HUT TNI ke-81: Peringkat 1 Militer Asean dan No 13 di Dunia, Kekuatan Lampaui Iran dan Israel

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 00:18 WIB
Ilustrasi kekuatan TNI baik matra udara, laut, dan darat.
Ilustrasi kekuatan TNI, baik matra udara, laut, dan darat.

 

PONTIANAK POST — Indonesia menempati peringkat ke-13 dari 145 negara dalam Global Firepower (GFP) 2026. Dengan skor Power Index 0,2582, Indonesia menjadi negara berperingkat tertinggi di Asia Tenggara dalam penilaian potensi kekuatan militer konvensional tersebut.

Posisi itu menjadi salah satu catatan pada peringatan HUT ke-81 TNI, Senin (5/10/2026), yang mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”. Di balik peringkat tersebut, ada sejumlah aspek menarik, mulai dari armada laut dan kapal niaga hingga pentingnya latihan serta pemeliharaan persenjataan.

Di Atas Israel dan Iran

Dalam daftar global, Indonesia berada di bawah Brasil pada posisi ke-11 dan Jerman di urutan ke-12. Indonesia mengungguli Pakistan di posisi ke-14, Israel ke-15, Iran ke-16, serta Australia ke-17.

Amerika Serikat memimpin daftar, disusul Rusia, China, India, dan Korea Selatan. Lima posisi berikutnya ditempati Prancis, Jepang, Inggris, Turkiye, dan Italia.

Di Asia Tenggara atau Asean, Indonesia berada di atas Vietnam, Thailand, dan Singapura. Berikut urutan sembilan negara yang masuk penilaian regional GFP 2026:

Peringkat regional Negara Power Index
1 Indonesia 0,2582
2 Vietnam 0,4066
3 Thailand 0,4458
4 Singapura 0,5272
5 Myanmar 0,6265
6 Filipina 0,6993
7 Malaysia 0,7379
8 Kamboja 1,8434
9 Laos 2,8672

Daftar tersebut tidak mencakup seluruh negara Asia Tenggara. Brunei Darussalam dan Timor-Leste tidak tercantum dalam pemeringkatan regional itu.

Nilai Kecil Justru Lebih Kuat

Cara membaca Power Index berkebalikan dengan nilai ujian sekolah: semakin kecil angkanya, semakin tinggi penilaian kekuatan militernya. Skor 0,0000 menjadi patokan ideal, tetapi GFP menyebutnya tidak realistis dicapai melalui formula yang digunakan saat ini.

Penilaian memakai lebih dari 60 faktor, mencakup jumlah unit militer, keuangan, logistik, dan geografi. GFP juga mengingatkan bahwa perubahan formula dapat memengaruhi posisi tahunan. Karena itu, penurunan peringkat tidak otomatis berarti kemampuan militer suatu negara melemah.

Pemeringkatan ini perlu dibaca sesuai cakupannya: potensi kekuatan konvensional menurut metode GFP. Posisi lebih tinggi tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jaminan kemenangan dalam setiap konflik.

Armada Laut Masuk Lima Besar

Salah satu kekuatan yang menonjol dalam basis data tersebut ialah jumlah armada laut. GFP mencatat Indonesia memiliki 338 aset kapal, menempatkannya pada urutan kelima dunia setelah China, Rusia, Amerika Serikat, dan India.

Penghitungan itu mencakup berbagai jenis kapal, termasuk kapal patroli, kapal amfibi, dan kapal pendukung. Dengan demikian, angka 338 tidak berarti Indonesia memiliki 338 kapal tempur besar. GFP juga mengecualikan kapal yang masih dalam pengembangan atau berstatus pesanan menjelang tahun penilaian.

Rincian profil Indonesia antara lain mencatat 211 kapal patroli, 26 korvet, 10 fregat, empat kapal selam, serta 10 kapal peperangan ranjau. Berdasarkan total tonase armada, Indonesia berada di posisi ke-11 dengan 324.754 ton.

Perbedaan posisi berdasarkan jumlah kapal dan tonase menunjukkan bahwa kedua ukuran tersebut menjawab pertanyaan berbeda. Jumlah menggambarkan banyaknya aset, sedangkan tonase memberikan gambaran tambahan mengenai ukuran gabungan armada. GFP sendiri menyarankan kedua daftar dibaca bersama untuk menilai kekuatan laut dengan lebih baik.

Menjaga Ribuan Pulau

Besarnya kebutuhan armada laut dapat dipahami melalui kondisi geografis Indonesia. Badan Informasi Geospasial (BIG) mencatat 17.380 pulau dalam pemutakhiran data 2024. Angka itu merujuk pada pulau yang memiliki nama dan koordinat.

Kondisi kepulauan memberi konteks mengapa pertahanan membutuhkan kemampuan menjangkau banyak wilayah sekaligus. Patroli, pengiriman personel, dan distribusi kebutuhan operasi harus memperhitungkan jarak antarpulau serta akses menuju lokasi penugasan.

