PONTIANAK POST — Sayonara, JS Kunisaki. Arigato, Chinook. Jepang resmi mengakhiri operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, Selasa (29/9), bertepatan dengan nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat selama dua hari berturut-turut.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi memerintahkan Pasukan Bela Diri Jepang atau Japan Self-Defense Forces (JSDF) mengakhiri operasi setelah Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa bantuan tersebut telah membantu mencegah penyebaran kebakaran dan penanganan selanjutnya dapat dilakukan menggunakan kemampuan nasional.
Hingga Senin (28/9), tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook Jepang telah menjalankan lebih dari 40 operasi pemadaman dari udara dan menjatuhkan sekitar 220 ton air ke kawasan terdampak kebakaran.
Operasi yang efektif dimulai pada 16 September itu sekaligus mencatat sejarah. Inilah misi pemadaman kebakaran pertama yang dilakukan Pasukan Bela Diri Jepang di luar negeri. Rencana pengerahan sebelumnya diumumkan setelah Indonesia meminta bantuan Jepang menghadapi kebakaran hutan di Kalimantan.
“Kementerian Pertahanan dan Pasukan Bela Diri ingin memperdalam kerja sama pertahanan dengan Indonesia, berdasarkan kepercayaan yang telah dibangun” melalui operasi tersebut, kata Koizumi dalam konferensi pers, Selasa.
Berakhirnya misi itu terjadi ketika indikator karhutla di Kalbar menunjukkan perbaikan signifikan.
Berdasarkan Peta Sebaran Titik Panas BMKG periode Selasa (29/9) pukul 00.00–13.00 WIB, tidak ditemukan satu pun hotspot kategori high confidence di seluruh Kalbar. Kondisi yang sama terjadi sehari sebelumnya.
Dengan demikian, Kalbar mencatat nol hotspot berkepercayaan tinggi selama dua hari berturut-turut.
Meski demikian, api belum bisa dianggap sepenuhnya hilang. Peta BMKG pada Selasa siang masih menunjukkan 56 hotspot kategori medium confidence. Tidak terdapat hotspot kategori rendah maupun tinggi.
Datang Ketika Api Membesar
Jejak misi Jepang di Kalbar bermula sebulan sebelumnya.
Pemerintah Jepang mengumumkan pengiriman tiga CH-47 milik Japan Ground Self-Defense Force setelah menerima permintaan bantuan Pemerintah Indonesia. Sekitar 600 personel JSDF dipersiapkan untuk keseluruhan misi bantuan tersebut.
JS Kunisaki kemudian meninggalkan pangkalan Japan Maritime Self-Defense Force di Kure, Prefektur Hiroshima, pada 30 Agustus. Di atas kapal angkut itu terdapat tiga CH-47 yang nantinya menjadi kekuatan utama Jepang dalam membantu Indonesia melawan api dari udara.
Perjalanan laut membawa kapal tersebut menuju Kalimantan Barat.
Pada 10 September, JS Kunisaki akhirnya merapat di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah.
Kedatangannya menarik perhatian. Kapal militer berukuran besar itu membawa tiga helikopter dengan konfigurasi rotor tandem yang jarang terlihat di Kalbar.
Namun, Chinook tidak langsung diterjunkan.
Asap yang hendak dipadamkan justru menjadi penghalang operasi. Buruknya kualitas udara dan terbatasnya jarak pandang menyebabkan jadwal penerbangan yang semula direncanakan lebih awal harus disesuaikan.
Operasi pemadaman efektif kemudian dimulai 16 September. Joint Operations Command Jepang menyatakan misi dilaksanakan melalui koordinasi erat dengan TNI serta lembaga terkait di Indonesia.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin sehari sebelumnya meninjau langsung JS Kunisaki dan tiga Chinook di Mempawah. Bantuan Jepang diintegrasikan ke dalam operasi penanganan karhutla Indonesia bersama TNI dan BNPB.
Sjafrie bahkan berbicara melalui sambungan telepon dengan Koizumi.
“Sebagai Menteri Pertahanan, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi atas respons cepat dalam memberikan bantuan helikopter CH-47 yang dilengkapi kemampuan pemadaman kebakaran,” kata Sjafrie.
