dampak kabut asap ini juga dirasakan oleh para penyedia alat penyaring udara (air purifier). Akun @sot*****r menceritakan deretan pesan emosional yang diterimanya dari pembeli di kawasan Kalimantan.

Baca Juga: Kasus ISPA Landak Melonjak Akibat Kabut Asap, Bupati: Puskesmas Siaga 24 Jam

“Aku dapat orderan air purifier dari Kalimantan semua dan curhatnya selalu bilang, ‘Cepat kirim kak, di rumah ada anak bayi.’ Baca itu rasanya nangis banget,” tulisnya.

Data Kemenkes: 40 Ribu Balita Terserang ISPA

Ancaman kesehatan akibat asap karhutla ditegaskan oleh data resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sepanjang periode 18 Agustus hingga 21 September 2026, Kemenkes mencatat sebanyak 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kawasan terdampak karhutla, di mana 40.363 kasus di antaranya menimpa balita.

Angka tersebut dihimpun dari tujuh provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menjelaskan klasifikasi dampak kesehatan yang melanda kawasan terdampak tersebut.

“Ini kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data 7 provinsi,” ujar Then Suyanti dalam keterangannya, Kamis (24/9).

Baca Juga: Kabut Asap Pekat Picu Kasus ISPA di Mempawah Naik, Tercatat 20.518 Kasus hingga September

Bahaya Polutan PM2,5 Bagi Tubuh

Selain mengganggu saluran pernapasan, paparan kabut asap karhutla berpotensi memicu iritasi mata, seperti rasa perih, gatal, dan mata merah. Pada kelompok rentan seperti lansia, paparan polutan secara intensif dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, serangan stroke, hingga lonjakan tekanan darah.

Then Suyanti memaparkan bahwa bahaya utama asap karhutla bersumber dari tingginya konsentrasi partikel mikro berbahaya.

“Asap dari karhutla ini mengandung partikel halus PM2,5, kemudian berbagai polutan lain yang tentunya mengganggu kesehatan,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, paparan partikel halus PM2,5 berisiko memicu gangguan paru obstruktif kronis (PPOK), memperburuk kondisi penderita asma, serta mengancam keselamatan jiwa anak-anak dan bayi.

Editor : Miftahul Khair
anak terkena ISPA curhatan orang tua viral karhutla kabut asap