Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mimpi Besar dari Bangku Penonton Indonesia Open 2026

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 4 Juni 2026 | 23:10 WIB
MENANAM MIMPI: Aisah Muslimah bersama kedua anak kembarnya, Ataya dan Atala, menyaksikan pertandingan Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, kemarin. Mereka datang untuk belajar langsung dari para pebulutangkis dunia sekaligus memberi dukungan kepada wakil Indonesia. (JAWA POS)
MENANAM MIMPI: Aisah Muslimah bersama kedua anak kembarnya, Ataya dan Atala, menyaksikan pertandingan Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, kemarin. Mereka datang untuk belajar langsung dari para pebulutangkis dunia sekaligus memberi dukungan kepada wakil Indonesia. (JAWA POS)

PONTIANAK POST – Sorak sorai ribuan penonton di Istora Gelora Bung Karno bukan hanya menjadi penyemangat bagi para atlet. Bagi sebagian orang tua, Indonesia Open 2026 adalah ruang belajar sekaligus tempat menanam mimpi bagi anak-anak yang tengah meniti jalan sebagai pebulutangkis muda.

Di antara lautan penonton yang memenuhi tribun, Aisah Muslimah tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Untuk pertama kalinya, perempuan asal Cibitung, Kabupaten Bekasi, itu berhasil membawa kedua anak kembarnya, Ataya dan Atala, menyaksikan langsung turnamen bulu tangkis kelas dunia.

“Senang sekali bisa ikut yel-yel dan memberi dukungan kepada pemain Indonesia,” ujar Aisah saat ditemui Jawa Pos (grup Pontianak Post) di Istora, Kamis (4/6/2026).

Bagi Aisah, perjalanan ke Indonesia Open bukan sekadar rekreasi keluarga. Ia ingin kedua anaknya melihat langsung bagaimana para pemain terbaik dunia bertanding, berjuang, dan menghadapi tekanan di lapangan.

Sejak Januari 2026, Ataya dan Atala bergabung dengan PB Champion Klaten, Jawa Tengah. Keduanya harus membagi waktu antara sekolah dan latihan yang tidak ringan.

Sebagai ibu, Aisah memahami betul pengorbanan yang harus dijalani anak-anaknya. Namun, ia percaya proses panjang tersebut merupakan investasi masa depan.

“Biar mereka bisa lihat sendiri bagaimana para pemain kelas dunia kalau bertanding,” katanya.

Di balik senyumnya, tersimpan harapan besar. Ia memimpikan suatu hari nanti kedua putrinya dapat berdiri di lapangan yang sama, mengenakan seragam Merah Putih dan mendapat dukungan dari ribuan penonton Indonesia.

“Capek boleh istirahat, tapi jangan sampai menyerah sampai cita-cita mereka tercapai,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Harapan serupa juga dimiliki Suwarno Aji. Ia sengaja mengajak putranya, Naufal Rafanda, menyaksikan Indonesia Open agar semakin termotivasi menekuni olahraga yang dicintainya.

Naufal yang kini berusia sembilan tahun tergabung di klub DRBC Depok dan telah mengikuti sejumlah turnamen kelompok umur.

Meski prestasinya masih terus berproses, sang ayah percaya pengalaman menyaksikan langsung para pemain elite dunia akan memberi pelajaran yang tidak bisa didapatkan dari layar televisi.

“Biar semakin bersemangat menjadi atlet,” ujar Ano, sapaan akrab Suwarno.

Naufal mengidolakan Alwi Farhan dan Jonatan Christie. Dengan melihat langsung permainan para bintang tersebut, ia diharapkan memiliki gambaran tentang level yang ingin dicapai pada masa depan.

Atmosfer Indonesia Open 2026 juga diramaikan berbagai bentuk dukungan kreatif dari para penonton.

Karang Taruna Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, misalnya, hadir dengan kostum bunga matahari dan lebah yang mencuri perhatian pengunjung.

Menurut Amalia Pradina, kostum tersebut dibuat untuk menghadirkan suasana yang berbeda sekaligus menambah kemeriahan turnamen.

“Konsepnya little garden, makanya ada bunga matahari dan lebah,” katanya.

Seluruh kostum dibuat secara mandiri hanya dalam waktu satu malam sebelum pertandingan.

Sorakan dan dukungan yang memenuhi Istora tidak hanya dirasakan para penonton. Atlet-atlet Indonesia mengaku energi dari tribun menjadi faktor penting dalam perjuangan mereka di lapangan.

Ganda putri Indonesia Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi merasakan langsung manfaat dukungan penonton saat mengalahkan pasangan Hong Kong Yeung Ngating/Yeung Pui Lam pada babak 16 besar.

“Penonton jadi tambahan kekuatan buat kami, buat kami terus semangat, dan lawan juga pastinya lebih tertekan,” kata Fadia.

Hal serupa dirasakan Putri Kusuma Wardani saat bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Michelle Li.

Menurut Putri, suara dukungan yang terus terdengar dari tribun menjadi energi tambahan saat dirinya berada dalam tekanan.

“Tadi di gim ketiga saya masih bisa mendengar dukungan dari para suporter dan itu menjadi motivasi tambahan bagi saya untuk bangkit,” ujarnya.

Bagi sebagian besar penonton, Indonesia Open mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi anak-anak seperti Ataya, Atala, dan Naufal, pengalaman itu bisa menjadi awal dari perjalanan panjang mengejar mimpi.

Dari tribun Istora, mereka tidak hanya menyaksikan pertandingan. Mereka melihat gambaran masa depan yang ingin dicapai, sementara orang tua mereka terus berdiri di belakang, menjaga agar mimpi itu tetap hidup. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Indonesia Open 2026 #Pebulu Tangkis Muda #Istora Gelora Bung Karno #Atlet Bulu Tangkis Indonesia #Orang Tua Atlet Badminton