Dari Mempawah Bergeser ke Ketapang
Misi kemudian berkembang mengikuti pergerakan kebakaran.
Ketika konsentrasi karhutla meningkat di bagian selatan Kalbar, terutama Ketapang, operasi Jepang ikut digeser.
JS Kunisaki meninggalkan Kijing menuju perairan Ketapang dengan membawa salah satu Chinook. Dua helikopter lainnya tetap berada di Kijing. Kapal praktis berfungsi sebagai pangkalan bergerak untuk mendekatkan helikopter dengan daerah sasaran.
Pemindahan tersebut menunjukkan salah satu keunggulan pengerahan JS Kunisaki. Operasi udara tidak sepenuhnya bergantung pada pangkalan darat.
Di Ketapang, tantangan yang sama kembali menghadang.
Kabut asap membuat jarak pandang terbatas sehingga helikopter tidak selalu dapat diterbangkan. Joint Operations Command Jepang mengakui asap dari kebakaran berdampak besar terhadap operasi penerbangan helikopter.
Ketika cuaca memungkinkan, Chinook melakukan water bombing terhadap kawasan terbakar.
Operasi udara itu terus berlangsung hingga menjelang akhir September.
Akumulasi akhirnya cukup besar. Hingga Senin (28/9), tiga Chinook telah melakukan lebih dari 40 operasi pemadaman dengan sekitar 220 ton air dijatuhkan.
Jika 220 ton tersebut dikonversikan secara sederhana menggunakan massa jenis air, volumenya setara sekitar 220 ribu liter air.
Kapal 178 Meter
JS Kunisaki bukan kapal induk, melainkan kapal angkut atau Landing Ship Tank kelas Ōsumi milik Japan Maritime Self-Defense Force.
Kapal bernomor lambung LST-4003 itu memiliki bobot standar sekitar 8.900 ton.
Panjangnya mencapai 178 meter, dengan lebar sekitar 25,8 meter. Desain dek yang luas memungkinkan kapal membawa dan mendukung pengoperasian helikopter serta kendaraan.
Kapal kelas Ōsumi juga membawa Landing Craft Air Cushion (LCAC), wahana pendarat berbantalan udara yang dapat digunakan untuk memindahkan kendaraan dan logistik dari kapal menuju daratan.
Kemampuan angkut tersebut membuat kapal kelas ini relevan bukan hanya untuk operasi pertahanan, tetapi juga penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Dalam misi Kalbar, fungsi terakhir itulah yang terlihat.
Kapal perang tersebut datang bukan membawa persenjataan untuk sebuah konflik, melainkan helikopter untuk menjatuhkan air ke lahan yang terbakar.
Chinook, Raksasa Rotor Ganda
CH-47 menjadi ujung tombak operasi.
Helikopter tersebut mudah dikenali karena menggunakan dua rotor utama berukuran besar—satu di depan dan satu di belakang—tanpa rotor ekor seperti helikopter konvensional.
Jepang menggunakan CH-47J dan versi berjangkauan lebih jauh CH-47JA sebagai helikopter angkut berat.
CH-47JA memiliki panjang keseluruhan sekitar 30,18 meter dan tinggi 5,69 meter. Diameter masing-masing rotornya mencapai 18,29 meter.
Bobot maksimum helikopter mencapai sekitar 22,7 ton. Kecepatan maksimumnya sekitar 270 kilometer per jam, sedangkan jangkauannya sekitar 1.040 kilometer.
Karakteristik tersebut membuat Chinook dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan berat: mengangkut personel, kendaraan dan logistik hingga membantu operasi penanggulangan bencana.
Untuk pemadaman karhutla, helikopter membawa kantong air eksternal yang diisi dari sumber air kemudian diterbangkan menuju lokasi kebakaran.
Di Kalbar, kemampuan itu sangat penting karena kebakaran tidak selalu terjadi di lokasi yang mudah dicapai kendaraan darat.
Misi Pertama di Luar Jepang
Pengerahan Chinook ke Indonesia memiliki arti lebih besar bagi Jepang.
