Hiu Paus 9 Meter Terdampar di Wakatobi, Tim Gabungan Evakuasi Bangkai

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:04 WIB
Hiu Paus yang terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. (ANTARA/HO-Polres Wakatobi)
Hiu Paus yang terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. (ANTARA/HO-Polres Wakatobi)

PONTIANAK POST - Seekor hiu paus (Rhincodon typus) sepanjang sembilan meter yang terdampar di perairan Desa Matahora, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, akhirnya mati dan bangkainya dievakuasi tim gabungan.

Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi La Ode Ahyar Thamrin Mufti mengatakan penanganan hiu paus tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, komunitas penyelam, masyarakat, hingga mitra pembangunan.

"Penanganan hiu paus yang terdampar ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan dan keterlibatan seluruh pihak yang bersama-sama berupaya menangani peristiwa ini," kata Ahyar saat dihubungi di Kendari, Senin.

Hiu paus dengan bobot diperkirakan mencapai lima ton tersebut pertama kali ditemukan oleh warga setempat. Setelah menerima laporan, Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) bersama pihak terkait langsung berkoordinasi untuk melakukan upaya penyelamatan.

Namun, upaya tersebut menghadapi sejumlah kendala. Kondisi perairan yang sangat dangkal, lokasi yang jauh dari perairan dalam, serta dinamika pasang surut air laut menjadi hambatan dalam proses evakuasi.

"Namun, kondisi perairan yang sangat dangkal, jarak yang jauh dari perairan dalam, serta dinamika pasang surut air laut menjadi hambatan utama dalam proses evakuasi hingga akhirnya satwa dilindungi tersebut tidak dapat diselamatkan dan mati di lokasi," ujarnya.

Bangkai Dipindahkan 700 Meter

Setelah mempertimbangkan aspek teknis dan lingkungan, tim memindahkan bangkai hiu paus sejauh 700 meter dari lokasi awal. Bangkai tersebut dipindahkan ke area yang lebih jauh dari permukiman warga sebelum dilakukan penanganan akhir.

Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan dampak lingkungan dan gangguan terhadap masyarakat setempat.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sarminto Hadi mengapresiasi respons BTNW dan tim gabungan dalam menangani kejadian tersebut.

"Sinergi yang baik antarpemangku kepentingan menjadi kunci untuk memastikan setiap upaya penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan tetap memperhatikan aspek konservasi," ucap Sarminto.

Kepala Desa Matahora Saharuni mengatakan warga dan pemerintah desa turut membantu penanganan sejak hiu paus pertama kali ditemukan. Menurut dia, laut dan biota di dalamnya merupakan sumber kehidupan masyarakat Wakatobi yang perlu dijaga bersama.

“Masyarakat dan pemerintah desa merasa prihatin atas kejadian ini. Selama proses penanganan, kami dan semua perangkat desa selalu berupaya membantu baik tenaga maupun materi dan terus berkoordinasi dengan petugas di lapangan," sebut Saharuni.

Manajer Senior Perlindungan Laut Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Yusuf Fajariyanto mengatakan kejadian tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya kesiapsiagaan, dukungan sarana evakuasi, dan kolaborasi jangka panjang untuk menjaga ekosistem laut Wakatobi.

"Melalui pembelajaran tersebut, para pihak semakin memperkuat komitmen untuk menjaga kelestarian ekosistem laut Wakatobi sebagai habitat beragam spesies sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir," tambahnya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
perairan dangkal BTNW wakatobi Hiu Paus