PONTIANAK POST — Desi tidak mencurigai apa pun ketika menghabiskan sisa telur dari jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) anaknya, Selasa (22/9). Namun, sore harinya, warga Desa Soka, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, itu mulai pusing dan muntah. Kedua anaknya, Adam, 5, dan Neswa, 3, mengalami keluhan serupa.
Ketiganya juga diare dan demam. Saat mencari pertolongan di puskesmas, Desi mendapati banyak warga datang dengan gejala yang sama.
“Saat itulah saya sadar akan keracunan massal,” kata Desi kepada Jawa Pos Metro Pekalongan, Kamis (24/9). “Saya cuma menghabiskan sisa telur anak saya.”
Makanan yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang pada hari itu terdiri atas nasi putih, olahan telur, sayur, tahu goreng, dan anggur. Desi mengatakan tidak ada rasa yang mencurigakan ketika ia menyantap sisa makanan anaknya.
Desi bukan satu-satunya orang tua yang jatuh sakit. Data yang dihimpun Jawa Pos Metro Pekalongan menunjukkan jumlah warga dengan keluhan serupa naik dari 276 orang pada Kamis pukul 03.00 WIB menjadi 411 orang pada pukul 17.00 WIB. Sebanyak 220 orang di antaranya merupakan orang dewasa, banyak yang ikut menyantap makanan yang diterima anak-anak. Adapun 170 pasien menjalani rawat inap di rumah sakit dan puskesmas.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan pasien termuda berusia 10 bulan, sedangkan yang tertua telah lanjut usia. Keluhan yang paling banyak dilaporkan ialah mual, muntah, diare, dan lemas.
Lonjakan pasien membuat ruang perawatan RSUD Kalisari penuh. Saat Faiz meninjau rumah sakit pada Kamis pagi, sebagian pasien ditangani di area lorong. “Memang ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Obat-obatan dalam kondisi yang cukup, termasuk di puskesmas-puskesmas,” katanya.
Di rumah sakit yang sama, Siti Fatimah mendampingi putranya, Roman Arfani, siswa TK B Kuncup Mekar. Roman mulai mual dan muntah pada Selasa malam setelah menyantap MBG pada pagi harinya.
“Awalnya ke puskesmas, dikira sakit biasa dan dikasih obat. Tapi, setelah ada kabar di sekolah banyak yang keracunan, baru dirujuk dan dibawa ke sini tadi (Rabu, 23/9) malam,” ujar Siti.
Dapur Ditutup Sementara
SPPG Bawang melayani 11 satuan pendidikan di Kecamatan Bawang. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Semarang Badan Gizi Nasional (BGN), Hadi Riajaya, mengatakan pemeriksaan rekaman CCTV menunjukkan pengolahan makanan dimulai pukul 19.30 WIB. Menurut dia, berdasarkan standar operasional yang berlaku, proses tersebut seharusnya baru dimulai setelah pukul 02.00 WIB.
Tim gabungan juga menemukan sekat dinding dapur yang tidak solid serta pengelolaan limbah yang belum memenuhi standar sanitasi. “SPPG ini sudah kami lakukan penutupan sementara selama 30 hari karena jumlah korban masuk dalam kategori suspek berat,” kata Hadi.
Temuan pada dapur menjadi bahan pemeriksaan. Penyebab pasti keluhan para pasien belum dapat disimpulkan hanya dari waktu pengolahan atau kondisi bangunan; hasil pemeriksaan makanan dan penelusuran kesehatan pasien tetap diperlukan.
Pengelola SPPG Bawang bersama Yayasan Bela Batang Sejahtera menyampaikan permohonan maaf dan berjanji menanggung biaya pengobatan korban. Kepala SPPG Bawang Agung Dindi Santoso mengatakan operasional dapur dihentikan sementara untuk evaluasi. “Kami akan evaluasi total atas kejadian ini,” ujarnya.
Faiz mengatakan Pemerintah Kabupaten Batang juga menanggung biaya pengobatan. Selain itu, dinas sosial menyiapkan santunan bagi keluarga yang tidak dapat bekerja karena harus mendampingi pasien di fasilitas kesehatan.
“Kami berikan santunan untuk penunggu pasien sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari per kepala keluarga. Kita ingin semua korban tertangani dengan cepat dan keluarga yang tidak bisa bekerja mendapat pengganti,” katanya.
Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah X, Yoyok Riyo Sudibyo, meminta pelaksanaan MBG dievaluasi. Menurut hasil pantauannya, ada SPPG di Batang yang harus menyiapkan hingga 2.600 porsi makanan dalam satu malam. Ia mempertanyakan apakah beban tersebut memungkinkan makanan diolah dan didistribusikan sesuai standar.
“Dimasak dalam satu malam dan harus didistribusikan dalam waktu yang bersamaan dan secepat-cepatnya. Harusnya ada hitungan idealnya,” ujar mantan Bupati Batang itu.
Saat meninjau RSUD Kalisari bersama Faiz, Yoyok mengaku mengenal banyak pasien yang dirawat. “Iku tonggo-tonggoku kabeh, Mas Bup,” katanya. Mereka semua tetangga saya, Pak Bupati.
Kasus dengan keluhan setelah mengonsumsi MBG juga dilaporkan secara terpisah di Kabupaten Cilacap. Dinas Kesehatan setempat mencatat 361 siswa SMAN 1 Sampang mengalami gejala setelah menerima paket makanan pada Selasa (22/9). Keluhan mulai muncul pada sore hingga malam hari dan berlanjut keesokan harinya. (yan/ttg)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro