Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Borneo Cross Border Cycling Tour : Dari Event Sepeda Lintas Negara Menuju Ekosistem Sport Tourism Kalbar

Basilius Andreas Gas • Jumat, 1 Mei 2026 | 10:05 WIB
Rizky saat menjajal tanjakan Bukit Tebakang, Serian yang legendaris. (ISTIMEWA)
Rizky saat menjajal tanjakan Bukit Tebakang, Serian yang legendaris. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Borneo Cross Border Cycling Tour (BCBCT) disebut sebagai mobile tourism economy event. Dia bukan hanya olahraga atau wisata biasa, tapi juga cara untuk menggerakkan ekonomi daerah yang dilewati peserta selama perjalanan.

Hal itu disampaikan Rizky Fauzan, penggagas BCBCT yang jadi agenda dua tahunan dan disupport Kementrian Pariwisata dan Enterpreneur Sarawak, Malaysia.

"Event Borneo Cross Border Cycling Tour (BCBCT) ini penting dan menarik karena bukan sekadar olahraga, tetapi kombinasi sport tourism,  border economy, city branding dan diplomasi kawasan," paparnya. 

Dikatakannya, BCBCT yang terakhir kali dilakukan tahun 2025 lalu, merupakan event sepeda lintas negara sejauh ±810 km dengan rute Pontianak – Sambas – Kuching – Sanggau – Pontianak. Pesertanya melintasi empat border, Aruk (Indonesia), Biawak (Malaysia), Tebedu (Malaysia) dan Entikong (Indonesia).

Event bersepeda bertajuk BCBCT itu dilaksanakan sejak tahun 2023, dan pada tahun 2025 yang lalu, event ini diikuti 69 peserta dari Kalbar, Jakarta, Medan, Jawa Timur, Bali, Ambon, Papua, dan dalam pelaksanaannya event BCBCT ini didukung pihak Indonesia–Malaysia. 

Perkembangan sport tourism di Indonesia, kata Rizky, khususnya di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Barat, masih early growth stage, tetapi memiliki keunggulan unik.

"Keunggulan Kalbar untuk perkembangan sport tourism, kita sebut saja contohnya, perbatasan internasional RI–Malaysia, kemudian ada jalan darat menuju Sarawak, belum lagi alam tropis dan sungai besar yang dapat diunggulkan, serta ragam budaya Melayu-Dayak-Tionghoa," terangnya sambil menyebut Kota Pontianak sebagai kota yang ramah dan cocok untuk bersepeda.

Dia menyebutkan secara nasional, sport tourism Indonesia berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Diantaranya ada MotoGP Mandalika, Formula E Jakarta, Borobudur Marathon, Tour de Singkarak, Tour de Bromo, Tour de Jogja, Bali Marathon serta Jakarta Marathon.

"Kita dapat mengatakan bahwa BCBCT ini menjadi pionir sport tourism Kalbar," katanya.

 

Tantangan dan Pengembangan Ekosistem Sport Tourism Kalbar

Kendati demikian, diakui Rizky, persoalan nyata yang dihadapi didepan mata jelas ada dan punya pengaruh signifikan jika tidak ada kebijakan untuk berbenah. 

Dari beberapa persoalan yang ada, Rizky menyebutkan tantangan utama saat ini, antara lain, belum ada masterplan sport tourism, promosi internasional yang minim, infrastruktur cyclist belum standar, event masih komunitas driven. Ditambah dengan data dampak ekonomi belum dihitung serius.

Apa yang membedakan event seperti BCBCT dengan event olahraga biasa? Dia menjelaskan bahwa event olahraga biasa, fokus pada kompetisi, sementara BCBCT memiliki multiplier effect tourism.

"Pembeda utama, kalau olahraga biasa, dilakukan satu lokasi sementara BCBCT digelar di multi kota dan dua negara," katanya.

Pembeda lainnya, dipaparkan Rizky, olahraga biasa diikuti peserta lokal, fokus pada lomba, dampak ekonomi kecil dan memiliki durasi singkat. Sedangkan BCBCT digelar multi kota dan dua negara, pesertanya lintas provinsi atau negara, ada konsep atau pendekatan antara wisata, konektivitas dan budaya, ada keterlibatan UMKM, hotel dan transportasi dan dilaksanakan multy-day spending.

Dia menilai BCBCT Harus diubah menjadi ecosystem, bukan event.

"Tour de Bukit Kelam atau menjual pesona Bukit Kelam. Kami pernah buat event ini tahun 2022 yang lalu tapi hanya internal komunitas saja. Makanya perlu dukungan pemerintah daerah. Disitu sulitnya," ujarnya.

Dia mengatakan perlu dipertimbangkan menggelar event turunan tahunan, semisal BCBCT Mini Ride, Happy Cycling HUT Kota Pontianak, Pontianak Endurance Challenge, Cross Country Bike Open (CCBO) atau Kalimantan International MTB Festival.

"Bisa pula dilakukan event turunan lain seperti Pontianak Night Ride, Sambas Heritage Ride, Kapuas River Cycling Fest. Inilah ekosistem yang terbangun dari kegiatan sports tourism itu. Ada jaringan kegiatan dan pihak yang saling terhubung serta saling mendukung," katanya.

Event turunan dalam bentuk paket wisata rutin, dinilainya dapat dilakukan misalnya Pontianak – Singkawang weekend cycling package. Didukung juga dengan digital branding seperti konten YouTube, TikTok, vlog cyclist ASEAN. 

Hal lainnya, tambah dia, penentuan kalender tetap pada tanggal yang sama tiap tahun dan adanya sponsorship permanen, misalnya Bank Kalbar, BUMN, maskapai, hotel.

"Peluang Kalbar jadi destinasi sport tourism internasional sangat besar disini. Kalau bicara Unique Selling Proposition Kalbar, maka ini satu-satunya gateway cycling RI–Malaysia di Borneo. Didukung beragam hal, jalan panjang dan datar, budaya multietnis, kuliner kuat dan harga relatif murah dibanding Bali," kata Rizky. (*)








Editor : Basilius Andreas Gas
#sepeda #event #sport tourism #Borneo Cross Border Cycling Tour 2025