PONTIANAK POST – Indonesia gagal meraih gelar pada Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Harapan terakhir tuan rumah, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo, kalah dramatis pada final di GOR Terpadu Ahmad Yani, Minggu (6/9).
Pasangan nonpelatnas itu ditaklukkan wakil Chinese Taipei, Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng, melalui tiga gim dengan skor 21-11, 19-21, 20-22. Kekalahan tersebut memastikan Indonesia nirgelar pada turnamen BWF World Tour Super 100 itu.
Kehilangan Poin Krusial
Yeremia/Patra tampil meyakinkan dengan merebut gim pertama 21-11. Namun, Chia/Lin bangkit dan mengambil gim kedua dengan skor 21-19.
Persaingan semakin ketat pada gim penentuan. Kedua pasangan saling menekan hingga poin kritis sebelum Yeremia/Patra menyerah 20-22.
Patra mengakui mereka kurang tenang pada saat menentukan. Kondisi itu membuat sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi poin.
“Permainan kurang tenang. Kami kecolongan poin,” ujarnya.
Menurut Patra, mereka telah berusaha menjaga mental dan memperbaiki permainan pada gim ketiga. Namun, tekanan lawan membuat pertandingan berlangsung ketat hingga poin terakhir.
“Mereka terus menekan. Kami juga saling berbalas serangan,” katanya.
Stamina Jadi Evaluasi
Yeremia menyebut stamina sebagai salah satu aspek yang harus dibenahi sebelum mengikuti turnamen berikutnya. Hasil runner-up menjadi bahan evaluasi bagi pasangan tersebut.
“Dari hasil runner-up ini, kami akan evaluasi lagi. Stamina kami agak kurang dan itu akan ditingkatkan,” ujarnya.
Meski gagal menjadi juara, Yeremia mengapresiasi dukungan masyarakat yang memenuhi arena pertandingan. Sorakan penonton membuat mereka tetap bersemangat hingga laga berakhir.
“Antusiasme masyarakat Pontianak luar biasa. Satu stadion mendukung kami. Kami senang, bangga, dan semakin bersemangat,” katanya.
Tiongkok Rebut Tiga Gelar
Tiga gelar Indonesia Masters 2026 dibawa pulang wakil Tiongkok. Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi menjuarai ganda campuran, Liao Li Xi/Shen Shi Yao menjadi kampiun ganda putri, sedangkan Xu Wen Jing memenangi tunggal putri.
Dua gelar lainnya menjadi milik Chinese Taipei. Selain Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng pada ganda putra, Wang Po-Wei menjuarai tunggal putra.
Hasil itu berbanding terbalik dengan Polytron Pontianak International Challenge 2026 yang digelar sepekan sebelumnya di tempat yang sama. Indonesia menjadi juara umum dalam turnamen tersebut dengan merebut tiga gelar.
Bidik Turnamen Lebih Tinggi
Meski wakil Indonesia nirgelar, penyelenggaraan Pontianak Indonesia Masters 2026 dinilai berjalan sukses. Turnamen yang berlangsung pada 1–6 September itu ditutup dengan lima pertandingan final.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berharap keberhasilan penyelenggaraan membuka peluang bagi Pontianak menjadi tuan rumah turnamen internasional dengan level lebih tinggi.
“Tentunya kita berharap Pontianak bisa menjadi tuan rumah lagi, bahkan untuk seri yang lebih tinggi,” katanya seusai menyaksikan laga final.
Menurut Edi, turnamen internasional memberi kesempatan kepada masyarakat menyaksikan pertandingan berkualitas. Ajang tersebut juga dapat memotivasi atlet muda Kalimantan Barat.
“Mereka bisa menonton langsung, melihat kualitas permainan internasional, dan terdorong untuk berprestasi,” ujarnya.
Dorong Ekonomi dan Atlet Daerah
Edi menilai kejuaraan tersebut turut menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah, perhotelan, transportasi, serta sektor jasa. Semakin banyak kegiatan berskala besar diharapkan memperkuat posisi Pontianak sebagai kota penyelenggara ajang nasional dan internasional.
Edi juga berharap penyelenggaraan turnamen internasional mendorong munculnya pebulu tangkis potensial dari Pontianak.
“Kita harapkan ada pemain-pemain berbakat dari Pontianak yang suatu saat bisa tampil di event masters seperti ini,” pungkasnya.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro