PONTIANAK POST - Suara letusan senjata mungkin terdengar singkat. Namun, di balik sepersekian detik ketika peluru meninggalkan laras, ada proses panjang yang harus dilalui seorang shooter. Ada latihan berulang, evaluasi, kesalahan yang harus dibedah, hingga keberanian menghadapi lawan dari berbagai negara.
Bagi Yudhistira Auliya Lutfie, olahraga menembak bukan sekadar soal menarik pelatuk dan membidik sasaran.
Perjalanannya dimulai ketika usianya masih sekitar 14 atau 15 tahun. Saat itu, ia mulai mengenal dunia menembak di Jawa, mengikuti aktivitas di lapangan tembak dan perlahan berkenalan dengan kompetisi.
"Saya mulai menembak sekitar umur 14 atau 15," kata Yudhistira saat berbincang ringan dengan jurnalis Pontianak Post di sebuah kafe di sekitar Museum Pontianak, Minggu (4/10).
Baca Juga: Bangga! Dua Bersaudara Asal Kalbar Sukses Borong Juara Menembak di Pangdam IV/Diponegoro
Pada fase awal, Yudhistira belum langsung berbicara tentang podium juara. Ia masih menjadi pendatang baru. Pengalaman bertanding pun masih terbatas. Salah satu kompetisi awal yang diikutinya berlangsung di lingkungan Kopassus.
Saat itu, ia turun di kelas non-IPSC.Belum ada medali yang dibawa pulang. Namun, kekalahan atau kegagalan tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan yang kemudian membentuknya sebagai atlet.
Belajar dari setiap Peluru. Dalam olahraga menembak, kesalahan sekecil apa pun dapat menentukan hasil akhir. Yudhistira menemukan cara sendiri untuk mempelajari kesalahan tersebut.
Setiap kali mengikuti pertandingan, hampir seluruh stage yang dijalaninya direkam dalam video. Setelah pertandingan selesai, video itu tidak sekadar menjadi dokumentasi. Yudhistira kembali menontonnya. Ia memperhatikan gerakan tubuh, posisi, perpindahan, hingga teknik ketika menembak.
Baca Juga: Wagub Krisantus Buka Perbakin Kalbar Cup 2026 untuk Pembinaan Atlet Menembak
Dari rekaman tersebut, ia kemudian mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki ketika kembali menjalani latihan.
"Setiap stage itu divideo. Jadi pas balik langsung lihat video, ngecek. Pas latihan tinggal membenarkan gerakan sama tembakannya," ujarnya.
Metode sederhana tersebut menjadi salah satu bagian dari proses belajarnya. Bagi Yudhistira, pertandingan bukan hanya tempat untuk mengejar medali. Kompetisi juga menjadi ruang untuk menguji latihan sekaligus menemukan kelemahan yang tidak selalu terlihat ketika berlatih.
Salah satu podium pertamanya diraih dalam kejuaraan di Jakarta. Ia berhasil mendapatkan medali dari nomor overall. Momentum tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan yang dimulai sejak usia belasan tahun mulai menemukan arah.
Perjalanan Yudhistira kemudian tidak berhenti di kompetisi dalam negeri. Ia mulai merasakan atmosfer pertandingan di luar Indonesia.
Thailand menjadi salah satu negara yang memberinya pengalaman penting. Di sana, ia bergabung bersama sejumlah anggota yang juga mengikuti pertandingan dan berada dalam satu squad.
Hasilnya bukan sekedar pengalaman. Yudhistira berhasil menjadi juara pertama kategori junior. Lebih dari itu, tim Indonesia yang diperkuatnya juga berhasil meraih juara ketiga kategori Standard. "Di Thailand saya dapat junior nomor satu dan untuk tim Indonesia juara tiga dalam kategori Standard," tuturnya.
Pengalaman internasional kembali berlanjut ke Filipina. Di negara tersebut, Yudhistira mengikuti kegiatan latihan sekaligus pertandingan. Ia kembali mencatatkan prestasi dengan menjadi juara pertama kategori junior.
Dari Asia Tenggara, langkahnya kemudian membawa Yudhistira ke Afrika. Kali ini tantangannya berbeda. Jika sebelumnya ia menghadapi lawan dari lingkup tertentu, di Afrika persaingan menjadi jauh lebih luas. Pesertanya datang dari berbagai negara.
Baca Juga: Kapolres Kapuas Hulu Ajak Forkopimda Latihan Menembak Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026
Yudhistira pun harus berhadapan dengan shooter dari berbagai belahan dunia. Hasilnya cukup mengejutkan. Ia mampu menembus posisi empat besar kategori junior. "Kalau Afrika, lawannya semua orang dari seluruh dunia. Saya dapat posisi keempat junior," katanya.
