BMKG Ungkap Tantangan OMC Karhutla, Awan Hujan di Selatan Ekuator Minim

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 22:29 WIB
Tim OMC Kalbar memuat NHCL dalam pesawat untuk melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalbar. (ANTARA/HO-Humas Kemenhut)
Tim OMC Kalbar memuat NHCL dalam pesawat untuk melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalbar. (ANTARA/HO-Humas Kemenhut)

PONTIANAK POST - Minimnya pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan ekuator menjadi kendala utama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan efektivitas penyemaian awan sangat ditentukan oleh kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial di wilayah sasaran operasi.

"Apabila ada potensi-potensi pertumbuhan awan, saat diintervensi, terjadi curah hujan. Namun, secara umum wilayah bagian selatan ekuator itu masih minim potensi pertumbuhan awannya," ujar Marjuki dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis.

Menurut Marjuki, kondisi tersebut membuat peluang menghasilkan hujan melalui intervensi OMC di kawasan selatan ekuator menjadi kecil. Sebaliknya, wilayah dengan pertumbuhan awan yang tinggi memiliki peluang lebih besar menghasilkan hujan setelah dilakukan penyemaian.

Kondisi itu, lanjutnya, terlihat dari pelaksanaan OMC di sejumlah wilayah Riau dan Kalimantan yang berhasil menghasilkan hujan dalam beberapa hari terakhir.

Kualitas Udara Mulai Membaik di Sejumlah Wilayah

Selain memantau kondisi atmosfer untuk mendukung operasi penanganan karhutla, BMKG bersama Kementerian Lingkungan Hidup juga meningkatkan pemantauan kualitas udara dengan melihat konsentrasi partikulat PM2.5.

Berdasarkan analisis terbaru, kualitas udara di Kalimantan Barat dan Pekanbaru, Riau, mulai mengalami perbaikan signifikan setelah hujan turun di wilayah tersebut.

Namun, kondisi berbeda masih terjadi di sejumlah daerah yang terdampak asap karhutla. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih mencatat kualitas udara dalam kategori berbahaya yang ditandai indikator warna hitam.

Kualitas udara di Jambi dan Palembang juga masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat yang berasal dari sisa kebakaran hutan dan lahan.

Marjuki menegaskan pelaksanaan OMC memiliki cakupan terbatas dan tidak dilakukan secara masif. Efektivitas operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk diintervensi.

Karena itu, BMKG berharap hujan alami yang diprakirakan mulai turun lebih merata dengan intensitas yang meningkat pada November dapat membantu mengurangi polusi udara sekaligus memadamkan bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan lahan gambut. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
hujan alami karhutla awan hujan ekuator