Dari Warnet ke Podium Asian Games, Judha Raja Panggabean dan Tim Pokémon UNITE Raih Perak

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 23:28 WIB
Sejumlah atlet Esport Indonesia pada cabang Esport Pokemon Unite Asian Games 2026. (ANTARA)
Sejumlah atlet Esport Indonesia pada cabang Esport Pokemon Unite Asian Games 2026. (ANTARA)

 

PONTIANAK POST — Dua puluh tahun lalu, Judha Raja Panggabean masih seorang siswa kelas VI SD yang menghabiskan waktunya bermain Dota 1 di warung internet. Kini, perjalanan panjang dari warnet itu membawanya berdiri di podium Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan medali perak di dada.

Bukan hanya medali untuk Judha dan empat rekannya. Perak dari nomor Pokémon UNITE tersebut mencatat sejarah sebagai medali pertama Indonesia dari cabang esports sepanjang keikutsertaan di Asian Games.

Indonesia mendapatkannya setelah menembus final di Aichi Sky Expo, Jepang. Menghadapi tuan rumah, Indonesia sempat merebut gim pertama sebelum Jepang membalikkan keadaan dan memenangi pertandingan best of five (BO5) dengan skor 3-1.

Indonesia diperkuat Deni Ardiyanto, Marcello Hillers, Muhammad Haikal Irawan, Judha Raja Panggabean, dan Novrizal Diananta. Mereka datang ke Jepang dengan target awal perunggu. Namun, perjalanan panjang membawa tim Merah Putih satu tingkat lebih tinggi: perak.

“Dikit lagi harusnya kita bisa memenangkan game empat, lalu lanjut ke game lima,” kata Judha seusai pertandingan, dikutip dari keterangan Badan Komunikasi Pemerintah.

Sempat Membuka Peluang Emas

Peluang untuk membuat kejutan sebenarnya terbuka.

Indonesia merebut gim pertama dari Jepang. Kemenangan itu membuat Merah Putih unggul 1-0 sekaligus menunjukkan bahwa tuan rumah bukan lawan yang mustahil dikalahkan.

Jepang kemudian beradaptasi dan merebut gim berikutnya. Pertandingan akhirnya sampai pada gim keempat dengan Indonesia berada dalam posisi tertinggal.

Bagi Judha dan rekan-rekannya, perhitungannya sederhana: menangkan gim keempat, paksa Jepang bermain sampai gim kelima, kemudian pertaruhkan emas pada satu pertandingan terakhir.

Di arena virtual, pertarungan lima lawan lima kembali berlangsung ketat. Indonesia masih memiliki kesempatan memperpanjang pertandingan.

Namun, Jepang menutup celah itu.

Tuan rumah memenangi gim keempat sekaligus mengakhiri pertandingan 3-1. Indonesia mendapat perak, sedangkan emas menjadi milik Jepang.

Judha mengakui ada persoalan eksekusi pada pertandingan yang berlangsung sengit tersebut.

“Itu sudah bagian dari strategi kami, dari tim kami, dari pelatih kami, dari latihan kami. Jadi, kami tetap percaya penuh dengan strategi itu, mungkin kurang pada eksekusi karena Pokémon UNITE itu memang sangat sengit,” katanya.

Targetnya Hanya Perunggu

Kekalahan di final menyisakan penyesalan karena emas sempat terlihat dekat. Namun, hasil akhir sebenarnya sudah melampaui target yang dibawa Indonesia ke Jepang.

Kepala Pelatih Tim Esports Indonesia Richard Permana mengatakan target awal Pokémon UNITE adalah medali perunggu.

“Kami bersyukur, kami overachieve dari target perunggu jadi perak,” katanya.

Target tersebut bukan ditetapkan tanpa alasan.

Menurut Richard, tim sempat menghadapi persoalan teknis maupun internal menjelang keberangkatan. Situasi itu membuat jajaran pelatih memasang sasaran yang dinilai realistis.

Di arena, perkiraan tersebut berubah.

Indonesia memperlihatkan kemampuan bangkit yang kuat. Dalam dua pertandingan fase grup, Merah Putih sempat tertinggal 0-1 tetapi mampu membalikkan keadaan.

“Kita targetnya bronze. Tapi kemudian para atlet menunjukkan semangat juang dan comeback mentality,” ujar Richard.

Kuncinya, menurut dia, adalah kesediaan setiap pemain mengesampingkan kepentingan individu.

“Kami meminta setiap pemain untuk saling mengutamakan kebutuhan tim dan rela mengesampingkan kepentingan masing-masing di dalam game,” katanya.

Malaysia dan Filipina Disingkirkan

Perjalanan Indonesia menuju final juga tidak datang melalui jalan mudah.

Merah Putih berada di Grup B bersama Singapura dan Hong Kong.

Pada fase tersebut, Indonesia harus bekerja keras dan sempat kehilangan gim sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke babak gugur.

Malaysia kemudian menunggu di perempat final. Indonesia menang 2-0 dan memastikan tiket semifinal.

Filipina menjadi lawan berikutnya. Negara tersebut memiliki ekosistem kompetitif gim MOBA yang kuat, tetapi Indonesia kembali tampil solid.

Judha dan rekan-rekannya menang 2-0 atas Filipina dan memastikan tempat pada pertandingan perebutan emas.

Satu-satunya penghalang terakhir adalah Jepang.

60 Hari yang Mengubah Target

Perak tersebut dibangun melalui persiapan sekitar dua bulan.

Judha mengatakan tim menjalani pemusatan latihan nasional selama kurang lebih 60 hari. Waktu itu digunakan bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan individual, tetapi terutama menyatukan lima pemain menjadi satu tim.

“Kita sekitar 60 hari atau dua bulan didukung dan difasilitasi untuk menjalani pelatnas dan terus memaksimalkan latihan. Kita tidak lengah dan tidak main-main,” kata Judha.

Bagi atlet esports, menurut dia, setiap hari latihan mempunyai nilai besar.

“Setiap hari bagi atlet esports sangat berharga untuk mengembangkan kemampuan tim dan individu,” ujarnya.

Latihan itu mencakup pembentukan strategi, membaca permainan lawan, menentukan draft, memperbaiki komunikasi, hingga memahami perkembangan permainan dari berbagai kawasan.

Sebab, pertandingan Pokémon UNITE tidak dapat dimenangi hanya oleh satu pemain yang memiliki kemampuan mekanik tinggi.

Lima Pemain, Satu Tujuan

Pokémon UNITE mempertemukan dua tim yang masing-masing beranggotakan lima pemain.

Gim tersebut merupakan permainan strategi tim pertama dalam waralaba Pokémon. Dalam pertandingan, pemain bekerja sama mengalahkan Pokémon liar, meningkatkan level dan mengembangkan Pokémon yang digunakan, sekaligus bersaing dengan tim lawan.

Karakter tersebut membuat koordinasi menjadi sangat penting.

“Inti dari Pokémon UNITE itu kekompakan dengan tim. Tapi yang sama pentingnya adalah wawasan kita harus luas. Banyak regional yang kuat, bukan hanya Jepang atau Indonesia,” kata Judha.

Itu pula yang membuat Judha rajin mempelajari pertandingan dari luar Indonesia.

Ia mengamati bagaimana pemain dan tim dari Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan kawasan lain bermain. Bukan sekadar meniru, tetapi memahami perkembangan strategi dan meta yang terus berubah.

Dalam Pokémon UNITE, setiap pemain mempunyai fungsi. Ada yang berorientasi menyerang, menjaga rekan, mengontrol area, hingga membuka ruang bagi pemain lain.

“Setiap pemain harus menjalankan perannya. Kami mengandalkan strategi pelatih dan draft, dan kelima pemain memberikan penampilan terbaik,” ujar Judha.

Gim yang Baru Berusia Lima Tahun

Ada fakta menarik di balik medali tersebut.

Pokémon UNITE bahkan belum berusia satu dekade.

The Pokémon Company International dan TiMi Studio Group pertama kali meluncurkan Pokémon UNITE untuk Nintendo Switch pada 21 Juli 2021. Versi perangkat seluler menyusul pada September tahun yang sama.

Dengan demikian, ketika Judha mulai serius bermain gim di warnet pada 2006, Pokémon UNITE bahkan belum ada. Ia harus melewati beberapa generasi permainan sebelum akhirnya mewakili Indonesia melalui gim yang baru muncul 15 tahun setelah perjalanan esports-nya dimulai.

Pokémon UNITE juga dikembangkan dengan konsep lintas perangkat. Nintendo sejak awal mengumumkan permainan tersebut dapat dimainkan secara cross-platform antara Nintendo Switch dan perangkat seluler.

Perkembangan kompetisinya berlangsung cepat. Pokémon UNITE kemudian memiliki rangkaian kejuaraan dunia dan kompetisi regional. Pada 2026, Asia Champions League bahkan mempertemukan 16 tim dari berbagai regional di Yokohama, Jepang.

Lima tahun setelah peluncurannya, gim tersebut menjadi salah satu nomor perebutan medali Asian Games Aichi-Nagoya.

