PBSI Evaluasi Dua Turnamen Beruntun di Pontianak, Nilai Pemain Muda Masih Punya PR

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 23:54 WIB
Pasangan ganda putri Salsabila Zahra Aulia dan Sheila Lidia menghalau serangan dari pasangan Thailand di pertandingan babak delapan besar Polytron Pontianak International Challenge di GOR A Yani Terpadu, Jumat (28/8). (ISTIMEWA)
Pasangan ganda putri Salsabila Zahra Aulia dan Sheila Lidia menghalau serangan dari pasangan Thailand di pertandingan babak delapan besar Polytron Pontianak International Challenge di GOR A Yani Terpadu, Jumat (28/8). (ISTIMEWA)

 

PONTIANAK POST – PBSI melihat perkembangan pemain muda dalam dua turnamen internasional yang digelar beruntun di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak. Namun, mental bertanding, kondisi fisik, dan konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah setelah Indonesia gagal meraih gelar pada Indonesia Masters 2026.

Prestasi terbaik Indonesia dalam turnamen BWF World Tour Super 100 yang berakhir Minggu (6/9) itu diraih Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo. Pasangan nonpelatnas tersebut menjadi runner-up setelah kalah dari wakil Chinese Taipei, Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng, dengan skor 21-11, 19-21, 20-22.

Hasil itu berbeda dengan Pontianak International Challenge 2026 yang digelar sepekan sebelumnya di tempat yang sama. Indonesia menjadi juara umum dengan merebut tiga gelar.

Poin Krusial Belum Terkelola

Kepala Pelatih Ganda Putra Pratama PBSI Andrei Adistia menilai pola permainan para pemain muda sudah cukup baik. Namun, mereka masih sering terburu-buru dan memaksakan serangan pada poin-poin krusial.

Yeremia/Patra juga mengakui ketenangan dan stamina menjadi masalah dalam laga final. Kekurangan tersebut membuat sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi poin.

Selain kematangan mengambil keputusan, Andrei menyoroti daya tahan kekuatan dan daya ledak pemain. Kedua aspek itu perlu ditingkatkan agar mereka siap menjalani turnamen secara beruntun.

“Secara keseluruhan, progres anak-anak cukup baik. Mayoritas masih baru di level ini, tetapi sudah bisa bersaing dengan pasangan berpengalaman di Super 100,” kata Andrei.

Menurut dia, dua turnamen di Pontianak menjadi tolok ukur untuk menentukan materi evaluasi dan persiapan pemain menghadapi kejuaraan berikutnya.

Jadwal Beruntun Menguji Fisik

Kepala Pelatih Tunggal Putra Pratama PBSI Wiempie Mahardi menilai Richie Duta Richardo telah tampil maksimal. Namun, kebugaran pemain muda tersebut menurun setelah mengikuti dua turnamen secara beruntun.

“Bermain back-to-back di nomor tunggal tidak mudah dan kebugarannya terlihat sedikit menurun. Namun, ini menjadi pengalaman penting, terutama untuk membangun mental dan semangat juang,” ujarnya.

Wiempie menilai pengalaman menghadapi tekanan pertandingan internasional penting bagi perkembangan pemain muda. Mereka dituntut menjaga kualitas permainan sekaligus memulihkan kondisi tubuh dalam waktu singkat.

Ganda Campuran Belum Maksimal

Kepala Pelatih Ganda Campuran Pratama PBSI Muhammad Rijal juga menilai hasil anak asuhnya belum maksimal. Sektor tersebut meraih satu gelar pada International Challenge melalui Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu.

Pada Indonesia Masters 2026, Dejan/Apriyani terhenti di semifinal. Padahal, Indonesia sempat menempatkan tiga pasangan ganda campuran pada babak perempat final.

“Di perempat final memang ada tiga pasangan, tetapi hasil akhirnya masih belum sesuai harapan,” kata Rijal.

Capaian tersebut menunjukkan pemain Indonesia mampu bersaing hingga fase akhir. Namun, kemampuan menjaga kondisi fisik, ketenangan, dan konsistensi masih harus ditingkatkan agar peluang dapat berujung gelar. (raf/dns)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
bulu tangkis Pontianak Indonesia Masters 2026 atlet muda Indonesia Yeremia Patra Dejan Apriyani