3 Jenderal Top TNI yang Mendunia, Bukunya Wajib Dibaca di West Point hingga Jago Taktik Infiltrasi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 00:33 WIB

 

TIGA WARISAN STRATEGI: Ilustrasi siluet menggambarkan Nasution dengan pemikiran perang gerilya, Soedirman memimpin perjuangan dari atas tandu, serta Benny Moerdani dalam komando pembebasan sandera Woyla di Thailand.
TIGA WARISAN STRATEGI: Ilustrasi siluet menggambarkan Nasution dengan pemikiran perang gerilya, Soedirman memimpin perjuangan dari atas tandu, serta Benny Moerdani dalam komando pembebasan sandera Woyla di Thailand.

 

PONTIANAK POST — Tiga jenderal legendaris Indonesia; Abdul Haris Nasution, Soedirman, dan Benny Moerdani menghadapi tantangan militer yang berbeda. Nasution merumuskan pemikiran perang gerilya, Soedirman memimpin pertempuran dan menjaga keberlangsungan komando ketika republik diserang, sedangkan Benny berperan dalam pengendalian operasi pembebasan sandera di luar negeri.

Jejak internasional mereka pun memiliki bentuk tersendiri. Buku Nasution diterbitkan dan dibahas dalam jurnal akademik di luar negeri. Patung Soedirman berdiri di kompleks Kementerian Pertahanan Jepang. Sementara itu, nama Benny berkaitan dengan pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia Woyla di Bangkok, Thailand.

Di balik kisah tersebut, terdapat detail yang membuat sejarah terasa lebih dekat: dua tokohnya pernah menjadi guru, sebuah taktik mengambil nama dari capit udang, dan persiapan penyelamatan penumpang pesawat dimulai dari latihan di hanggar.

Kecakapan ketiganya dapat dipahami melalui persoalan yang mereka hadapi: bagaimana mempertahankan perlawanan ketika persenjataan terbatas, bagaimana memimpin saat tubuh sakit, serta bagaimana mengoordinasikan penyelamatan warga di wilayah negara lain.

1. AH Nasution, dari Ruang Kelas ke Buku Gerilya

Sebelum menekuni dunia militer, Abdul Haris Nasution menempuh pendidikan keguruan. Pada 1935, ia melanjutkan pendidikan di Hollandsche Inlandsche Kweekschool atau HIK di Bandung.

Pria yang akrab disapa Pak Nas itu kemudian mengajar di Bengkulu dan Palembang. Ketertarikannya pada kemiliteran membawanya mengikuti pendidikan perwira cadangan KNIL di Bandung pada 1940–1942. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan dua pengalaman berbeda: mengajar dan mempelajari organisasi ketentaraan.

Belajar dari Pertahanan yang Ditembus

Pemikiran gerilya Nasution bertolak dari persoalan nyata dalam perang kemerdekaan. Menurut Pusat Sejarah TNI, pertahanan linear yang digunakan pasukan Indonesia pada Agresi Militer Belanda I ternyata mudah diterobos lawan yang memiliki keunggulan persenjataan.

Nasution melihat perlunya perubahan. Pasukan harus tetap mampu melakukan perlawanan meskipun wilayah tertentu dikuasai Belanda. Kantong-kantong gerilya menjadi bagian penting pemikirannya, termasuk untuk mempertahankan keberadaan pemerintahan republik di daerah.

Dari pengalaman ini terlihat bahwa kemampuan menyusun strategi juga menuntut keberanian mengevaluasi cara bertempur yang tidak berhasil.

Gerilya Juga Memikirkan Kesehatan dan Perhubungan

Gambaran populer tentang gerilya sering berhenti pada pasukan yang bergerak melalui hutan. Padahal, cakupan pemikiran Nasution jauh lebih luas.

Deskripsi buku Rute Perjuangan Gerilya Nasution pada Masa Agresi Militer Belanda II dalam koleksi Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menyebut berbagai unsur dalam konsepnya: taktik pertempuran, perhubungan, sikap nonkooperasi, pembentukan pasukan gerilya desa, hingga kesehatan.

Persoalan agitasi dan kabar bohong juga masuk dalam pembahasan. Dengan demikian, daya tahan perjuangan berkaitan pula dengan kemampuan menjaga informasi, hubungan antardaerah, dan kondisi orang-orang yang terlibat.

Cakupan tersebut membantu menjelaskan mengapa dukungan masyarakat mendapat tempat penting dalam perang gerilya. Sebuah pasukan membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka bergerak, berkomunikasi, dan mempertahankan organisasi.

Kantong Perlawanan Menggantikan Garis Pertahanan

Perubahan pendekatan menghadapi Belanda juga tercermin dalam Perintah Siasat No. 1 Tahun 1948. Catatan Pusat Sejarah TNI menyebut keputusan itu memuat penghindaran pertahanan linear, pembentukan kantong-kantong perlawanan, serta penugasan pasukan yang sebelumnya hijrah untuk menyusup kembali ke daerah asal.

Langkah terakhir dikenal dengan istilah wingate. Dalam konteks tersebut, pasukan diarahkan kembali ke wilayah pendudukan untuk membangun perlawanan.

Rangkaian keputusan itu memperlihatkan bahwa gerilya memerlukan persiapan organisasi. Perpindahan pasukan tetap harus terhubung dengan tujuan pertahanan dan pembagian tanggung jawab kewilayahan.

Bukunya Menyeberangi Benua

Warisan pemikiran Nasution dikenal melalui Pokok-Pokok Gerilya. Edisi bahasa Inggrisnya, Fundamentals of Guerrilla Warfare, diterbitkan Frederick A. Praeger di New York pada 1965, dengan pengantar Otto Heilbrunn.

Buku setebal 324 halaman tersebut kemudian diulas Guy J. Pauker, peneliti yang berafiliasi dengan RAND Corporation. Ulasannya dimuat dalam The Journal of Asian Studies, Volume 25, Nomor 2, Februari 1966, pada halaman 371–372.

Detail ini memberikan jejak yang dapat ditelusuri: pengalaman perang Indonesia hadir dalam penerbitan internasional dan mendapat perhatian peneliti di luar negeri.

Namun, penerbitan serta ulasan akademik perlu dibedakan dari klaim bahwa buku itu menjadi bacaan wajib di West Point atau digunakan langsung oleh Vo Nguyen Giap untuk memenangkan Perang Vietnam. Dua klaim terakhir belum dapat dipastikan dari sumber yang diperiksa.

Pencapaian Nasution sebagai penulis tetap berarti tanpa tambahan klaim tersebut. Melalui buku, pengalaman perang dapat dipelajari oleh pembaca yang tidak pernah mengenal penulisnya maupun menyaksikan medan pertempurannya.

2. Panglima Soedirman, Guru yang Menjadi Panglima

Soedirman memiliki persinggungan dengan dunia pendidikan seperti Nasution. Sebelum menjadi Panglima Besar, ia mengajar dan menjadi kepala sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Publikasi Muhammadiyah mencatat masa pengabdiannya sebagai guru dan kepala sekolah pada 1936–1942. Ia juga aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah.

Latar tersebut memperlihatkan pengalaman memimpin yang tumbuh melalui sekolah serta organisasi masyarakat. Sebelum mengarahkan pasukan, Soedirman telah berhadapan dengan tugas membimbing orang lain dan menjaga kegiatan bersama.

Panglima pada Usia 29 Tahun

Salah satu fakta menarik dalam perjalanan Soedirman adalah usianya ketika memegang kepemimpinan tertinggi tentara.

Lahir pada 24 Januari 1916, ia dipilih sebagai pemimpin tertinggi TKR dalam konferensi tentara pada November 1945. Presiden Soekarno kemudian melantiknya sebagai Panglima Besar pada 18 Desember 1945. Saat itu, usianya masih 29 tahun.

Tanggung jawab tersebut datang ketika Indonesia baru beberapa bulan memproklamasikan kemerdekaan. Tentara nasional masih membangun organisasi, sementara pertempuran berlangsung di berbagai daerah.

Supit Urang dan Pertempuran Ambarawa

Nama Soedirman lekat dengan taktik supit urang dalam Pertempuran Ambarawa. Istilah itu merujuk pada capit udang, menggambarkan gerakan menjepit lawan dari dua sisi.

Menurut Museum TNI AD, Soedirman mengumpulkan komandan sektor dan laskar pada 11 Desember 1945 untuk membahas serangan. Gerakan serentak dimulai pada dini hari berikutnya.

Pengepungan tersebut juga diarahkan untuk memutus hubungan logistik dan komunikasi pasukan Inggris. Pada 15 Desember 1945, mereka mundur dari Ambarawa menuju Semarang.