Ketika mengumumkan operasi pada akhir Agustus, Pemerintah Jepang menyebutnya sebagai pertama kalinya Pasukan Bela Diri Jepang menjalankan operasi pemadaman kebakaran di luar negeri.
Artinya, Kalimantan menjadi tempat JSDF mencatat sejarah operasi bantuan kebakaran internasionalnya.
Misi dilaksanakan dalam kerangka international emergency relief dan sekaligus memperlihatkan berkembangnya hubungan pertahanan Indonesia-Jepang.
Beberapa bulan sebelumnya, pada Mei 2026, Koizumi dan Sjafrie menyepakati perluasan kerja sama pertahanan. Bidangnya mencakup latihan bersama serta bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Dalam pertemuan Sjafrie dengan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Ueno Atsushi pada 21 September, kedua pihak kembali membahas penguatan kemitraan pertahanan, keamanan maritim, peningkatan kapasitas serta industri pertahanan.
Sjafrie dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan apresiasi atas pengerahan JS Kunisaki dan tiga Chinook dalam penanganan karhutla.
Hotspot Turun Tajam
Misi Jepang berakhir ketika kondisi karhutla Kalbar jauh berbeda dibandingkan saat kapal itu tiba.
Pada pertengahan hingga akhir September, kebakaran masih menimbulkan asap pekat di sejumlah wilayah. Kualitas udara memburuk dan aktivitas masyarakat terdampak.
Menjelang akhir bulan, jumlah hotspot mulai turun.
Data pemantauan BMKG menunjukkan hotspot high confidence Kalbar tercatat 50 titik pada 22 September, 33 titik pada 23 September, 26 titik pada 24 September, 14 titik pada 25 September, dan dua titik pada 26 September.
Jumlahnya sempat meningkat menjadi 14 titik pada 27 September.
Pada 28 September, hotspot kategori tinggi turun menjadi nol.
Kondisi tersebut bertahan hingga pemantauan BMKG Selasa (29/9) pukul 13.00 WIB: nol high confidence.
Namun, terdapat 56 hotspot kategori sedang. Karena itu, nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi tidak dapat diartikan bahwa seluruh kebakaran telah berakhir.
Hotspot sendiri merupakan anomali panas permukaan yang dideteksi satelit. Data itu menjadi salah satu indikator untuk menentukan lokasi yang perlu diperiksa, bukan identik dengan jumlah kebakaran di lapangan.
Indonesia Lanjutkan Penanganan
Keputusan mengakhiri operasi Jepang juga bukan semata-mata didasarkan pada angka hotspot.
Menurut keterangan Koizumi, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan kepada Jepang bahwa bantuan JSDF membantu mencegah meluasnya kebakaran dan Indonesia dapat menangani respons berikutnya.
Pernyataan itu menjadi dasar Jepang menghentikan operasi.
Dengan demikian, pengakhiran misi merupakan transisi dari dukungan internasional kembali kepada penanganan menggunakan sumber daya nasional.
Operasi selama ini memang berjalan bersama kekuatan Indonesia. Penanganan karhutla melibatkan BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, perusahaan serta berbagai unsur lain.
Faktor cuaca juga berpengaruh. Hujan yang turun di sejumlah wilayah membantu proses pemadaman dan mengurangi kekeringan.
Karena itu, penurunan hotspot tidak dapat dilekatkan kepada operasi Jepang semata.
220 Ribu Liter Sebelum Pulang
Namun, jejak JS Kunisaki dan tiga Chinook dapat dihitung.
Mereka menyeberang dari Jepang menuju Kalimantan, beroperasi dari Kijing, bergerak mengikuti kebakaran hingga Ketapang, kemudian kembali ke Mempawah.
Lebih dari 40 operasi udara dilakukan.
Sekitar 220 ton atau setara 220 ribu liter air dijatuhkan.
Dan, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Pasukan Bela Diri Jepang menjalankan misi pemadaman kebakaran di luar negeri. Kini perintah mengakhiri operasi telah diberikan.
Kapal sepanjang 178 meter yang tiba ketika asap masih pekat itu bersiap meninggalkan Kalimantan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro