Singkong Diolah Jadi Bahan Pemadam Karhutla Gambut, BRIN Uji Formulasi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 00:43 WIB
Ilustrasi panen singkong.
Ilustrasi panen singkong.

 

PONTIANAK POST – Singkong tidak hanya berpotensi menjadi bahan pangan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan formulasi berbasis pati singkong untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.

Formulasi bernama Singkong-APP itu dikembangkan dari pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air. Dalam pengujian awal, formulasi tersebut membutuhkan sekitar 65 liter cairan, lebih sedikit dibandingkan 120 liter air pada perlakuan pembanding.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, menjelaskan, Singkong-APP dirancang bukan sekadar untuk mendinginkan area terbakar. Formulasi ini juga ditujukan untuk menghambat pembakaran lanjutan yang dapat bertahan di dalam material gambut.

“Singkong-APP dirancang tidak hanya untuk pendinginan. Sistem singkong–APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai barrier termal, sehingga dapat menghambat perpindahan panas dan membantu menekan pembakaran lanjutan,” ujar Julinton.

Dalam pengujian tersebut, setelah 60 menit pengamatan, tidak ditemukan api maupun asap pada perlakuan Singkong-APP. Sementara itu, pada perlakuan menggunakan air masih ditemukan enam titik api atau asap. Bara api juga masih ditemukan pada perlakuan air setelah 12 jam.

Hasil awal itu memberi gambaran mengenai potensi formulasi berbasis pati singkong untuk membantu menangani kebakaran gambut. Namun, hasil pengujian tersebut belum dengan sendirinya membuktikan efektivitasnya pada kebakaran gambut berskala luas atau dalam berbagai kondisi lapangan.

Gambut Harus Dijaga Tetap Basah

Inovasi bahan pemadam tersebut berkaitan dengan karakter kebakaran gambut yang berbeda dari kebakaran vegetasi di permukaan. Peneliti Pusat Riset Ekologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa kebakaran gambut pada dasarnya merupakan persoalan hidrologi sebelum menjadi persoalan api.

Gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Karena itu, menjaga muka air tanah tetap tinggi menjadi langkah penting untuk mempertahankan kelembapan gambut dan mengurangi risiko kebakaran.

“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” jelas Dony.

Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Selain menyimpan karbon, gambut berperan dalam tata air dengan menyimpan dan melepaskan air secara bertahap.

Sebaliknya, pengeringan berlebihan membuat muka air tanah turun dan lapisan gambut mengering. Kondisi itu meningkatkan risiko kebakaran, sekaligus memicu penurunan permukaan tanah atau subsiden dan emisi karbon.

Dony menjelaskan, kebakaran gambut dapat terjadi dalam dua bentuk, yakni flaming atau api yang membakar di permukaan dan smouldering atau pembakaran yang berlangsung di dalam lapisan gambut.

Pembakaran di bawah permukaan lebih sulit dideteksi dan dapat bertahan lama. Meski suhu pembakarannya relatif lebih rendah, bara dapat menyebar di dalam gambut sehingga pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan penanganan api yang terlihat di permukaan.

“Karena itu, kebakaran gambut adalah masalah hidrologi sebelum menjadi masalah api,” tegasnya.

Pengalaman kebakaran di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada 2026 juga menunjukkan pentingnya deteksi dini. Kebakaran yang awalnya ditandai titik panas berukuran kecil dapat berkembang menjadi front api yang menyebar ketika kondisi mendukung.

Deteksi Dini Berbasis Satelit

Selain mengembangkan bahan pemadam, BRIN memanfaatkan data satelit penginderaan jauh untuk mendeteksi potensi karhutla. Data tersebut digunakan untuk memantau titik panas, anomali termal, kondisi tutupan lahan, dan area yang telah terbakar.

Menurut Julinton, pemantauan berbasis satelit membantu mengidentifikasi wilayah berisiko dalam cakupan luas sebelum dilakukan verifikasi di lapangan.

Kombinasi deteksi dini, pemantauan kondisi air, dan teknologi pemadaman menjadi penting dalam penanganan karhutla gambut. Upaya pemadaman diperlukan ketika api muncul, tetapi pencegahan melalui pemeliharaan tata air tetap menjadi langkah mendasar untuk menekan risiko kebakaran berulang.

Dengan demikian, pemanfaatan pati singkong melalui Singkong-APP menawarkan salah satu pendekatan teknologi yang dapat dikembangkan untuk penanganan karhutla. Efektivitasnya pada kondisi lapangan, kebutuhan penerapan, dan skalabilitasnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian lebih lanjut.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Karhutla Gambut Singkong-APP pati singkong Pemadam Kebakaran BRIN