Dalam konteks tersebut, kapal berukuran kecil maupun besar memiliki kegunaan berbeda. Membaca kekuatan laut semata-mata dari jumlah kapal besar akan mengabaikan kebutuhan pengawasan perairan dan dukungan bagi wilayah yang tersebar.

Kapal Niaga Ikut Diperhitungkan

Hal lain yang menarik, kapal niaga turut masuk penilaian GFP melalui kategori logistik. Indonesia tercatat memiliki 11.422 kapal niaga, terbanyak dalam daftar tersebut, diikuti China sebanyak 8.314 dan Panama 8.174 kapal.

GFP menjelaskan, armada niaga dapat mendukung pengangkutan personel, kendaraan, serta pasokan ketika digunakan untuk kebutuhan perang. Karena itulah, kemampuan pelayaran sipil turut diperhitungkan dalam penilaian potensi pertahanan.

Angka tersebut tetap harus dibedakan dari inventaris kapal perang. Banyaknya kapal niaga menunjukkan potensi dukungan angkutan, bukan berarti seluruh kapal itu merupakan aset TNI AL atau siap menjalankan tugas tempur.

Modernisasi Berjalan di Luar Indeks

Pemeringkatan tahunan juga memiliki batas waktu data. Profil Indonesia untuk edisi 2026 tercatat terakhir ditinjau pada 20 Januari 2026. GFP menyatakan sebagian angka merupakan estimasi ketika data resmi tidak tersedia. Dengan demikian, profil tersebut bukan inventaris yang diperbarui langsung pada hari peringatan TNI.

Salah satu perkembangan setelah tanggal peninjauan itu ialah kedatangan tiga pesawat tempur Rafale pertama. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait, dalam laporan Reuters pada 26 Januari 2026, menyatakan ketiganya telah tiba pada 23 Januari dan ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Pengadaan Rafale Indonesia mencakup 42 pesawat. Kementerian Pertahanan menjelaskan bahwa kontrak tersebut terdiri atas enam unit pada tahap pertama, 18 unit tahap kedua, dan 18 unit tahap ketiga.

Menurut Kemhan, Rafale dirancang untuk berbagai misi, antara lain pertahanan udara, dukungan udara jarak dekat, pengintaian, dan serangan antikapal.

Perbedaan waktu antara peninjauan GFP dan kedatangan pesawat itu menjadi alasan untuk memisahkan pembacaan indeks dari perkembangan pengadaan sepanjang tahun. Pesawat yang dipesan, diserahkan, dan siap menjalankan tugas juga merupakan tahapan yang perlu dibedakan.

Latihan dan Logistik Menentukan

Jumlah alutsista baru menjelaskan sebagian kemampuan pertahanan. Kajian International Institute for Strategic Studies (IISS), Military Capabilities in Europe: A Framework for Assessing the Qualitative Dimension, menekankan perlunya membaca unsur kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan.

Dalam kontribusinya pada kajian tersebut, Jean-Pierre Maulny, Wakil Direktur French Institute for International and Strategic Affairs (IRIS), membahas pengalaman Prancis. Ia menekankan bahwa kemampuan militer perlu diuji melalui efektivitas operasional, yang bergantung pada latihan, ketersediaan peralatan, dan kemampuan mempertahankan operasi berkepanjangan.

Artinya, keberadaan alutsista perlu ditopang personel terlatih, pemeliharaan, serta pasokan yang berkelanjutan. Kapal membutuhkan awak dan dukungan pangkalan; pesawat memerlukan pilot, teknisi, serta fasilitas perawatan.

Kerangka IISS tersebut membantu menjelaskan hubungan antara inventaris dan kemampuan nyata. Namun, kajian itu membahas penilaian kemampuan militer di Eropa, bukan evaluasi khusus terhadap kesiapan TNI.

Mengapa Diperingati 5 Oktober?

Peringatan HUT TNI pada 5 Oktober berakar pada pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Menurut sejarah resmi TNI AD, organisasi pertahanan Indonesia berkembang dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian TKR, dan Tentara Republik Indonesia (TRI).

Nama Tentara Nasional Indonesia baru diresmikan pada 3 Juni 1947. Pembentukannya bertujuan mempersatukan TRI sebagai tentara reguler dengan badan-badan perjuangan rakyat. Karena itu, tanggal kelahiran yang diperingati setiap tahun mengacu pada pembentukan TKR, meskipun nama TNI digunakan kemudian.

Kedekatan dengan Warga

Di luar pemeringkatan dan persenjataan, rangkaian HUT ke-81 TNI juga menghadirkan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Di Lapangan Brawijaya Rampal, Kota Malang, kegiatan pada 20 September 2026 melibatkan sekitar 5.000 peserta dari unsur TNI-Polri, keluarga besar TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Menurut laporan resmi TNI AU, kegiatan itu mencakup lari lima kilometer, jalan sehat dua kilometer, pameran UMKM, pelayanan kesehatan, serta pembagian paket sembako. Warga juga menyaksikan penampilan drumband dan atraksi paramotor. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
HUT ke-81 TNI peringkat militer Indonesia Global Firepower 2026 kekuatan TNI alutsista Indonesia