Posisi tersebut menjadi pengalaman berharga. Bukan hanya karena berhasil masuk podium, tetapi karena Yudhistira mendapatkan gambaran langsung mengenai level persaingan shooter internasional.
Mengapa Memilih Kalimantan Barat?
Di tengah perjalanan yang membawanya bertanding dari satu tempat ke tempat lain, muncul satu pertanyaan: mengapa Yudhistira memilih membela Kalimantan Barat?
Jawabannya ternyata tidak semata-mata soal tempat bertanding. Ada ikatan keluarga dan masa lalu yang membuat Kalbar memiliki tempat tersendiri baginya.
Yudhistira bercerita, sebagian keluarganya memiliki keterikatan kuat dengan Kalimantan Barat. Adik-adiknya berasal dari Kalbar. Ia sendiri pernah tinggal di Kalimantan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar karena mengikuti kedua orangtuanya. "Adik-adik saya dari Kalimantan Barat dan waktu SD saya ikut bapak dan ibu tinggal di Kalimantan," ujarnya.
Ikatan tersebut kemudian semakin kuat karena sang ibu bekerja sebagai dosen di Universitas Tanjungpura. Dengan latar belakang tersebut, Kalimantan Barat bukan sekadar nama provinsi yang tertera di daftar peserta pertandingan.
Baca Juga: Batalyon Parako 466 Pasgat Sabet Juara Menembak HUT Kodam XII/Tanjungpura
Ada memori keluarga di dalamnya. Ada masa kecil. Ada hubungan emosional. Dan ada keinginan untuk membawa nama daerah tersebut ke arena kompetisi yang lebih tinggi.
Bagi seorang atlet, prestasi tidak lahir dalam satu malam. Ada rutinitas yang terus diulang hingga gerakan menjadi otomatis. Ada video pertandingan yang ditonton berulang kali.
Ada latihan untuk memperbaiki kesalahan. Dan ada keberanian untuk kembali turun bertanding setelah mengalami kegagalan. Perjalanan Yudhistira menunjukkan proses tersebut.
Ia memulai olahraga menembak ketika masih berusia sekitar 14–15 tahun. Dari kompetisi awal tanpa medali, kemudian mendapatkan podium di Jakarta, sebelum akhirnya merasakan kemenangan di Thailand dan Filipina serta bersaing dengan shooter internasional di Afrika.
Baca Juga: Muskab Perbakin Kubu Raya Jadi Momentum Pembenahan Organisasi dan Pembinaan Atlet Menembak
Kini, usianya masih muda. Jalan yang harus ditempuh pun masih panjang. Target berikutnya bukan hanya mempertahankan prestasi, tetapi terus berkembang agar mampu bersaing di level nasional dan membawa nama Kalimantan Barat pada panggung olahraga terbesar di Indonesia.
Telur dan Cerita di Balik Tubuh Tingginya
Di luar lapangan tembak, Yudhistira ternyata memiliki kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah soal makanan. Dengan postur sekitar 1,82 meter, ia mengaku hampir setiap hari mengonsumsi telur.
Telur dadar, telur rebus hingga telur ceplok menjadi bagian dari menu yang cukup sering disantapnya. "Ya mungkin karena hampir setiap hari saya makan telur. Telur dadar, telur rebus, telur ceplok, itu saya makan," katanya sambil bercanda.
Ia mengakui faktor keturunan juga kemungkinan berpengaruh terhadap posturnya. Namun, bagi seorang atlet, asupan makanan dan protein tetap menjadi bagian dari rutinitas yang tidak bisa diabaikan.
Sebab, di balik penampilan tenang seorang shooter ketika berdiri di garis tembak, tubuh tetap membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang prima. Pada akhirnya, perjalanan Yudhistira bukan semata tentang seberapa cepat ia mampu menarik pelatuk.
Ini tentang bagaimana seorang anak yang mulai mengenal olahraga menembak sejak usia belasan tahun belajar dari setiap kegagalan, merekam setiap pertandingan, memperbaiki setiap gerakan, kemudian perlahan berani menghadapi shooter dari berbagai negara.
Baca Juga: Ekshibisi Menembak di Makodam XII/Tpr, Perkuat Soliditas Antarinstansi Kalbar
Kini, Kalimantan Barat menjadi nama yang ingin dibawanya dalam perjalanan tersebut. Dari lapangan tembak di Jawa, Jakarta, Thailand, Filipina hingga Afrika, Yudhistira sedang membangun satu perjalanan panjang: menjadikan setiap peluru sebagai bagian dari proses menuju prestasi. (den)
Editor : Miftahul Khair