Kisah Tragis Prichard Colón, Cedera di Atas Ring Akhiri Karier hingga Meninggal di Usia 33 Tahun

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:27 WIB
Prichard colón meninggal dunia di usia 33 tahun. (IG: prichardcolon)
Prichard colón meninggal dunia di usia 33 tahun. (IG: prichardcolon)

PONTIANAK POST – Dunia tinju berduka. Mantan petinju Puerto Riko Prichard Colón meninggal dunia pada usia 33 tahun setelah lebih dari satu dekade berjuang melawan cedera otak parah yang dideritanya akibat sebuah pertandingan tinju pada 2015. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh ayahnya, Richard Colón, melalui unggahan di Facebook pada Kamis (13/8) waktu setempat dan segera memicu gelombang belasungkawa dari komunitas tinju internasional.

Dalam pesannya, Richard Colón menyampaikan bahwa putranya telah "pergi ke tempat yang lebih baik" serta mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan yang diterima keluarga selama bertahun-tahun. Ia juga mengungkapkan kesedihannya karena belum sempat mewujudkan keinginan Prichard untuk kembali berlibur ke Puerto Riko.

Karier Cemerlang yang Berakhir Tragis

Prichard Colón merupakan salah satu prospek terbaik tinju Puerto Riko pada awal dekade 2010-an. Lahir di Maitland, Florida, pada 19 September 1992, ia kemudian pindah ke Puerto Riko saat berusia 10 tahun untuk mengembangkan karier tinjunya.

Di level amatir, Colón mencatat prestasi gemilang dengan meraih medali emas Kejuaraan Pan Amerika Junior 2010 dan membukukan rekor sekitar 170 kemenangan serta 15 kekalahan.

Saat beralih ke dunia profesional pada 2012, performanya langsung mencuri perhatian. Ia memenangkan 16 pertandingan pertamanya, 13 di antaranya melalui knockout (KO), sehingga digadang-gadang sebagai calon juara dunia di kelas welter super.

Baca Juga: Atletico Madrid Pantau Jack Grealish, Tiga Klub Arab Saudi Siap Rebut Winger Manchester City

Pertarungan yang Mengubah Segalanya

Karier Colón berubah drastis pada 17 Oktober 2015 ketika menghadapi petinju Amerika Serikat, Terrel Williams, di EagleBank Arena, Fairfax, Virginia.

Selama pertarungan, Colón beberapa kali menerima rabbit punch, yakni pukulan ke bagian belakang kepala yang dilarang dalam aturan tinju. Ia sempat mengadukan pukulan ilegal tersebut kepada wasit, namun pertandingan tetap dilanjutkan.

Pada ronde kesembilan, Colón mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan neurologis. Setelah pertandingan berakhir dengan kemenangan diskualifikasi bagi Williams akibat kesalahan sudut Colón melepas sarung tangan sebelum keputusan resmi diumumkan, kondisi Colón terus memburuk. Di ruang ganti ia muntah dan kemudian pingsan sebelum dilarikan ke rumah sakit.

Dokter mendiagnosis Colón mengalami subdural hematoma, yaitu pendarahan serius di otak yang memerlukan operasi darurat untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak.

Baca Juga: Barcelona Frustrasi, Frenkie de Jong Tolak Operasi Cedera Lutut

Koma 221 Hari

Usai menjalani operasi, Colón berada dalam kondisi koma selama 221 hari.

Meski akhirnya sadar, ia mengalami kerusakan otak permanen yang membuatnya kehilangan kemampuan berbicara dan bergerak secara normal. Selama lebih dari 10 tahun berikutnya, ia membutuhkan perawatan penuh selama 24 jam dan menjalani terapi rehabilitasi secara intensif dengan dukungan keluarganya, terutama sang ibu, Nieves Colón.

Perjuangan Colón selama bertahun-tahun menjadi simbol ketangguhan sekaligus pengingat akan risiko besar olahraga tinju.

Baca Juga: Delapan Cara Menjaga Kesehatan Otak agar Tetap Tajam Saat Menua

Kasus yang Mengubah Perbincangan Soal Keselamatan Petinju

Tragedi yang dialami Colón memicu perdebatan panjang mengenai standar keselamatan dalam olahraga tinju profesional.

Pada 2017, keluarganya mengajukan gugatan senilai lebih dari 50 juta dolar AS terhadap dokter pertandingan dan pihak promotor dengan tuduhan kelalaian dalam penanganan medis selama dan setelah pertandingan. Hingga kini, perkara tersebut dilaporkan belum memperoleh penyelesaian akhir.

Banyak pengamat menilai insiden tersebut menjadi salah satu contoh paling tragis mengenai pentingnya perlindungan terhadap atlet dari cedera kepala.

Penghormatan dari Dunia Tinju

Kepergian Colón disambut duka mendalam oleh berbagai organisasi tinju dunia.

World Boxing Council (WBC), World Boxing Organization (WBO), serta sejumlah petinju aktif maupun mantan juara dunia menyampaikan penghormatan melalui media sosial. Mereka mengenang Colón sebagai petinju berbakat yang menunjukkan keberanian luar biasa, baik saat masih aktif bertanding maupun selama bertahun-tahun menjalani rehabilitasi.

Sebelumnya, pada 2021, WBC menganugerahkan gelar Honorary World Champion kepada Colón sebagai bentuk penghormatan atas semangat juangnya.

Baca Juga: Studi Menunjukkan Krokot Berpotensi Menjadi Pelindung Fungsi Saraf dan Otak

Warisan yang Tak Akan Dilupakan

Meski karier profesionalnya hanya berlangsung singkat, nama Prichard Colón akan selalu dikenang dalam sejarah tinju dunia.

Kisahnya bukan hanya tentang seorang petinju yang kehilangan masa depan akibat cedera di atas ring, tetapi juga menjadi pengingat bagi dunia olahraga mengenai pentingnya keselamatan atlet, penegakan aturan pertandingan, dan respons medis yang cepat ketika terjadi cedera serius.

Hingga berita ini ditulis, pihak keluarga belum mengumumkan penyebab pasti kematian Colón. Namun, berbagai laporan media internasional menyebut ia meninggal setelah bertahun-tahun hidup dengan komplikasi akibat cedera otak traumatis yang dideritanya sejak pertarungan pada 2015. (*)

Editor : Rafael B. Junior
Prichard Colon puerto riko pertandingan tinju petinju atlet tinju