Esports Sudah Jadi Medali sejak Hangzhou

Perak Indonesia juga menjadi bagian dari perubahan besar posisi esports dalam olahraga Asia.

Esports sebelumnya tampil sebagai cabang demonstrasi pada Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Statusnya kemudian meningkat menjadi cabang perebutan medali resmi pada Asian Games Hangzhou yang digelar pada 2023.

Aichi-Nagoya 2026 melanjutkan perkembangan tersebut.

Pada edisi kali ini, esports mempertandingkan 11 nomor medali dari sejumlah judul gim. Pokémon UNITE berada dalam daftar bersama gim seperti eFootball, Gran Turismo 7, Honor of Kings, Mobile Legends: Bang Bang, League of Legends, PUBG Mobile, dan Naraka: Bladepoint.

Bagi Indonesia, sejarah medali justru baru pecah di Jepang.

Pada Asian Games Hangzhou, Indonesia belum memperoleh medali dari cabang esports. Tiga tahun kemudian, Pokémon UNITE membuka rekening medali tersebut dengan perak.

Ironi Manis di Negeri Pokémon

Ada sisi simbolis lain dari pencapaian tersebut.

Indonesia memperoleh medali Asian Games dari Pokémon UNITE justru di Jepang, negeri tempat waralaba Pokémon berasal.

Lawan di final pun Jepang.

Tuan rumah akhirnya mempertahankan emas setelah menang 3-1, tetapi Indonesia pulang membawa pencapaian yang belum pernah diraih pada Asian Games sebelumnya.

Chef de Mission Kontingen Indonesia Todotua Pasaribu menyaksikan perjuangan tim dari arena.

“Anak-anak muda ini pertama kali bertanding langsung dapat perak,” ujarnya.

Lima pemain tersebut datang dengan target perunggu, menembus final, menantang tuan rumah, dan akhirnya mencatat medali pertama esports Indonesia di Asian Games.

Semuanya Berawal di Warnet

Bagi Judha, perjalanan itu jauh lebih panjang daripada 60 hari pelatnas.

Ia mulai mendalami gim sejak duduk di kelas VI SD sekitar 2006. Dota 1 menjadi salah satu permainan yang membawanya mengenal kompetisi gim lebih serius.

“Aku mendalami games atau esports sejak kelas 6 SD, 20 tahun yang lalu mungkin, tahun 2006,” kenangnya.

Saat itu, warnet menjadi salah satu pusat tumbuhnya generasi awal pemain gim kompetitif Indonesia.

Belum ada pelatnas esports seperti sekarang. Belum ada medali Asian Games yang dapat diburu. Istilah atlet esports pun belum sepopuler hari ini.

Bermain gim masih lebih sering dilihat sebagai hiburan.

Judha memilih terus bermain sekaligus belajar.

Dua dekade kemudian, aktivitas yang bermula di depan komputer warnet membawanya mengenakan seragam Indonesia dan bertanding dalam salah satu pesta olahraga terbesar dunia.

Perubahan itu sekaligus menggambarkan perjalanan esports Indonesia sendiri: dari aktivitas komunitas menuju cabang olahraga dengan pelatnas, pelatih, strategi pertandingan, dan medali resmi Asian Games.

Kini Memburu Level Dunia

Medali perak tidak membuat perjalanan berakhir.

Judha mengatakan hasil di Jepang justru meningkatkan keyakinan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan tim kuat internasional.

Evaluasi tetap diperlukan. Indonesia sudah merasakan bagaimana satu kesalahan eksekusi dalam pertandingan tingkat tinggi dapat mengubah peluang emas menjadi perak.

Namun, batas yang sebelumnya dipasang kini telah bergeser.

Tim yang datang dengan target perunggu ternyata mampu mencapai final.

Bagi Judha, perjalanan tersebut juga meninggalkan pesan bagi generasi yang saat ini mungkin berada di posisi yang sama seperti dirinya 20 tahun lalu—bermain gim sebagai hobi tanpa mengetahui sejauh apa kegiatan tersebut dapat membawanya.

“Kamu punya hobi, coba dikejar dan diseriusin. Karena mungkin saja dari sana ada kesempatan untuk mencapai sesuatu yang luar biasa,” pesannya.

Dua puluh tahun setelah Dota 1 dan warnet menjadi titik awal, Judha akhirnya berdiri di podium Asian Games.

Bukan dengan emas yang nyaris diraih. Tetapi dengan perak yang sekaligus membuka sejarah baru esports Indonesia.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Timnas Esports Indonesia Judha Raja Panggabean Pokémon UNITE Indonesia esports Asian Games 2026 medali perak Indonesia