Bocil 11 Tahun Keke Melompat ke Asian Games 2026, Lawan Atlet Senior

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 22:54 WIB
DUKUNGAN ORANG TUA: Mikhayla Shanum Caya alias Keke bersama kedua orang tuanya, Anthony Adam Caya dan Anita Aprilia. Dukungan keluarga mengantar atlet skateboard berusia 11 tahun itu mewakili Indonesia pada Asian Games 2026 di Jepang.
DUKUNGAN ORANG TUA: Mikhayla Shanum Caya alias Keke bersama kedua orang tuanya, Anthony Adam Caya dan Anita Aprilia. Dukungan keluarga mengantar atlet skateboard berusia 11 tahun itu mewakili Indonesia pada Asian Games 2026 di Jepang.

 

PONTIANAK POST - Hanya dalam enam tahun, Mikhayla Shanum Caya melaju dari arena latihan sang ayah menuju panggung olahraga Asia. Atlet yang akrab disapa Keke itu akan mewakili Indonesia pada cabang skateboard Asian Games 2026 di Jepang, 23–27 September.

Keke baru berusia 11 tahun. Namun, atlet cilik tersebut harus bersaing dengan skateboarder yang lebih tua dan berpengalaman demi membuka jalan menuju target besarnya: Olimpiade Brisbane 2032.

Bermula dari Menonton Ayah

Keke mengenal skateboard saat berusia lima tahun. Ketika itu, ia kerap mengikuti ayahnya, Anthony Adam Caya, yang berlatih sekaligus menjadi pelatih skateboard.

“Karena saya pelatih, kadang-kadang Keke ikut melihat saya latihan. Akhirnya, dia bilang ingin ikut berlatih,” tutur Anthony kepada Jawa Pos.

Ketertarikan yang semula muncul karena sering menonton berkembang menjadi latihan rutin. Anthony bersama istrinya, Anita Aprilia, kemudian sepakat mengarahkan putri mereka menjadi atlet profesional.

Keke mulai mengikuti perlombaan antarkomunitas. Ia beberapa kali meraih peringkat pertama atau kedua sebelum naik ke tingkat provinsi dan nasional.

Emas PON Membuka Pintu Timnas

Perjalanan Keke mencapai titik penting ketika membela Papua pada Pekan Olahraga Nasional 2024. Dalam usia sembilan tahun, ia berhasil meraih medali emas.

“Alhamdulillah, dia bisa mendapat medali emas di PON 2024 ketika usianya baru sembilan tahun,” kata Anthony.

Prestasi tersebut membuka jalan menuju tim nasional. Pada akhir 2024, Keke mengikuti seleksi dan lolos ke Pelatnas untuk persiapan SEA Games Thailand 2025.

Sekolah Berpindah ke Ruang Virtual

Menjadi atlet nasional dalam usia sekolah dasar menuntut penyesuaian besar. Keke harus mengikuti latihan intensif untuk mengimbangi rekan-rekannya yang rata-rata berusia 13–14 tahun.

Selama hampir setahun mengikuti Pelatnas, ia menjalani pendidikan secara daring di Budi Mulia. Pilihan itu membuat Keke tetap dapat belajar di tengah padatnya latihan dan pertandingan.

“Pelatnas berlangsung sekitar 10–11 bulan, dari Januari hingga Desember untuk persiapan SEA Games Thailand. Jadi, sekolahnya sepenuhnya daring,” jelas Anthony.

Mengimbangi Atlet Senior

Latihan panjang mulai menunjukkan hasil. Dalam sejumlah uji coba di Italia dan Australia, kemampuan Keke dinilai mampu mendekati atlet senior di tim nasional.

Salah satu rekan setimnya ialah Bunga Nyimas Cinta, peraih medali perunggu Asian Games 2018. Bunga mencatat prestasi tersebut saat berusia 12 tahun.

“Level Keke sudah tidak jauh dari partnernya,” kata Anthony.

Pengalaman bertanding di luar negeri menjadi bekal Keke menghadapi tekanan kompetisi besar. Namun, usia muda membuat perkembangannya tetap harus dijaga tanpa mengabaikan pendidikan, kesehatan, dan kondisi psikologis.

Tak Ada Perlakuan Khusus

Hubungan ayah dan anak berubah ketika keduanya berada di arena latihan. Anthony menegaskan Keke tidak menerima perlakuan khusus meski dirinya menjadi bagian dari tim pelatih.

“Kami tidak bisa lagi menganggap dia anak kecil. Siapa yang sanggup melewati latihan ini berpeluang ke podium. Jika tidak, harus berhenti,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menuntut Keke belajar disiplin sejak dini. Pada saat yang sama, Anthony harus memisahkan perannya sebagai ayah dan pelatih.

Gugup Menatap Jepang

Menjelang Asian Games, Keke bersama atlet skateboard Indonesia lainnya menjalani pemusatan latihan di Bali. Ia mengaku gugup sekaligus bersemangat menghadapi debutnya.

“Rasanya deg-degan dan excited. Soal target, mudah-mudahan bisa mendapat salah satu medali,” ungkap Keke.

Menurut dia, Jepang dan Filipina menjadi pesaing terberat. Anthony berpesan agar putrinya tidak terbebani kemampuan lawan.

“Intinya jangan mudah menyerah. Jangan memperhatikan lawan dan fokus kepada diri sendiri,” kata Keke mengulang pesan ayahnya.

Minim Anggaran, Tetap Membidik Medali

Kementerian Pemuda dan Olahraga serta NOC Indonesia menargetkan empat medali emas pada Asian Games 2026. Skateboard tidak termasuk cabang yang dibebani target emas.

Anthony menilai keputusan itu realistis karena persiapan tim skateboard terkendala keterbatasan anggaran. Sementara itu, atlet dari negara pesaing telah menjalani latihan intensif dalam waktu panjang.

Karena itu, pengalaman menjadi sasaran utama tim. Meski demikian, peluang membawa pulang medali tetap terbuka.

“Yang penting tampil lebih dahulu dan bermain sebaik mungkin. Potensi meraih medali tetap ada,” ujar Wakil Ketua Umum III PB Perserosi tersebut.

Menatap Olimpiade 2032

Asian Games 2026 bukan tujuan akhir perjalanan Keke. Tim nasional telah memproyeksikannya untuk bersaing memperebutkan medali Olimpiade Brisbane 2032.

Saat Olimpiade berlangsung, Keke akan berusia 17 tahun, bukan 19 tahun. Ia diharapkan telah mengumpulkan pengalaman internasional dan mampu bersaing di level dunia.

“Dalam dua tahun ke depan, levelnya diharapkan sudah mencapai level dunia,” kata Anthony.

Untuk saat ini, Keke harus melewati tantangan terdekatnya di Jepang. Dari anak lima tahun yang menemani ayah berlatih, ia kini datang membawa nama Indonesia.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Mikhayla Shanum Caya skateboard Indonesia atlet skateboard cilik Keke skateboard Asian Games 2026