Ada perbedaan waktu yang perlu diperhatikan dalam membaca sejarahnya. Rangkaian Palagan Ambarawa berlangsung sejak November 1945, sedangkan serangan penentunya terjadi pada 12–15 Desember. Karena itu, penyebutan “pertempuran empat hari” lebih tepat merujuk pada fase penentu tersebut.

Keberhasilan Ambarawa kemudian menjadi dasar peringatan Hari Juang TNI AD setiap 15 Desember. Tanggal itu mengabadikan pertempuran yang melibatkan tentara dan dukungan masyarakat.

Menjaga Komando dalam Keadaan Sakit

Tantangan berbeda muncul ketika Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Soedirman meninggalkan kota dan memimpin gerilya meskipun kesehatannya terganggu.

Selama bergerilya, ia tetap mengeluarkan perintah kepada angkatan perang. Keberadaannya di luar kota mempertahankan hubungan kepemimpinan dengan pasukan yang terus melakukan perlawanan.

Naskah sejarah yang diterbitkan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggambarkan perjalanan rombongannya melalui Bantul, Gunungkidul, Pracimantoro, Wonogiri, hingga sejumlah wilayah di Jawa Timur. Soedirman kembali ke Yogyakarta pada 10 Juli 1949.

Rentang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gerilyanya berlangsung berbulan-bulan, dengan perpindahan melalui banyak wilayah.

Tandu yang Berganti, Warga yang Menopang

Foto Soedirman di atas tandu menjadi salah satu gambaran paling dikenal dari perang kemerdekaan. Di baliknya, terdapat warga dan pengawal yang memungkinkan perjalanan tersebut terus berlangsung.

Dinas Kebudayaan DIY mencatat salah satu tandu yang disimpan di Museum Jenderal Besar Sudirman digunakan pada perjalanan Semanu–Bedoyo, Gunungkidul, tanggal 22 Desember 1948.

Ketika rombongan tiba di Bedoyo, masyarakat telah menyiapkan tandu lain untuk perjalanan menuju Pracimantoro. Detail ini menunjukkan bahwa sarana perjalanan panglima juga bergantung pada bantuan yang disiapkan warga di sepanjang rute.

Publikasi yang sama mengangkat kisah Djuwari, warga Dusun Goliman, Kediri, yang bersama warga lainnya pernah memikul tandu Soedirman menuju Nganjuk.

Nama-nama seperti Djuwari membuat sejarah gerilya lebih utuh. Keteguhan seorang panglima berjalan bersama tenaga orang-orang yang menanggung beban perjalanan di pundak mereka.

Mengapa Patungnya Ada di Jepang?

Jejak Soedirman di luar negeri dapat ditemukan di kompleks Kementerian Pertahanan Jepang. Riwayat pendiriannya tercatat dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Patung tersebut merupakan hadiah Kementerian Pertahanan RI kepada Kementerian Pertahanan Jepang. Upacara pembukaan selubungnya berlangsung pada 14 Januari 2011, dihadiri Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa dan Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro.

Duta Besar RI untuk Jepang saat itu, M. Lutfi, juga hadir.

Konteks tersebut memperjelas makna keberadaannya sebagai bagian dari hubungan pertahanan kedua negara. Patung itu menjadi jejak penghormatan kepada tokoh Indonesia, tanpa perlu ditafsirkan sebagai bukti bahwa seluruh taktiknya diadopsi militer Jepang.

3. Benny Moerdani dan Penyelamatan Woyla

Nama Benny Moerdani berkaitan dengan salah satu operasi pembebasan sandera paling dikenal dalam sejarah Indonesia: penyelamatan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla di Bangkok pada 31 Maret 1981.

Kompas TV, dengan merujuk arsip Harian Kompas, mencatat operasi berada di bawah komando Benny. Saat itu, ia berpangkat letnan jenderal dan menjabat Kepala Pusat Intelijen Strategis. Letnan Kolonel Sintong Panjaitan memimpin pelaksanaan di lapangan.

Pembagian tugas ini penting. Komando operasi mencakup pengendalian serta koordinasi, sedangkan kepemimpinan lapangan berhubungan langsung dengan pelaksanaan oleh pasukan.

Pengalaman Sebelum Woyla

Keterlibatan Benny dalam operasi militer telah berlangsung jauh sebelum pembajakan tersebut.

Galeri Museum Kopassus mendokumentasikan perannya dalam Operasi Naga di Merauke pada 1962. Koleksi itu juga memuat dokumentasi Presiden Soekarno menyematkan Bintang Sakti kepada Benny atas kepemimpinannya dalam operasi penerjunan tersebut.

Jejak ini memberi konteks bahwa perannya dalam Woyla datang setelah pengalaman bertahun-tahun dalam lingkungan operasi militer. Meski demikian, penyanderaan pesawat menghadirkan persoalan tersendiri karena keselamatan penumpang dan awak menjadi pusat perhatian.

Penerbangan Domestik yang Berakhir di Thailand

Pesawat Woyla dibajak pada 28 Maret 1981 ketika melayani rute Jakarta–Palembang–Medan. Museum Kopassus mencatat pesawat bernomor penerbangan GA-206 itu membawa 48 penumpang.

Pembajak memaksa penerbangan dialihkan ke Penang, Malaysia, sebelum menuju Bangkok. Pesawat kemudian berada di Bandara Don Muang.

Perubahan rute itu membuat krisis yang bermula dalam penerbangan domestik berkembang menjadi urusan lintas negara. Penanganannya memerlukan komunikasi dengan pemerintah tempat pesawat berada, selain kesiapan pasukan Indonesia.

Latihan di Hanggar Garuda

Salah satu bagian penting persiapan berlangsung pada 29 Maret 1981 di hanggar Garuda, Kemayoran. Tim mempelajari pesawat DC-9 dan menjalani latihan teknis sebelum berangkat ke Thailand.

Catatan Museum Kopassus menempatkan pengenalan pesawat serta koordinasi antartim sebagai bagian dari persiapan.

Detail hanggar tersebut menarik karena memperlihatkan pekerjaan yang mendahului sebuah operasi. Di balik peristiwa penyelamatan yang kemudian dikenal publik, ada tahap belajar, berlatih, dan menyamakan pemahaman.

Dalam konteks penyanderaan pesawat, persiapan semacam itu membantu menjelaskan mengapa keberanian harus disertai ketelitian. Ruang operasi juga ditempati warga yang keselamatannya harus dilindungi.

Peran Persetujuan Thailand

Operasi pembebasan dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Pemerintah Thailand. Pasukan Indonesia kemudian bergerak pada dini hari 31 Maret 1981.

Arsip yang dirangkum Kompas TV menyebut pasukan pelaksana berasal dari Kopassandha, nama satuan yang kemudian dikenal sebagai Kopassus.

Persetujuan negara tuan rumah menunjukkan adanya unsur diplomasi dalam penyelesaian krisis. Keputusan di tingkat pemerintah dan pelaksanaan oleh pasukan harus saling mendukung.

Karena itu, Woyla dapat dibaca sebagai contoh operasi yang mempertemukan komando, persiapan teknis, kepemimpinan lapangan, dan koordinasi antarnegara.

Keberhasilan yang Menyisakan Duka

Pembebasan Woyla juga menelan korban. Prajurit Achmad Kirang dan pilot Herman Rante mengalami luka tembak serius dan meninggal setelah mendapat perawatan.

Museum Kopassus mencatat Achmad Kirang wafat pada 1 April 1981 di Bangkok. Dokumentasi museum juga memperlihatkan pemulangan jenazahnya serta penghargaan yang diberikan setelah operasi.

Kisah keduanya menjaga sisi manusia dalam pembacaan sejarah Woyla. Pembebasan sandera menyangkut keluarga yang menunggu kabar, awak yang menghadapi ancaman, serta prajurit yang mempertaruhkan nyawa.

Tiga Cara Menghadapi Keterbatasan

Nasution, Soedirman, dan Benny memperlihatkan bentuk kecakapan yang berbeda. Pemikiran Nasution menjelaskan cara mempertahankan perlawanan dalam keadaan persenjataan tidak seimbang. Kepemimpinan Soedirman tampak dalam pertempuran serta upayanya menjaga komando selama gerilya. Peran Benny dalam Woyla menunjukkan pentingnya pengendalian operasi dan koordinasi lintas negara.

Membandingkan ketiganya lebih bermakna melalui tantangan yang mereka hadapi daripada membuat peringkat “paling genius” tanpa ukuran seragam.

Buku Nasution, tandu Soedirman, dan persiapan Woyla di hanggar menyimpan pelajaran yang saling melengkapi: pengalaman perlu dipikirkan, kepemimpinan perlu dijalankan, dan rencana membutuhkan banyak orang agar dapat terlaksana. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
jenderal Indonesia ahli strategi Abdul Haris Nasution Jenderal Soedirman Benny Moerdani taktik gerilya